-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemiskinan Tak Mengubah Kemanusiaan, Perbedaan Tak Membentengi Persaudaraan

Kamis, 23 April 2020 | 20:11 WIB Last Updated 2020-04-23T13:11:40Z
Kemiskinan Tak Mengubah Kemanusiaan, Perbedaan Tak Membentengi Persaudaraan
Pater Tuan Kopong MSF

Kemiskinan seringkali menjadi alasan untuk mengkampanyekan bantuan dan sumbangan. Atas nama kemiskinan, banyak insan berlomba menjadi pahlawan kemanusiaan. Kemiskinan menjadi promo paling menggugah rasa untuk berbela rasa.

Ya kemiskinan memang menjadi alasan jitu untuk berbakti. Namun kemiskinan juga menjadi lahirnya diskriminansi. Semuanya bersuara tentang kemiskinan namun kemiskinan jemaatnya, kemiskinan keluarga dan orang terdekat.

Kemiskinan sejatinya tak mengenal agama, juga tak mengenal keluarga ataupun kerabat dekat. Namun itu pula yang terjadi. Semua baik Katolik, Islam, Hindu, Budha, Protestan, Konghuchu dan lainnya bergerak cepat memberikan solidaritas namun kebanyakan solidaritas adalah solidaritas bagi jemaatnya sedang tetangga yang merintih sakit dalam keluh tak berdaya hanya bisa memandang dalam tatapan sendu lantaran berbeda. Ya semua punya alasan; “jemaatku” adalah prioritas.

Bahkan kemiskinan jemaatpun masih dipilah-pilah, siapa yang baik, dekat dan sahabat saya dialah yang pertama mendapatkan perhatian saya tak peduli rumahnya bagai istana megah dengan sekian kendaraan memenuhi garasi dan jalan-jalan sempit.

Atas nama kemiskinan semua serasa memiliki kewajiban moral untuk berbakti dan berkorban. Namun atas nama kemiskinan pula siapapun kita entah (oknum) imam, kyai, pendeta, biksu dan lainnya menjadi miskin cinta dan kemanusiaan. Atas nama kemiskinan, kita semua merasa bertanggungjawab atas hidup sesama namun tak jarang atas nama kemiskinan kita semua justru menjadi lakon diskriminatif.

Umat, keluarga, kenalan, sahabat dekat, rajin ke gereja, mesjid, wihara, klenteng seringkali menjadi prioritas dari bakti atas nama kemanusiaan namun bagi mereka yang tak masuk dalam kriteria dan daftar prioritas kita menjadi yang terakhir atau dalam bahasa kita kalau ada kelebihan mendapatkan perhatian kita.

Seringkali atas nama kemiskinan dan kemanusiaan namun tak jarang ada juga nepotisme dan kolusi yang sedang diperankan di sana. Semoga ini tidak terjadi karena bagaimanapun; “Kemiskinan Tak Mengubah Kemanusiaan, Perbedaan Tak Membentengi Persaudaraan”.

Untuk kita umat Katolik, semoga kita tidak lupa atau pura-pura lupa dengan Manifesto Paus Fransiskus; “Saya lebih suka Gereja yang lecet, terluka dan kotor karena telah turun ke jalan-jalan, dibandingkan sebuah Gereja yang tidak sehat karena dikurung dan menggantungkan diri pada keamanan diri”.

Manila: 22-April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update