-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kami, Warga Terpapar Covid-19 Terbanyak di Indonesia

Selasa, 07 April 2020 | 10:14 WIB Last Updated 2020-04-07T03:40:51Z
Kami, Warga Terpapar Covid-19 Terbanyak di Indonesia
Ilustrasi: domtomnews

Hampir setiap gang, ada penutup jalan. Siapapun yang masuk dan keluar, harus diperiksa identitasnya. KTP diperlihatkan kepada petugas. Jika bukan KTP kelurahan, diusir. Kalau warga kelurahan, ditanyakan tujuan kepergiaanya ke luar rumah. Urusan yang bukan makanan dan minuman, tidak diperkenankan.

Bagaimana perasaan kami? Sungguh menggetarkan. Cemas. Tapi tidak panik. Panik, menurunkan imun tubuh. Bikin akal sehat tak karuan. Kami diberitahu, waspada dan hati - hati. Namun, tidak boleh berlebihan. Pikiran kami harus dijernihkan untuk tetap optimis. Kami,  diberitau bahwa banyak orang yang sudah disembuhkan. Tertular atau tidaknya virus covid-19, tergantung kemampuan menjaga diri.

Saya ingat, para petugas medis menasihati bahwa masyarakat dan pemerintah adalah garda terdepan menjaga diri supaya tidak tertular virus dan para medis adalah pertahanan terakhir. Jika melewati pertahanan itu, hidup diambang kematian. Karenanya, sebagai garda terdepan kami berlomba untuk menjaga diri sendiri dan orang di sekitar kami. Batuk dan bersin bagi kami, sungguh menakutkan dan memalukan dari pada kentut atau pipis di tempat umum. 

Kami lihat, para petugas kelurahan, warga kelurahan bahu-membahu memberi kenyamanan buat warga sekitar. Kami diminta untuk saling memotivasi bukan mengolok para tetangga yang sudah terpapar covid-19. Jika saja, kami tahu ada orang yang mengalami kesulitan makanan dan minuman, pasti ramai-ramai membantu. Yang kami tahu, adalah saat mencekam seperti ini, kami harus berusaha sebaik mungkin untuk memberikan harapan hidup bagi semua orang. Kami sadar bahwa hidup sendiri dan orang lain, itu sangat berharga.

Jika saja, warga kelurahan pergi ke tempat lain, kami akan ditakuti jauh melebihi setan. Bahkan, mungkin melebihi ketakutan akan kematian itu sendiri. Ada yang bilang, jangan mencoba membunuh kami. Mereka panik dan kehilangan sifat kemanusiaannya. Begitulah, sikap kewaspadaan berlebihan.

Oleh: Ricky Rikard Sahajun
Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
×
Berita Terbaru Update