-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Harus Memilih (Karya Fergi Darut)

Minggu, 05 April 2020 | 12:53 WIB Last Updated 2020-04-05T05:53:43Z
Ketika Harus Memilih (Karya Fergi Darut)
(Foto istimewah: delusiin-oshi-jkt48)

(Berkali-kali aku ingin memperkenalkanmu kepada satuan terkecil dari mencintai-Tidak setiap Tanya ada jawabannya-Tidak setiap rindu ada obatnya.)

Jika ada ketulusan yang selalu datang menyapamu setiap pagi, mengirimkan pesan singkat ‘apa kabar sayang’, semoga rinduku mampu membuatmu bertahan, itu tidak lebih dari caraku menjagamu dari keterangisan rindu. Aku sedang meyakinkan diri-Rindu yang baik adalah rindu yang selalu berusaha mempertahankanmu. Tanpa peduli–Sebuah keinginan memiliki pasti terlahir dari sepasang awal dan akhir.

Apa kamu pernah tahu bagaimana rasanya dari keinginan mempertahankan dengan sepenuh hati, merencanakan satu demi satu perihal menjaga waktu, namun ternyata pada akhirnya diam-diam pergi? Apa kamu pernah tahu bagaimana sakitnya dari keinginan melipat jarak dalam doa, biar hatiku dan hatimu selalu dekat, namun pada akhirnya engkau menusuk luka di setiap doa-doaku?  

Aku tahu rasanya ditinggalkan, pahitnya dikhianati dan susahnya dilupakan-Lalu menyimpan racun di setiap rindu yang pernah duduk bersamamu di bangku halaman langit malam. Tak ada pilihan lain selain berpura-pura terlihat baik-baik saja. Berdamai dengan diri. Sambil menaruh harap-Semoga engkau cepat-cepat memberi makan rasa yang telah kau sia-siakan selama ini. 

Namun, semakin aku berusaha terlihat kuat, semakin menjadi-jadi engkau menggirim aku perasaan sepi. Semakin aku berusaha menerima, semakin bertubi-tubi engkau menusuk belati, mengiris dan mencabik-cabik rindu yang selalu terpatri dalam hati. 

Aku selalu berusaha untuk tidak pernah menyerah memilikimu. Namun, seakan-akan engkau meragukan apa yang aku rasa. Hingga aku lelah menahan ego, sebab satu-satu isyarat terpanjang mencintaimu adalah memperjuangkan sedekat-dekat mungkin jarak yang pernah memisahkan doa-doa kita. Namun, dalam doa pun engkau meracuni perasaanku. 

Hampi setiap pagi aku selalu bertanya perihal kabarmu. Mungkin dengan itu, engkau mampu menerima perasaan cintaku apa adanya-Harapanku semata dan sia-sia belaka. Sebab sudah berhari-hari engkau tidak pernah membalas SMS dan bertanya perihal kabarku. 

Aku tahu tidak mudah bagiku untuk berpura-pura baik-baik saja. Memilih diam, meski tak mudah. Sementara hati selalu memanggilmu pulang. Membuat puisi dan membacanya bersama-sama  saat senja menyapa, menggendongmu, memeluk erat-erat tubuhmu yang terkaku bersama datangnya angin sepoi-sepoi malam dan mungkin sekali-kali berkejar-kejaran saat datangnya hujan.  Seakan-akan semua catatan kusam. Hampir setiap teman-temanmu kucari tahu tentang keberadaanmu. Namun tak ada satu pun yang tahu. Engkau pergi saat-saat rindu tertumpuk oleh catatan seputar kenangan mencintai. Apa mungkin setiap pelukan tidak mampu menahan panasnya hari dan dinginnya angin, sehingga engkau memutus pergi dan mencari pelukan-pelukan yang lain? 

Aku harap ada yang lebih mulai dari mencari kehangatan dari pemaknaan sebuah pelukan dari kepergianmu. Sebab tubuh yang letih untuk tidak lupa mencintaimu ini akan terasa luka bila kegagalan dari sebuah kepergianmu adalah engkau yang tak mampu menepatkan pelukanmu pada tempat yang tepat dan rindu yang memadai untuk menghidupkan perasaan sayangmu. Kepergianmu akan terasa menang, jika engkau mampu menepatkan rindumu pada tempat yang tepat yang memampukan kamu dan dia menjadi sepasang kekasih yang menua bersama datangnya waktu, seberat apa pun tantangan datang menjemputmu pulang pada pelukan-pelukan yang lain. 

Sebagaimana harus memilih, aku harus mampu memutuskan yang terbaik, baik untukku dan untukmu. Aku hanya berpesan, pergi dan kejar setiap keinginanmu untuk berbahagia. Kebahagiaan terbesarku, ketika ada yang mampu memberimu sapu tangan dari setiap air matamu dan selalu membuat dirimu tersenyum. Kebahagiaan terbesarku ketika ada yang mendoakanmu dengan setia, menyebut namamu bagaikan jalan pulang sebuah kepergian. Dan kebahagiaan terbesarku ketika engkau mampu menemukan yang terbaik dari keinginan memiliki. 

Oleh: Fergi Darut
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Sekarang beliau tinggal di unit Mikhael-Ledalero.
×
Berita Terbaru Update