-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NATALIA, MENGUNTAL RESAH (Cerpen Rian Tap)

Senin, 13 April 2020 | 21:22 WIB Last Updated 2020-04-13T14:24:51Z
 NATALIA, MENGUNTAL RESAH (Cerpen Rian Tap)
Foto istimewah

Oleh: Rian Tap

Hujan yang turun tergesa-gesa sore itu, sebuah pertanda bagi kita akan ada kisah romatika yang paling melan. Ya, akan datang kehangatan yang akan kita lahap, bersama sisa embun yang kian ditutupi malam, bersama udara dingin yang meruak di sekujur tubuh. Aku tak ingin, setiap derai hujan turun membawa malapetaka berupa kesedihan bagimu, Natalia. Aku tahu, engkau tak suka air mata, engkau tak suka dengan patah hati. Diriku pun sama seperti itu, Nat. Maka dari itu, datanglah kepadaku, mari kita ciptakan  kebahagian di dunia ini bersama sekuyup hujan yang melahap kekeringan tanah ini. Aku ingin bertanya kepadamu, masih adakah manusia di dunia ini yang berkata bahwasannya Tuhan tidak adil. Apakah manusia itu tidak berpikir, bahwasannya setiap kesenangan yang ia miliki, dari manakah asalnya? bukankah Tuhan yang memberikan kepadanya. Hanya manusia yang terkutuk, bila ia masih berkata seperti itu. Keindahan yang kita lihat, adalah sampah dunia yang berhak kita ambil. Hanya saja, apakah kita sudi untuk memungut sampah-sampah dunia yang bergeletakan ditanah yang basah. 

***

Natalia, engkau wanita yang diturunkan oleh Tuhan, untuk menciptakan keindahan, janganlah sekali-kali untuk berfikir, bahwasannya Tuhan tidak adil di kehidupan ini. Tuhan tidak pernah tidur, dan Tuhan tidak pernah melalaikan apa yang telah ia ciptakan. Kesedihan yang melandamu bukanlah sebuah permasalahan yang harus dibenci, hingga menjadi besar dan menyulitkan dirimu. Tidak ada satu pun makhluk bumi yang menginginkan kesedihan.Hari ini, sebelum senja menutupkan dirinya, aku ingin menciptakan kebahagian bersamamu. Segala hal yang kita lakukan, sebisa mungkin akan menciptakan kebahagian dikehidupan kita di tempat ini. Sesekali aku berpikir, andai saja aku bisa berbincang mesra dengan Tuhan, aku ingin mengucapkan terima kasih sekaligus memohon kepadanya, atas apa yang Dia turunkan kepadaku. 

***

"Aku sungguh bersyukur hidup di dunia ini, karna Dia telah menurunkan sejenis bidadari, yang hadir di depan kelopak mataku yang kian redup bersama senja. Aku hanya ingin berkata sesuatu kepada-Mu. Ya Tuhan,  jagalah ia selalu, terutama hati yang ia miliki. Karena aku sangat menginginkannya dan tidak mungkin aku menyianyiakan keindahan yang telah hadir dikehidupan ku. Aku sadar ketika lidah mu mengucapkan kalimat indah untuk ku. "Belum pernah aku merasa seberuntung ini menjadi perempuan, hanya karna di cintai oleh seseorang. Kini setelah aku memilikinya, bahagai seperti lahir dengan bentuk-bentuk yang amat sangat sederhanaan. Rasanya ingin sekali ku berteriak. Tuhan.!! dengan hal yang satu ini, kumohon jangan di ambil lagi, biar aku saja yang menjaganya." ujarmu. Harus kau tahu, seakan-akan diri ini menjadi makhluk yang sangat bahagia. Bila ada alat ukur yang mampu menghitung kebahagian ini, mungkin aku akan menjadi makhluk yang paling bahagia yang pernah ada. 

***

Sesekali didalam hidup ini, tidak pernah terpikirkan, bahwasannya aku akan mendapatkan hal yang begitu indah. Kau tahu, keindahan yang ada di dunia ini, bukanlah karena kemewahan dan kemahalan yang dipunya. Namun, kesedeharan pun mampu untuk menciptakan kebahagaian. Tidak perlu muluk-muluk untuk menciptakan hal seperti itu. Natalia, datanglah kepadaku, mari kita ciptakan keindahanan dengan hal yang begitu sederhana. Hal sejijik apapun dapat kita ciptakan untuk menjadikan canda tawa kita bersama. tawa-tawa kecil yang dirasakan, merupakan sebuah percikan-percikan kebahagiaan. Pernah sekilas di benak ku, aku berfikir atas suatu hal. "Ketika masa produktif hidup telah menempuh jenjang akhir. Mungkin hanya keindahan itu saja yang dapat diciptakan dariku. Namun, sebelum masa produktif ku dalam kantor dunia dicabut. Semaksimal mungkin imajinasi dalam mimpi ini harus tercipta. Sekaligus membuktikan, bahwasannya aku adalah kaum kapitalis cinta dan rindu atas kehadiran mu."

***

Apakah kau ingat perkataan mu pada saat itu, yang menceritakan kepada ku atas masa lalu mu yang begitu keras penuh dengan onak duri dan merusak hati dan batinmu."Aku belum pernah untuk mendapatkan perilaku kekerasan, terutama fisik", ujar mu. Adakah kitab suci yang siap untuk berdiri di atas kepala ku, untuk mensaksikan bahwasannya aku sempat berkata kepada mu. "Demi Tuhan yang Maha Esa bila ku melakukan kekerasan kepadamu, aku siap untuk kau tinggal jauh, sejauh-jauhnya". aku tak suka kekerasan, aku tak suka kesedihan, dan aku pun tak suka duka luka, perbuatan dan sifat seperti itu, tidak akan mungkin dan tidak akan pernah bisa menciptakan kebahagian dunia. Manusia dan seisinya hanya menginginkan hidupanya bahagia. Bukan mendapatkan perilaku seperti itu. Apakah kau tak ingin membuktikan, bahwasannya kau adalah Wanita yang paling bahagia, sekaligus diriku membuktikan, aku bukanlah perusak dunia yang diturunkan dari neraka untuk menciptakan kesedihan, kegelisahan, dan kebencian.

***

Tuhan dan aku sama-sama sibuk, Tuhan sibuk memikirkan dan menatap ciptaannya dan aku sibuk memikirkan dan menciptakan kebahagiaan. Khususnya untuk ku dan mu. Di kepala ku tetap saja nama mu, yang menjadi ambisi untuk menciptakan kebahagian, demi masa depan yang di inginkan. Sudahlah..! tak perlu kau bingungkan dengan keburukan yang ada, itu hanyalah bau kentut yang berlalu lalang di hidung, lalu hilang dengan cepat. Buktikanlah kepada Tuhan, bila engkau hidup di dunia, tak lemah dan tak kalah dengan cobaan yang ada sekaligus membuktikan bahwa engkau benar-benar menjadi "wanita yang paling bahagia". Sore itu, Natalia sibuk berkecipak diri pada dinding-dinding tua kafe. Sesekali ia menyadarkan bahu munggilnya pada pundakku yang termakan usia. Dalam sandaran yang sunyi, sesekali ia mencuri pandang pada rona wajahku. Aku pun tahu dan tak peduli dengan itu. biarkan ia semaksimal mungkin menatap inci-inci dari lekukan wajuhku. Remang-remang malam kian datang menyapa kami serta seisi kafe itu. Natalia berkata” kak, maksih ya, telah membuat aku bahagia, setidaknya aku menyadarkan aku tentang Tuhan itu adil”. Kami memangku sunyi bersama derai hujan yang datang kian tak bersahabat. Sebelum kami pulang, aku mengecup kening, Nat, Engkau serpihan dari surga yang tertinggal di bumi. Bolehkahkan aku memungut serpihan itu, agar Tuhan tahu, aku mampu menjagamu. Natalia tersenyum, sambil berujar “gombal mah”. Kami berpisah sore itu bersama senja yang kembali keperadunya.
×
Berita Terbaru Update