-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menjadi Sahabat Seperjalanan

Minggu, 26 April 2020 | 18:01 WIB Last Updated 2020-04-26T11:01:12Z
Menjadi Sahabat Seperjalanan
Ilustrasi: FB Fr. Yudy

SENIMAN (Setetes Embun Iman Harian)
Minggu Paskah III: Bac. I: Kis. 2:14.22-23; Bac.II: 1Ptr. 1:17-21; Mzm.16; Injil: Luk.24:13-35.

Sebagai seorang beriman Kristiani kita mengimani bahwa sumber dari panggilan dan perutusan kita apapun bentuknya (hidup sendiri, berkeluarga, membiara, selibat) kita temukan pada spirit RUANG ATAS PERJAMUAN MALAM TERAKHIR (Mrk.14:5), dimana Yesus sesudah mengasihi murid-murid-Nya sehabis-habisnya telah mengangkat mereka menjadi sahabat khusus-Nya, sebagai imam. Dia mewartakan pada mereka perintah CINTA KASIH dan PELAYANAN. Dan mereka dipanggil untuk menghasilkan buah dan agar buahnya tetap untuk selamanya (Yoh.15:16).

Oleh karena itu, seluruh panggilan dan perutusan kita hendaknya difokuskan pada IDENTIFIKASI terus menerus dengan KRISTUS yang menjadi SAHABAT SEPERJALANAN bagi kita. Kita yakini bahwa KRISTUS sendirilah yang memilih, mengutus, dan memampukan dengan segala daya untuk menghasilkan buah. Untuk itu kita harus menyandarkan dan mengandalkan seluruh diri kita kepada-Nya yang selalu menyapa 'Bangkitlah dan marilah kita pergi..." Dan Ia yang selalu meyakinkan dan meneguhkan kita 'Jangan Takut..."

Bacaan-bacaan suci yang diwartakan kepada kita pada Minggu Paskah 3 mengajak kita untuk merenungkan dan meyakini penyertaan ALLAH (Kristus Yesus) dalam kehidupan kita. Sebagaimana KRISTUS hadir dan menemani perjalanan dua murid di Emaus ketika mengalami KEPUTUSASAAN, IA pun menemani kita apapun dan bagaimanapun situasi kehidupan kita. Kisah perjalanan dua murid ke Emaus merupakan perjalanan batiniah (rohani-spiritual) dua murid karena mereka berjumpa dengan Yesus. IA tinggal bersama mereka, makan bersama mereka. Hingga mata mereka terbuka dan mereka mengenal-Nya (Luk.24:30-31). Pengalaman perjumpaan dengan Yesus mengubah kehidupan mereka "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita..." (Luk.24:32).

Dalam permenungan ini (saya) pun meng-amin-i pernah mengalami hal yang sama. Pengalaman kegagalan, kejatuhan, kebimbangan, kesulitan, keterpurukan, keputusasaan. Disakiti, dikhianati, dibully, di abaikan, dibanding-bandingkan, disingkirkan dan berbagai macam bentuk pengalaman lainnya). Meski demikian ada satu hal yang pasti bahwa ALLAH (KRISTUS YESUS) tidak pernah meninggalkan kita. IA selalu ada menemani, menyertai, menguatkan dan setia berjalan bersama kita. Oleh karena itu satu hal yang kita minta supaya TUHAN TINGGAL BERSAMA KITA seperti halnya yang dilakukan oleh kedua murid 'Tinggallah bersama-sama dengan kami....' (Luk.24:29).

Ditengah situasi dunia yang tidak mudah ini kita diundang untuk tetap menghadirkan TUHAN dalam segala hal. Memohon TUHAN untuk hadir dan tinggal dalam kehidupan kita. Membiarkan TUHAN menyertai perjalanan kita. Sembari kita berjuang untuk memaknai setiap pengalaman hidup dengan tetap menaruh pengharapan yang tertuju kepada DIA yang telah bangkit (1Ptr. 1:21). Kita yakin kita pun mampu menjadi saksi-saksi KRISTUS YANG BANGKIT dengan cara kita masing-masing seperti yang dilakukan oleh Petrus dan para Rasul yang lain (Kis.2:14.22-33). Maka hidup kita akan menjadi sumber sukacita dan rahmat bagi orang lain. Kita tidak perlu takut untuk menjadi saksi-Nya karena TUHAN senantiasa menyertai kita. Iman pemazmur menjadi penyemangat kita dalam hidup ini 'bagi orang benar, Tuhan bercahaya, laksana lampu di dalam gulita...' (Mzm.16).

Hari ini Tuhan memanggil kita untuk 'MENJADI SAHABAT SEPERJALANAN BAGI YANG LAIN'. Oleh karena itu, marilah kita dengan hati yang terbuka memohon rahmat kerendahan hati agar TUHAN berkenan TINGGAL BERSAMA KITA dan MENEMANI PEZIARAHAH HIDUP KITA.

Berkah Dhalem

Oleh: Fr. Ignasius Wahyudi Paweling (Calon imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta)
×
Berita Terbaru Update