-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Magdalena, Kenangan Dari Kunang-Kunang (Puisi-Puisi Sonny Kelen)

Jumat, 10 April 2020 | 23:30 WIB Last Updated 2020-04-10T16:30:54Z
Magdalena, Kenangan Dari Kunang-Kunang (Puisi-Puisi Sonny Kelen)
 Sonny Kelen

Oleh: Sonny Kelen

Magdalena (1)

Puisi itu gugur di musim hujan
Yang kau cintai melebihi rintiknya
Kopi itu mengempas sebelum sempat kau sesap
Dan membiarkan pahitnya bermenung tanpa ucap
Bagaimana menerjemahkan kedukaan
Segenap nafsu yang ujungnya hanyalah derai?
Meski sekedar tentang cuaca dan kata-kata
Yang menurutmu semakin menggurita dalam jemu
Narasi-narasi bergulir tanpa henti
Membagi-bagi gelap dan merejang teriak dari semak
Sedang di ranjang kau masih sibuk menghitung
Berapa banyak lelaki yang pernah melukai tubuhmu

Ledalero, 2020

Magdalena (2)

Tenangkan kakimu
Yang menjulang pada mata serdadu
Dan bibir dari senapan yang menuding pelupukmu
Tak lebih runcing dari tangis pertamamu
Biarlah tenang jiwamu, tak saling menggebu
Selebihnya kami hanya ingin bersama
Merayakan hari pertama jatuh di pelantaran sembah sujud
Yang wangi dari narwastu di genggam telapak Yudas
Tapi telah lama kau menyeka kesedihan oleh sepi sendiri
Setelah kau kehilangan darah serupa
(Kau tahu yang dilahirkan ibu hanya seputra
Tunggal dari darah perawan)
Magdalena, malam selalu kelam 
Ketika musim kemarau mulai bercinta dengan hujan dan dingin
Mimpi tak kunjung menua
Datanglah, sebab dikalahkannya lelidah api
Dari kepala bersarung emas perak yang meneriaki ketelanjanganmu
Tetapi pernah tak berani menghujamkan batu ke pucuk payudaramu

Ledalero, 2020

Kenangan Dari Kunang-Kunang

Aku lebih suka menumbuhkan rindu
Pada kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang
Yang menguningkan janji
Sebab waktu nyaring dalam ruang kepala
Aku terperangkap sunyi di luas halaman hati
Sementara disana jalanan ramai kaku
Tatapan aneh berpapasan
Aku lebih suka bercekrama dengan jangkrik
Membenam rindu yang datang sehabis terang
Sebab pagi masih basah oleh mimpi
Kuncup-kuncup daun menetas embun
Salammu bertamu memori
Dan pesan-pesan penuh semoga
Membuatku hanya tunduk membalas
Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu
Demi membunuh kenangan dari kunang-kunang
Yang entah suka diletakkan pada setiap ketetapan

Ledalero, 2020

Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero

×
Berita Terbaru Update