-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kesaksian Jumat Agung di Ruteng: Tiga Tamu Berjubah Coklat Misterius

Senin, 20 April 2020 | 19:15 WIB Last Updated 2020-04-20T15:05:01Z
Kesaksian Jumat Agung: Tiga Tamu Berjubah Coklat Misterius
Gereja Mbaumuku di Ruteng (Foto: facebook)

Pada masa pencegahan penyebaran virus corona yang mewabah seluruh dunia ini, pemerintah di hampir semua negara melarang warganya untuk berkumpul, termasuk ibadat bersama di gedung ibadat, di gereja, mesjid, kelenteng, pura dsbnya, di mana saja, di kota, semua pelosok tanpa kecuali, termasuk di kota kecil Ruteng, Flores, pulau yang dihuni mayoritas Kristen Katolik. Ibadat perayaan tetap dilakukan di gedung ibadat, tapi tidak melibatkan banyak umat. Di gereja misalnya, perayaan itu hanya dilakukan oleh pastor sendiri dan beberapa petugas saja. 

1. Sebuah Kesaksian

Romo Dr. Max Regus yang kesehariannya sebagai dosen di UNIKA St.Paulus Ruteng itu, menulis sebuah pengalaman di akun facebooknya ketika ia membantu pastor kepala di dalam ruang gedung gereja Kristus Raja di Mbaumuku, Ruteng, merayakan peringatan Jumat Agung kematian Yesus Kristus tanggal 10 April 2020. Ia sendiri bukan saksi atas satu hal yang tidak biasa, ia hanya mendengar dari dua orang saksi, seorang suster dan seorang pria yang berprofesi wartawan saat perayaan itu. Mengapa sampai Romo Max Regus membagikan pengalamannya itu di facebook? Hampir pasti ia 'tidak akan melupakan hal itu' hingga hari ini dan mungkin sebuah catatan yang melekat sepanjang ziarah imannya.

Romo Max Regus menulis dengan judul " Tamu Berjubah Coklat di Hari Jumat", dalam narasi sbb: Paskah sudah lewat. Namun, satu dua cerita masih tersisa. Baiklah saya berbagi cerita yang berbau ‘supranatural’. Hari Jumat Agung, 10 April 2020, bersama Pastor Kepala Paroki, Ruteng, RD. Fernando “Bosot” Mayus, saya merayakan Ibadah Jumat Agung di Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Keuskupan Ruteng. Yang hadir ibadat saat itu tidak lebih dari 15 orang (Pastor, misdinar, pembawa Kisah Sengsara Tuhan, 4 orang suster, 3 orang anggota DPP, dan 2 orang wartawan). Sesudah Ibadat, ada sedikit kasak-kusuk. Seorang suster yang hadir menanyakan perihal kehadiran 3 orang berjubah coklat, yang kemungkinan hadir di dalam Gereja saat bacaan Kisah Sengsara. Suster sempat melihat ketiga orang yang berjubah ini berjalan di samping timur gereja. Dia hanya menduga ketiga orang itu masuk dan duduk di bagian belakang, namun hingga berakhir Ibadat Jumat Agung, 3 orang tamu berjubah itu tidak nampak di dalam Gereja. Namun, seorang saudara jurnalis yang hadir saat itu memberikan kesaksian yang lain. Dia melihat 3 orang berjubah coklat duduk di beberapa barisan bangku paling depan dekat altar dan panti imam. Namun, ketika dia akan mengambil gambar/film, sesudah dia berkeliling mengambil gambar dari posisi lain, 3 orang berjubah itu sudah tidak ada. Dua dari kami, suster dan sama saudara yang lain, melihat 3 orang ini dengan posisi berbeda. Sementara, kami semua, selain mereka berdua, tidak melihat siapapun di dalam gedung gereja yang besar dan bisa menampung 1500 orang itu. Sesudah kejadian itu, banyak penafsiran muncul di antara kami. Saya hanya memberi judul atas kehadiran dari 3 orang berjubah coklat ini sebagai ‘tamu tak diudang, pulangpun tak diantar’. Seorang imam senior, ketika saya tanyakan apa arti peristiwa itu, beliau hanya menjawab, ‘mungkin’ mereka adalah 3 malaikat Agung. Ketika saya menyampaikan tafsiran ini kepada Bapa Pastor Paroki, dia bilang, muka macam kita dua yang pimpin ibadat Jumat Agung, 3 malaikat agung bisa datang kunjung ka….!  Ini hanya sekedar membagi kisah seputar Paskah. Untuk detailnya, Anda bisa menanyakan kejadian ini kepada Bapa Pastor Paroki Kristus Raja Mbaumuku Ruteng. Salam Hari Minggu, Tuhan memberkati kita dan DIA tidak pernah meninggalkan kita ".

Begitu kisahnya. Meskipun saya sendiri sebatas tahu dari membaca kesaksian ini dari orang yang mendengar kesaksian pula, dan pembagi kisah itu yaitu yang bersangkutan berada di panti imam perayaan itu, saya tersentuh juga, apalagi peristiwa itu ditafsir oleh Max Regus sebagai sesuatu yang "supranatural". Dan atas alasan itulah saya menulis hal ini, mengaitkannya dengan hukum pembuktian (ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah dulu ), serta pengalaman sebagai orang beriman Kristen Katolik, maka saya tuangkan sebagai berikut.

3. Apa Syarat Benarnya Kesaksian?

Kesaksian baru sah jika minimal ada 2 (dua) orang. Sebaliknya, kesaksian 1(satu) orang berlaku hanya dia seorang, dalam bahasa hukum, kesaksian satu orang itu tidak dapat diakui, tidak diterima umum. Dan pemberi kesaksian yang benar adalah orang yang secara langsung menyaksikan sendiri sesuatu hal atau peristiwa. Lalu para pendengar? Pada posisi pilihan, percaya atau tidak percaya. Jika hal ini berkaitan dengan suatu keyakinan, maka keputusan untuk memilih salah satu dari dua pilihan itu tergantung 'hati nurani'. Tapi meskipun ada minimal 2 (dua) orang saksi atas suatu peristiwa, bisa juga pada akirnya tidak benar kesaksian itu jika keduanya menyampaikan saksi palsu atau dusta.

Iman Kriatiani tumbuh hingga hari ini karena kesaksian langsung para rasul atas peristiwa. Mereka saksi atas kehidupan Yesus, perkataan dan perbuatannya, saksi atas peristiwa pengadilan, penyaliban, kebangkitan, kenaikan. Saksi itu bukan saja 2 (dua) orang tapi banyak saksi, yang saat ini tertuang dalam buku Injil yang ditulis oleh 4 (empat) orang yakni Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes. Kita meyakini kebenaran hal itu, karena membaca atau mendengar kesaksian-kesaksian para pendahulu tersebut, plus pengalaman iman pribadi yang nyata atas kebenaran itu. Tapi ketika pada waktu itu beberapa murid Yesus bersaksi bahwa Yesus sudah bangkit dari kuburnya, ada seorang murid yang meragukannya, Tomas, yang berkata, "ah, saya tidak percaya omong pengalaman kesaksian kalian ya  Pak Petrus, Pa Yohanes, Pa Andreas, Bu Maria, Marta, Bu Maria Magdalena. Saya baru percaya ketika Yesus itu menampakkan diri di hadapan saya di sini, tidak hanya itu, saya mau mencucukkan tangan saya di bekas luka tangan kena paku, kaki dan lambungnya" ( Yoh.20:25). Delapan hari setelah itu, saat para rasul berkumpul dalam ruangan terkunci, ada Tomas, tiba-tiba Yesus menampakkan diri dan bilang sama Tomas, "Ini saya, cucukkan jari dan tanganmu ke bekas luka-lukaKu". "Ya Tuhanku!", kata Tomas. Ia baru percaya. "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" kata Yesus kepada mereka (Yoh.20:29). Kata-kata ini ditafsirkan untuk semua orang Kristen yang kemudian percaya selain para saksi zaman itu, termasuk pengikut-Nya hingga hari zaman now. Intinya, percaya pada kesaksian para saksi, dengan mendengar para saksi, dan kesaksian mereka diyakini 'benar' adanya.

3. Tiga Orang Tamu "Supranatural"

Di atas disebutkan oleh Rm. Max Regus, kisah ini berbau "supranatural'. Saya sedikit membuat analisa berdasarkan nalar saya, yang dikaitkan dengan cerita di alkitab, terutama  yang berkaitan dengan tri (3) dalam trinitas itu. Apakah kisah itu ada kaitan atau mirip bahkan sama dengan yang terjadi tempo dulu, saya tidak tahu persis. Tapi saat menulis ini saya terdorong untuk bernalar ke arah itu. Ingat kisah Abraham ketika duduk santai di bawah pohon Mamre di depan kemahnya? Ia kedatangan 3 orang tamu tak diundang. Abraham membiarkan saja datang ke kemah. Ia memberitahu Sara, istrinya untuk menyiapkan makanan, disuruh mengambil 3 sukat gandum untuk dimasak untuk disajikan kepada 3 tamu itu. Dan kisah selanjutnya, salah satu dari 3 orang itu berkata, "Aku akan datang lagi tahun depan dan mendapati istrimu sudah punya anak". Sara mendengar ucapan itu, namun ia ketawa cengingir 'tidak percaya', karena usianya sudah tua dan merasa tidak akan punya anak. Namun apa yang terjadi, 'Sarah hamil dan melahirkan anak laki-laki yang bernama Isak. Alkitab tidak sempat mencatat tentang kedatangan 3 orang itu pada tahun depannya di kemah Abraham. Yah, mungkin penulis Alkitab tidak merasa itu penting untuk diceritakan. Hanya diceritakan bahwa ketiga orang tamu tak diundang itu diantar pulang oleh Abraham hingga ke tempat di mana ketiga orang itu akan pergi ke Sodom dan Gomora, tempat yang dikenal dengan manusia yang hidup senang dalam lumpur  dosa. Dari percakapan singkat dengan Abraham, ketiga orang itu pergi menghukum manusia di situ. Abraham kemudian meyakini bahwa ketiga orang itu adalah malekat utusan Tuhan, bahkan Tuhan bersama mereka saat itu, dan Abraham terkesan 'sedang berkomunikasi dengan Tuhannya' (Kejadian 18:1-33). Berdasarkan itu maka bolehlah saya sebut bahwa terdapat tri (tiga) dari iman saya pada Trinitas dari kisah ini.

4. Tiga (3) Orang Tamu Berjubah Coklat

Ini nalar liar saya untuk kisah yang disaksikan oleh dua orang di Gereja Mbaumuku di Ruteng itu, bahwa kedatangan tamu tak diundang di dalam ruang kemah Ibadat itu, rasa2nya mirip dengan 3(tiga) tamu yang juga tidak diundang ke kemah Abraham. Bedanya adalah : ketiga orang berbaju coklat yang tampak di Gereja Mbaumuku itu tidak berbincang-bincang dengan pastor kepala dan kepada pastor Max Regus. Mendengar kesaksian 2(dua) orang itu, Max Regus sebut "berbau supranatural", tamu tak diundang datang, juga pulangnya tak diantar. Selanjutnya nalar liar saya begini : Jika ketiga orang itu adalah malekat agung dari surga, malekat Gabriel, Mikael dan Rafael atau Tuhan sendiri  yang membawa suatu kabar ke Dioses Ruteng, wilayah keuskupan dari Mgr. Dr. Sprianus Hormat ini, maka kira-kira tahun depan akan suatu surprise yang dalam pikiran manusia mustahil terjadi. Kepada Sara dibilang, "tahun depan Aku datang lagi, dan mendapati engkau sudah punya anak". Saya tunggu-tunggu, semoga "janji" yang sama akan terjadi tahun depan di Diosesan Ruteng ini. Jika itu terjadi, Romo Max Regus, jangan lupa berbagi kisahnya ya! Dan persis pada masa wabah virus-corona yang mematikan ini, ketiga orang berjubah coklat itu pergi entah ke mana. Apakah mereka pergi ke Sodom dan Gomorah zaman now? Nah, untuk bagian ini, nalar saya sudah habis bro!

5. Berbahagialah yang Tidak Melihat, Namun Percaya (Yoh.20:29b)

Seperti saya katakan di atas tadi, bahwa ucapan Yesus kepada rasul Tomas itu berlaku bagi kita zaman now, yang berada pada posisi "percaya & yakin" akan suatu kebenaran berdasarkan cerita, baca dan mendengar para saksi in case. Dan mungkin perlu ditambah juga, bahwa lebih bahagialah orang percaya karena mendengar dari pendengar pula. Dalam kisah Rm. Max Regus ini, saya, dan mungkin anda juga, sudah cukup lebih berbahagia dengan mendengar dari pendengar kesaksian. Yah, karena untuk mengecek kebenaran kisah itu di pastor kepala paroki Kristus Raja di Mbaumuku, atau berjumpa dengan dua orang saksi itu, tidak semudah yang dikatakan. Butuh perjalanan jauh, butuh waktu, belum lagi kondisi alam yang tercemar virus corona dengan peraturan social distancing ini. 

Jika diterima bahwa ketiga orang tamu berjubah coklat 'supranatural" itu mirip atau sama dengan tiga tamu tak diundang ke kemah Abraham, maka reaksi kita pada pilihan: 1) seperti Abraham, atau 2) ketawa cengingir 'tidak' percaya seperti Sara. Jawaban pasti tentu pada perjalanan waktu, dengan tetap pada keyakinan bahwa "Tuhan tak pernah ingkar janji, dan Dia selalu melindungi serta menyertai umatNya yang setia, hingga akhir zaman. Seperti diketahui, bahwa pada bulan sebelum Paskah, ada gathering seluruh Uskup Indonesia di Ruteng untuk pentahbisan Uskup baru Mgr. Siprianus Hormat, padahal ada sudah mulai ada himbauan pemerintah untuk tidak berkumpul. Acara pentahbisan itu berlangsung di tengah ancaman kematian oleh persebaran virus corona. Tercatat bahwa dua minggu setelah perayaan tersebut, belum terdeteksi adanya penderita virus corona di kota Ruteng, dan juga para peserta yang hadir saat itu. Untuk hal terakhir inipun saya hanya mendengar cerita teman-teman, dan saya percaya kebenaran cerita itu.

*** catatan selagi stay at home saat wabah virus corona di Labuan Bajo

Oleh: Jon Kadis
×
Berita Terbaru Update