-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PATER ERWIN: MENELITI FLORA DAN FAUNA MANGGARAI (BAGIAN II)

Selasa, 21 April 2020 | 09:55 WIB Last Updated 2020-04-21T03:12:01Z
PATER ERWIN: MENELITI FLORA DAN FAUNA MANGGARAI (BAGIAN II)
Fransiskus Borgias 

Oleh: Fransiskus Borgias 
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung 

Itulah sebabnya Pater Erwin secara luas diakui kepakarannya di bidang botani (walau pater sendiri sering sekali menyebut dirinya “an amateur botanist”). Begini kata P.J. Verheijen (kolega SVD) tentang dia: “...Erwin Schmutz, who has by now developed into an undisputed authority on Florinese flora” (p.3). Dalam kapasitas seperti itu, P. Erwin ikut membantu dalam proses menulis kamus nama tumbuhan Manggarai yang ditulis P.J. Verhejen. Dalam kamus ini, khusus dalam bagian Taxonomi Manggarai (ada Manggaraian-taxonomy, yang mulai dari bahasa biologi internasional) ada lima kolom. Kolom I: the Manggarai “classifiers”. Kolom II: the Manggarai names. Kolom III: the abbreviations of the find-spots. Kolom IV: the herbarium numbers. Kolom V: the Latin scientific nomenclature. Kolom ketiga menurut P.J.Verheijen, sebagian besar merupakan sumbangan P.Erwin: “One only has to take a look at the third column in the first list to recognize how prominent a share he took in the work” (p.3). Begitulah cara P.Verheijen mengakui peran dan kontribusi beliau dalam proses menulis buku itu. 

Tetapi apa arti penting Kolom III ini dalam buku P. Verheijen? Arti pentingnya terletak dalam fakta bahwa Kolom III itu menunjukkan di mana tetumbuhan itu ada atau ditemukan di Manggarai. Biasanya yang disebut ialah wilayah ke-dalu-an, walau ada tetumbuhan yang tumbuh lintas ke-dalu-an. Untuk mengetahui hal itu, P. Erwin berkeliling seluruh Manggarai atau mereka dibantu oleh beberapa orang setempat. Itu sebabnya nama-nama mereka juga disebut lengkap dalam buku itu dan diakui peran dan jasanya (p.5). Ada juga bantuan dan koreksi langsung P. Erwin kepada P. Verheijen yang tidak lupa diakui dengan rendah hati oleh pater Verheijen juga: “In addition to direct contributions he gave me valuable advice and made corrections on various points” (p.3). 

Konon ada tumbuhan yang baru ditemukan P. Erwin di hutan Sano Nggoang (hutan lindung Mbeliling). Dan pada saat itu tumbuhan itu belum ada nama Latinnya dalam kamus biologi internasional. Maka tumbuhan itu diberi nama Latin dan di belakangnya diberi penanda spesifikasi “schmutzii.” Jika besok lusa para pembaca sekalian ketemu dengan nama ini dalam buku/kamus biologi, nah itulah nama P. Erwin. Dalam kamus P. Verheijen yang disinggung di atas belum terdaftar. Maklumlah, kamus P. Verheijen terbit 1982, dan pengakuan itu terjadi sesudahnya. Mereka bisa berbuat begini karena mempunyai jaringan yang luas dan kuat juga secara finansial. Misalnya beliau didukung oleh botanical-studies dari Universitas Leiden (Belanda), dan juga bagian riset dan pengembangan Kebun Raya Bogor. 

Kesaksian Verheijen: “Botanically speaking, the area is highly interesting. There are rainforest, monsoon forests, secondary forests, vast grassy plains both in dry and rainy areas” (p.1). Yang dimaksud dengan “vast grassy plains” ialah pumpuk (curculigo orchioides, p.57). Ini adalah sesuatu yang khas, unik, dan menarik kata P. Verheijen. Kini fenomena pumpuk itu menghilang karena reboisasi di mana-mana. Dalam kolom ketiga disebutkan finding-spot untuk pumpuk ialah Rego dan Pacar, padahal faktanya pumpuk dulu ada di mana-mana di Manggarai. Mungkin di kedua tempat tadi lebih luas daripada di tempat lain. Misalnya, di SDK Ketang (Lelak) dulu ada pumpuk yang besar. Begitu juga di Bung, Nte’er (Barat Norang), Pa’ang Lembor, di Ngkor. Dewasa ini sebagian besar “pumpuk” itu hilang karena kawasan pumpuk penuh pepohonan (baik yang ditanam manusia maupun yang tumbuh secara alami). Sejalan dengan menghilangnya pumpuk itu karena reboisasi dan ledakan penduduk, maka mungkin lama-lama kata pumpuk itu juga akan hilang dari perbendaharaan kosa kata bahasa Manggarai. Mungkin anak-anak Manggarai yang lahir di atas tahun 90-an sudah tidak tahu lagi kata pumpuk itu. tetapi syukurlah kata pumpuk itu sudah terselamatkan dalam kamus bahasa Manggarai yang merupakan salah satu hasil karya monumental dari Pater Verheijen. 

P. Erwin mengabadikan namanya pada beberapa tumbuhan dan hal itu diakui dunia botani-biologi internasional. Pertama, ia memakai namanya pada pohon Narep (Naret) yang ditemukan di hutan Mbeliling. Pohon itu diabadikan dengan nama biologi-botani Sympetalandra schmutzii. Kata terakhir schmutzii ini berasal dari nama beliau, Schmutz (Verheijen, 1982:46). Kedua, ia juga memberi namanya pada pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Giro-Keker, atau Keker II, atau Keker Rona, yang ditemukan di Ruteng dan diabadikan dengan nama Saurauia schmutzii (Verheijen, 1982:22, 27, 122). Pohon ini ada dua jenis. Karena jenis pertama sudah diberi nama P. Erwin, maka jenis kedua diberi nama Latin dengan tambahan nama P. Verheijen, sehingga menjadi Saurauia verheijenii (1982:22; 122). Ketiga, pohon yang oleh orang setempat dikenal dengan sebutan Anak-Watu I. Pohon ini ditemukan di Mata wae, dan diberi nama biologi Diospyros schmutzii (Verheijen, 1982:12). Keempat, ia juga memberi namanya pada pohon yang disebut Lawar III, yang ditemukan di Matawae, sehingga nama Latin-nya ialah Eleaocarpus Schmutzii (Verheijen 1982:34). Pohon ini juga dikenal dengan nama Rangga-Po (Verheijen 1982:97). Tumbuhan tadi ada juga varian lain yang dikenal dengan nama Lawar-Koe, yang ditemukan di Matawae, diberi nama Latin Eleaocarpus Verheijenii (Verheijen 1982:97). Nama P.Verheijen juga bisa ditemukan pada nama Latin untuk tumbuhan Tempul-rona, yang ditemukan di Matawae, Kempo. Tumbuhan ini dalam kamus botani diberi nama Saurauia cf.verheijenii (Verheijen 1982:69). 

Tidak hanya mengabadikan nama diri. P. Erwin sebagai peneliti juga mengabadikan nama SVD pada tumbuhan yang ditemukannya dan belum ada nama ilmiah Latinnya dalam kamus biologi internasional. Misalnya pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Lando-Rata II, yang ditemukan di Matawae. Tumbuhan ini diberi nama ilmiah Latin Hybanthus enneaspermus var.verbi-divini (Verheijen, 1982:33). Lando-Rata I, yang ditemukan di Wontong dan Berit oleh P. Erwin, juga dikenal dengan sebutan Mundung-Kuse (Verheijen 1982:33) dan diberi nama Latin ada tiga: Muntung-Kuse I (ditemukan di Denge), yang juga dikenal dengan varian Wae di Lelak, Eurya (Verheijen 1982:72), Muntung-Kuse II yaitu Polygonum (Verheijen 1982:45), Muntung-Kuse III (ditemukan di Todo), Clethra Canescens var.Canescens (Verheijen 1982:45). 

Ada juga tetumbuhan yang diabadikan dengan memakai nama tempat ditemukannya tumbuhan tersebut. Di daerah Ruteng ada pohon yang bernama Piras IV, dari koleksi v, dengan nama Latin-ilmiah Elaeocarpus Rutengii (Verheijen 1982:6). Jadi, lumayan, setidaknya dalam kamus botani-biologi internasional kini ada nama kota Ruteng yang juga diabadikan. Selain itu ada juga yang diabadikan dengan nama pulau Flores. Nama ini dikenakan pada tumbuhan yang disebut Sasang-Manuk II, yang ditemukan di Matawae. Nama ilmiah-Latin botaninya ialah Urobotrya floresensis (Verheijen 1982:64). Pemakaian nama pulau Flores ini sangat penting sebab sebelumnya sudah ada pulau Timor, Sumba, dan Sumbawa, dan Jawa, dst., yang dipakai pada nama tumbuhan. (Bersambung…) (Bahan dasar untuk bagian ini ditulis di perpustakaan Georgetown University, Washington DC, di mana saya menemukan beberapa buku dari Pater Verheijen yang saya singgung dalam tulisan ini). 
×
Berita Terbaru Update