-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mater Dolorosa, Tragedi Via Dolorosa (Antologi Puisi Itho Halley)

Sabtu, 04 April 2020 | 08:00 WIB Last Updated 2020-04-04T01:02:51Z
Mater Dolorosa, Tragedi Via Dolorosa (Antologi Puisi Itho Halley)
Ilustrasi: penakatolik

Mater Dolorosa

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk. 1:38). Sabat keesokan harinya bunga hatiku gugur di bukit Golgota sedang senja  beranjak pamit dari balik bukit-bukit batu dan malam yang hampir menjemput Eleousa, wanita tegar merawat lara yang setia  menunggu senja di bawah kaki buah hatinya. Entah doa apa yang dituturkan dari bening matanya  yang susut? Barangkali doa ibu yang paling tabah buat buah hatinya: “Terjadilah padaku menurut perkataanMu”

Ia menatap hening mata buah hatinya sambil bergumam: “ Nak, tidak tahukah engakau waktu-waktu ini, langit Golgota yang kelabu mulai dingin sekali. Di mata ibu rindu merimbun memeluk hangat  tubuhmu.

Nak, buah hatiku yang manis saban kemarin air mata jatuh di puing-puing Golgota, air mata Mater Dolorosa ibumu yang menyembunyikan nanar pada hatinya dengan rembulan pada senyum bibirnya.”Daun-daun Zaitun gugur dari rantingnya satu persatu saat senja lamat-lamat hilang di bukit batu dan malam sudah tampak.

Kini kita sudah sampai di bibir waktu 
Kau biji gandum yang telah jatuh ke tanah dan mati namun lekaslah menghasilkan banyak buah.

Nak, buah hatiku yang manis di jalan ke Golgata hari kemarin yang ranum, aku ibumu memeluk lara 
dan hening air mata tanpa kata menatapmu sebelum lekas malam beranjak. 

Tidurlah sebentar dipangkuan ibu anakku dan akan ibu nyanyikan lagu kesukaanmu sambil mendongeng bunga-bungga gugur di golgata hari-hari kemarin,  sebab air mata terus mengalir dari  ceruk mata yang memandangmu bunga hatiku

 Tragedi Via Dolorosa

Aku menyusuri jalan-jalan dustamu sementara tubuhku bermandikan peluh bercampur ludah dan darah yang genang pada nanar dua kelopak mataku yang susut. Kamu pasti melihatnya bukan?
Pasti kamu melihatnya juga waktu kamu melempar sinis pandangan ke arah tubuhku dengan cacian 
yang meluap dari mulutmu menghujam berkali-kali  lebih mematikan dari pukulan membuta pada 
sekujur tubuhku. Mungkin tidak lagi puasnya.

Kamu dengan napsumu menyantap daging-dagingku dengan seluruh tubuhmu. Memberi sobekan di sekujur tubuhku sampai remuk segala tulang-tulang. 

Kamu pasti melihatnya waktu kamu tersenyum memendang tangan-tanganmu yang lihai melucuti 
Pakianku dan tubuhku kamu pertontonkan. Di puncak hasratmu kamu begitu menggeliat puas. Waktu-waktu selanjutnya aku terkapar. 

Kamu sendiri benar - benar mengatakan dengan lelucon sudah tak mampu melahap tubuhku dengan seluruh tubuhmu. Kamu pasti? Dan bangga mengundi jubahku setelah membaringkanku pada kayu-kayu salibmu.

Tidak tahukah kamu bahwa kamu berada di bukit tengkorakmu sementara kamu bermain lelucon 
meratap dengan tawa meramali nasibku

Oleh: Itho Halley
Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, lahir di Magepanda, 24 Agustus 1998. Pernah bergiat di kelompok Sastra Kotak Sampah Nenuk. Sekarang tinggal di unit Mikhael, Ledalero.

×
Berita Terbaru Update