-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Milik Kesunyian, Dear Tubuh, Mea Culpa, Sahabat Pena

Rabu, 22 April 2020 | 19:12 WIB Last Updated 2020-04-22T12:12:51Z
Milik Kesunyian, Dear Tubuh, Mea Culpa, Sahabat Pena
ILustrasi: majalahsains

MILIK KESUNYIAN


Aku kirimkan seribu rindu yang merencah rindu,

dan masih saja merebah Kau di singgasanaMu.

Padahal hati kami menoreh resah di rumah suci,

bahkan kamar-kamar kecil biasa kami merumpi,

kini sunyi sembari ketakutan  ini.

Entah ujung mana pencarian ini.

Sunyi.

MilikMu adalah sunyi.

Pernahkah sedetik kami mencumbu sunyiMu?

Lalu kami datang dengan air mata,

hingga kering ini pun, Engkau tetap sunyi.

Maafkan, sunyi kami yang palsu,

tapi datanglah kiranya Engkau berkenan.


PEKARANGAN RUMAH KECIL


Nenek masih ingatkah pada waktu itu?

Waktu ketika kutabur segala tawa di pekarangan rumah kecil,

tapi entah di mana itu semua, sirnah tak berbekas sejak kau tiada.

Kemarin sore kukembali ke rumah kecil kita,

dan pada tempat engkau menatapku diam tak bernyawa,

kutemukan sepucuk surat, beginilah isinya:


DEAR TUBUH


Aku tahu puisiku sepi berkelana, ia dalam sakratulmaut.

BibirMu bisu pergi tak pamit pada puisiku, dan Kau tahu puisiku sekarat.

Di pekarangan rumah kecil ini,

aku ingin yang membaca surat ini tahu penghuni puisiku.

Engkau empunya kenangan waktu itu,

dan kamilah tubuh puisi yang sewaktu-waktu patah.

(Nenekmu: perkarangan rumah kecil)

Aku tahu, kau hanya bisa membuatku menangis.

Aku selalu menudingNya sebagai pelaku kematianmu.

Namun aku sebatas puisi yang rapuh di pekarangan rumah kecil ini.


MEA CULPA


Meratap pada air mata yang terisak,

aku terus-terus memetik buah apel itu.

Ibu pernah menegurku di sebuah lorong sunyi,

bahkan ia mengusirku dari rumah Eden permai.

Mengapa aku tak bisa sesal pada tubuh yang noda?

Hatiku menggebah tapi tak terusik berbalik,

sedang ibu merentangkan tangan di pintu rumah.

Ibu sebaik itukah Engkau? Aku menyesal.

Aku pulang tak bawa tubuh yang utuh,

tapi kutitipkan hati sesal

semoga kumakan di mejamu malam ini Ibu.


SAHABAT PENA


Malam meramu kisah kita yang menari di ingatanku.

Sahabat pena dalam sunyi yang akan menjadi mimpi,

menyuluh kisah itu pada samudera puisi.

Sahabat Pena,

adakah lebih luka ketika tintamu habis di kertasku,

sedang puisi kita baru berjudul.

Kisah itu sebagian sudah kau coret,

tapi kau malah pergi padaNya.

Aku berdoa untukmu semoga kau tetap pena dijariku

dan kuselesaikan kisah kita pada seuntai doa yang kusut.

Aminku ada pada sujud sebelum titik puisi.

Oleh: Ama Kole
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Unit Gabriel-Ledalero (FB: Ama Kole)
×
Berita Terbaru Update