-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Merayu Tuhan dalam Doa, Aku Mampu Tetapi Merayu Rasa dalam Kesesatan Memilih, Aku tak Mampu

Sabtu, 04 April 2020 | 11:14 WIB Last Updated 2020-04-04T04:14:27Z
Merayu Tuhan dalam Doa, Aku Mampu Tetapi Merayu Rasa dalam Kesesatan Memilih, Aku tak Mampu
Ilustrasi: rindudanmimpisangkelana

SEBUAH KEBAHAGIAAN
(Merayu Tuhan dalam  doa aku mampu-merayu rasa dalam kesesatan memilih-aku tak mampu.)

Malam ini aku belajar seperti seniman-Melukis setia pada setiap tempat yang memungkinkan kita bahagia. Menggenggam jarak-menjadi seseorang yang tepat waktu menjaga hatimu dari perbudakan rasa masa lalu yang tidak memungkinkan engkau bahagia meski tak sehebat yang engkau pikirkan. Sebab kelogisan mencintai seumpama terbangun di pagi buta, tidak tergesa-gesa mencuci muka-lupa bersyukur dalam khusyuk doa. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana-melewati satu demi satu fase kehidupan dan menjadikanmu satu-satunya alasan untuk tetap berjuang. Biar engkau paham-aku lupa cara untuk pergi dari genggaman tangan dan pelukkan rindumu.

Aku selalu berpikir, akan tiba waktunya menunggu jauh lebih baik dari pada cepat-cepat memutuskan-pada akhirnya pun cepat-cepat pergi. Sebab memutuskan setia duduk bersama sambil membaca puisi sampai rambut memutih bukan suatu perkara yang gampang. 

Entah terlalu cepat-selayaknya kita saling menjaga. Mengatur siasat agar ke mana dan di mana pun kita berada, jarak tak mampu memisahkan hati. Juga meyakinkan satu sama lain, yang mampu mempertahankkan kita adalah saling menjaga. Hendaknya kita melakukannya dengan setia-Aku lupa dan kamu mengingatkan aku. Kamu lupa, dan aku mengingatkanmu. Tapi aku harap, tidak ada lupa di antara kita. Sebab kita terlahir dari sepasang cinta dan hanya cinta yang mampu menyatukan kita, bukan perasaan lupa. 

Saat ini aku sedang menyiapkan masa depan-Mendirikan rumah dari ketulusan hati di halaman rasamu. Biar kamu tinggal tetap dan percaya-Masih ada lelaki yang mampu mencintaimu dengan tulus, walaupun semuanya berjalan pelan-pelan. Tapi aku harap engkau mengerti dengan keadaanku. Biar di tempat barumu(ku), engkau merasa nyaman dan selalu bahagia. Paling kurang ketika hujan yang melukakan itu datang-Engkau sudah berada di dalam rumah.

Sementara untuk segala ketidaksempurnaanku, biarlah waktu sebagai tanda untuk diriku agar semuanya kembali utuh. Aku harap kelelahan panjangku tidak melukaimu dengan setitik ketidaksempurnaanku itu, hingga kamu memutuskan pergi. Sebab aku benar-benar tidak menginginkan pada akhirnya kita tidak lebih dari dua orang yang sedang menelan rasa pahit dari keinginan memiliki. Tetaplah bahagia-Aku sedang berjuang dari kegelisahan ketidaksempurnaan menjaga hatimu. 

Oleh: Fergi Darut
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Sekarang beliau tinggal di unit Mikhael-Ledalero.
×
Berita Terbaru Update