-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“LDR, Rindu yang Berujung Maut” (Cerpen Rian Tap)

Kamis, 16 April 2020 | 14:56 WIB Last Updated 2020-04-16T07:56:00Z
“LDR, Rindu yang Berujung Maut” (Cerpen Rian Tap)
Ilustrasi: puisi-tegar

Oleh: Rian Tap

Hujan masih setia turun dihadapan kelopak mataku, butiran memantulkan binar jingga lelanggit sore. Bayang-banyangku juga masih tampak pada biasnya riani hujan. Senja itu masih menyoroti ekor mataku, juga pondok tua tempat aku berteduh. Gemericik air sunyi terus terdengar menerjang atap pondok tua itu. bunyinya mengusik pikiranku, mengingatkanku tentang masa-masa silam penuh kenang.

Hujan dan pondok kecil di pinggir kota Lembor ini telah meninggalkan kenangan manis yang penuh romantik, tak ada ubahnya bagai hujan yang berlalu meninggalkan genangan pada setapak yang berlubang. Di sini aku masih mematung sunyi, duduk di atas kursi pondok berwarna biru yang kian usang termakan usia tanpa seorang pun. Aku sedang menunggu. Ya, menunggu kehadiranmu di balik rinai rintik hujan yang sedang mengguyur rindu. Hujan dan pondok ini masih sama seperti yang dulu. Seperti empat tahun yang lalu, empat tahun saat pertama kalinya engkau dan aku bertemu dalam saling jumpa. Saat engkau duduk di sampingku, di antara orang-orang yang sedang menunggu. Engkau menunggu angkutan kota, dan menunggu reda riani hujan, begitu juga dengan aku. Namun, angkutan menuju kota yang kita tunggu itu tak kunjung tiba. Engkau bingung mau berbuat apa, hingga akhirnya, engkau mengajakku untuk berkenalan.

Natalia, begitu aku memanggilmu. Engkau menceritakan tentang dirimu yang kian idealis. Engkau bercerita tentang rasa bosan yang menghantui dirimu, dikala angkutan ke kotamu itu tak kunjung ada. Seperti biasanya di sore menjelang malam ini, hujan selalu turun dengan penuh gesa. Rupanya ia tak mau bersahabat dengan kita. Seperti biasa juga, diperpindahan waktu menuju senja ini, engakau dan aku saling menunggu.

Engaku tahu? Aku masih ingat tentang cerita kita yang dulu. Saat aku mengungkapkan isi hatiku padamu, di sebuah pondok yang satu dan sama ini. pada kesunyian pondok-tak kala hujan tiba dan tak aku jumpa orang-orang sedang menunggu jemputan, aku memegang tangan mungilmu sambil berucap;”Aku mencintaimu enu Natalia”. Engkau menjawab; aku juga mencintaimu nara, dibarengi sesimpul senyum yang penuh eden  surga. Pokoknya senyum termanis yang pernah aku lihat.

Ya,  begitulah, terasa cepat bagiku memberi rasa. Cintamu datang terlalu cepat dari apa yang aku bayangkan. Hingga, hadirmu bagaikan mentari yang memberikan kehangatan saat hujan membawa kedinginan dan pelangi yang melukiskan keindahan kala hujan telah sirna dari pandangan. Satu hal yang membuat aku luluh tak berdaya adalah perhatianmu. Aku masih ingat saat engkau menelponku pagi itu. Engkau bilang, jangan lupa sarapan, ya. Aku selalu menjawab; ok, sayang, engaku juga, ya.

Engkau selalu tahu, bagaimana membuat momen sederhana menjadi istimewa. Lewat hal-hal spele. Engkau membuat aku luluh tak berdaya, tak ubahnya seperti sebongkahan es yang tersorot surya. Kini kita dipisahkan oleh jarak yang terbentang tanpa batas, engkau kuliah keperawatan di salah satu Universitas ternama di Pulau Jawa. Dalam canda engkau salalu berkata aku kuliah untuk menjadi seorang perawat untuk merawatmu dan anak-anak kita nanti, sampai menua. Namun, aku tahu itu idaman ayahmu, karena aku menginginkan engaku melajutkan kuliah di STKIP Ruteng, biar kita sering saling jumpa dan berpapasan dalam kata dan raga. Aku tidak mengkandangimu dengan melarang engkau untuk tidak kuliah di jawa. Hanya satu yang aku pinta jaga hati dan mata. Ingat ada aku yang setia menantimu di sini. Kini relasi kita hanya sebatas pada wattsapp dan facebookkan. Itu cukup berat bagiku dengan melepaskanmu sendirian di luar sana. Ya, engkau ada di pulau jawa dan aku di sudut kota Lembor yang paling sunyi.

Aku selalu merapal namamu dalam setiap ujud-ujud doa harian agar rindu bersua denganmu capat terwujud. Liburan bulan Juli engkau datang menemuiku, dengan bergaya khas kota jawa berbalut senyum yang anggun. Rasa bahagia yang tak terbilang dari kedua bola mata kita. Setiap sore kita berjalan menyusuri bangunan tua kota Lembor dengan segelentik canda dan tawa di atas Motor metic putih milikmu.

Pada anniversary kita, aku sudah menunggumu di pondok penuh kenangan itu. Engkau bilang pada ku, engkau akan memberikan sesuatu. Aku sudah menebak-nebak dalam benak. Bertanya tentang apa yang engkau ingin berikan. aku tak sabar menunggu. Namun, engkau tak jua datang menemuiku.

Lelangit sore itu mulai merenik-renik, seakan ingin memuntahkan air laut, sekitar pukul lima sore engkau tak juga kunjung tiba. Padahal, engkau berjanji akan menemuiku jam empat. Tak heran bila hatiku senantiasa tergoncang. Entah kenapa, aku pun tak tahu. Mungkin karena tidak sabar aku menanti kejutan darimu, atau ada firasat lain yang kian menyusupi pikiranku.

Jreeeeeeeeeeerrrttttttt……handphone bernyala. Ada namamu di layar. Tanpa pikir panjang, aku mengangkatnya, “Hallo, enu sayang. Kemana saja aja kau ini?

Maaf, ini pacarnya Natalia ya?, suara itu menjawab. Aku merasa aneh. Suara tak seperti suaranya. Nadanya juga, seperti orang cemas dan kebingungan.

“Iya, mohon maaf, ini dengan siapa ya?” 
“saya Vino”, jawabnya.

Seperti dugaanku, suara itu bukan suaranya. 
“kae, ini darurat. Teramat darut.

Jawaban orang asing di telepon itu sontak membuat jantungku berdegup kencang. Pikiranku kemana-mana. Banyak pertanyaan yang singgah di benak. Tak sudi aku terpuruk dalam keruhn. suara itu menyahut. “ Aku Vino, temannya Natalia”, begitu sahutnya. 

“Ohhh, adek temannya Natalia ya?, lalu di mana Natalia?” tanyaku. Suara di balik telepon itu tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menyahut, “ saya tahu, ini pasti berat buat ite kae. Tetapi kae harus menerima dengan lapang dada. Kae juga harus sadar bahwa segala yang ada di dunia ini hanya milik Tuhan”. Tak kuasa aku mendengar. Sungguh, jantungku berdegup begitu kencang. Ia belum menjelaskan peristiwa apa yang membuatnya berkata demikian, walau sebenarnya aku sudah menduga. Menduga dengan hati dan perasaan bahwa hal buruk telah terjadi padanya. Duganku cukup benar.

“Natali telah meninggal karena kecelakaan, kae”, jelas vino.
Aku mematung dalam sunyi. Mulutku terasa di kunci oleh takdir. Hatiku hancur berkeping, di lebur oleh kematiannya. Engkau tahu?

Engkau membuat aku berpikir. Aku berpikir dalam tatapan kosong. Mengapa engkau pergi saat cintaku telah tinggi menjulang. Mengapa engkau harus meninggalkan aku begitu cepat, secepat halilintar yang membelah angkasa? Aku tidak terima. Aku belum bisa menerimanya. Aku belum bisa  menerima kepergianmu. Kala pikiranku masih  sekeruh genangan air di jalan berlubang, dekat pondik itu. vino menjelaskan padaku sebuah peristiwa yang membuatnya harus berpulang. Kata vino, waktu itu dia sedang terburu-buru mengemudikan motor Yamaha metic putihnya, aku tahu, sebab sejak matahari hampir jatuh ke barat, saya kebetulan berada di belakangnya.

“Peristiwa buruk itu telah terjadi saat laju kecepatan motornya terhentikan oleh truk tangki yang berlawanan arah dengannya. Dia bermaksud untuk menyalib mobil pick up yang berkuasa di depan. Entah karena tidak teliti atau karena apa, dia menyalib mobil itu. lantaran hujan semakin menghujam jalan, hingga kaca helmnya tak nampak jelas dalam berpandang, truk tangki itu melenyapkan masa depannya”, begitu kata vino. Aku ingat satu hal yang vino sempat katakan di via telepon. “Natalia telah meninggal”. Banyak orang yang datang mengerumuninya. Sebagian orang menghampiri supir truk tangki untuk meminta pertanggungjawaban. Ada satu hal yang  aku pikirkan tentang Natalia, ucap vino, ada jeda beberapa lama.

Natalia terburu-buru pasti mau menemui ite, kae. Kelihatannya, ia seperti membawa sebuah kado, sebab aku menemukan bungkusan kado berbalut kotak merah di saku jaket miliknya. Mengetahui hal itu, hujan sore ini semakin menjadi-jadi. Airnya sampai tumpah ruah di pipiku. Engkau telah meninggal. Meninggalkan aku sendirian di sini. Di sebuah pondok kecil tempat orang-orang sedang menunggu. Teramat banyak orang di sekelilingku sedang menunggu. Orang-orang itu duduk dan sebagian lagi berdiri dengan raut muka yang beragam; cemas, bosan, bingung dan semacamnya. Aku tahu, mereka sedang menunggu, seperti halnya diriku. Bedanya, mereka menunggu sesuatu yang pasti, sedangakan aku menunggu sesuatu yang semu.

Rinai hujan masih bersenandung. Aku masih duduk termenung di pondok. Melihat bayanganmu melalui pantulan-pantulan butiran air hujan yang berhamburan. Dengan jeli aku amati disetiap jatuhannya. Terbekas secercah rindu yang menghantui. Rindu akan hadirmu. Rindu akan belaianmu. Karenanya, aku seperti hanyut dalam aliran air hujan itu, dan bermuara ketelagamu. Aku masih di sini dan akan tetap di sini, sampai hujan reda. Sampai kau pulang menemuiku. Walau aku tahu, itu tak mungkin terjadi. Natalia selamat jalan, cintaku padamu masih terbias pada doa yang selalu aku sujud dalam rindu. 

Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku. Asal lembor-Manggarai Barat.
×
Berita Terbaru Update