-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PATER ERWIN SCHMUTZ: SELAMAT DARI PREDATOR MANUSKRIP (BAGIAN III)

Rabu, 22 April 2020 | 19:44 WIB Last Updated 2020-04-22T12:44:51Z
PATER ERWIN SCHMUTZ: SELAMAT DARI PREDATOR MANUSKRIP (BAGIAN III)
Fransiskus Borgias 

Oleh: Fransiskus Borgias 
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. 

Dalam tulisan bagian pertama saya sudah singgung bahwa Pater Erwin mempunyai sebuah manuskrip setebal 800an halaman. Dan ditulis dalam Bahasa Jerman. Beberapa tahun silam, saya pernah membuat sebuah diskusi dan komunikasi singkat dengan dua orang. Yaitu Tarsis Hurmali dan seorang peneliti muda di Hutan Lindung Mbeliling, Ari Samsung. Dari percakapan itulah saya mendapat beberapa informasi berharga. Pertama informasi tentang kegiatan pater Erwin dan Pater Verheijen dan asisten local mereka, yang sedang merekam bunyi burung di hutan Mbeliling. Bahkan ada foto dokumentasi dari aktifitas itu di mana pater Erwin sedang memegang sebuah recorder kecil di tangannya dan sedang memberi perhatian serius kepada bunyi itu. Saya tidak punya hak untuk menampilkan foto itu di sini. Maafkan saya. Kedua, saya juga mendapat informasi tentang judul kumpulan catatan Pater Erwin dalam Bahasa Jerman: Die Flora der Manggarai, 1977-1980. Benar-benar luar biasa. Ketiga, dalam bagian kedua dari tulisan ini kemarin saya sudah menyinggung nama sebuah pohon yang ada di hutan Mbeliling. Pohon itu sangat tinggi menjulang. Namanya, ialah Sympetalandra schmutzii. Nah, saya lupa, entah siapa yang meng-attach foto pohon itu dalam dialog segitiga kami. Yang jelas dalam dialog di yahoo mail itu, saya dikirimi foto pohon itu. Saya juga tidak punya hak menampilkan gambar foto itu di sini. Yang jelas ada juga informasi dalam dialog itu, bahwa foto pohon itu diambil dari cover belakang sebuah buku yang melakukan semacam aktifitas konservasi hutan di Mbeliling. Kalua tidak salah judul buku itu juga menarik sekali: Searching for a Future. Luar biasa. 

Dokumen setebal 800 halaman itu adalah sebuah warisan manuskrip yang sangat berharga bagi Manggarai khususnya, maupun bagi khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya. Semoga semua dokumen itu masih selamat. Saya katakan demikian, karena ternyata semua dokumen hasil catatan-catatan bapa Uskup Wilhelmus van Bekkum sekarang ini sudah hilang, sudah tidak ada lagi. Hal itu konon yang menyebabkan bapa uskup emeritus itu menjadi sangat berputus-asa dan juga sangat marah. Walaupun saya bukan siapa-siapanya sang YM Bapa Uskup, saya pun menjadi sangat marah tatkala tahu bahwa ternyata di Manggarai bergentayangan apa yang saya sebut para “predator manuskrip”. Saya sungguh berharap bahwa dokumen pater Erwin itu tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu agar tidak mengalami nasib seperti semua manuskrip yang sudah dihasilkan oleh Bapa Uskup dan sekarang sudah tidak berbekas lagi. 

Terkait semua manuskrip dari bapa Uskup memang ada beberapa versi cerita dan penjelasan, seperti halnya ada beberapa versi cerita dan penjelasan tentang mengapa ia tiba-tiba diganti sebagai uskup Ruteng pada waktu itu. Tetapi di sini, saya tidak mau berbicara banyak tentang hal yang terakhir ini, karena saya ini bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang umat biasa saja. Tetapi saya mau berbicara tentang hilangnya pelbagai manuskrip beliau yang telah ia hasilkan dengan susah payah, dengan suatu kerja keras yang berkepanjangan. Apa yang sesungguhnya terjadi atau menimpa manuskrip-manuskrip itu? Ada yang mengatakan saat bapa uskup sejenak keluar dari Manggarai sesudah ia turun tahta, ada orang (entah siapa dia) yang katanya membuka kamar bapa uskup dan kemudian mengambil semua manuskrip beliau yang sesungguhnya sudah ia simpan dengan rapih dalam sebuah peti dokumen, lalu membakar semuanya sehingga tidak lagi berbekas sama sekali. 

Aksi seperti inilah yang saya sebut dengan istilah aksi predator manuskrip, entah siapa pun orangnya, dan apa pun motivasi yang ada di belakangnya, atau bahkan siapa pun yang menyuruhnya bahkan mungkin juga menyewanya. Aksi pembakaran manuskrip seperti itu, kalua dilator-belakangi oleh ketidak-tahuan, maka saya anggap orang itu benar-benar orang bodoh. Kalau dilatar-belakangi oleh suatu niat jahat tertentu, saya mengatakan itu adalah aksi premanisme atas manuskrip, aksi premanisme terhadap sebuah hasil karya intelektual, hasil karya pemikiran. Itu sebabnya, sekali lagi saya sangat berharap agar dokumen dari pater Erwin tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu, agar kelak dokumen itu bisa menjadi warisan sejarah dan kultural Manggarai yang sangat penting dan berharga yang bisa menjadi sumbangan yang sangat penting dan berharga bagi cerita masa silam Manggarai. 

Sejujurnya saya sendiri, hingga saat ini, belum pernah sempat melihat dokumen manuskrip pater Erwin itu. Dua kali saya sudah datang ke provinsialat SVD di Ruteng. Pada tahun 2013 saya pernah menghadap romo provincial SVD di Ruteng (Pater Servulus Isak SVD) untuk meminta ijin resmi dari pimpinan SVD Ruteng untuk bisa memakai teks Manggarai Teks sebagai salah satu basis sumber untuk pengerjaan disertasi saya (sebagaimana yang ditetapkan oleh Pater Verheijen sendiri pada bagian pengantar dari masing-masing dokumen tersebut). Tetapi sayangnya, pada waktu itu saya tidak sempat menanyakan hal itu (saya lupa menanyakannya karena kami sibuk membicarakan hal yang lain). Lalu pada tahun 2017 sekali lagi saya menghadap pater provincial SVD di Ruteng (Pater Joseph Masan Toron SVD). Kali ini saya datang untuk melaporkan bahwa saya sudah berhasil menyelesaikan studi saya dan sebagai buktinya saya menyerahkan salah satu eksemplar dari disertasi saya untuk diserahkan kepada SVD Ruteng dan dimasukkan ke dalam perpustakaan SVD (sebab hal ini juga diminta dengan jelas oleh Pater Jilis Verheijen sendiri). Tetapi lagi-lagi saya lupa menanyakan keberadaan dokumen manuskrip pater Erwin itu di perpustakaan SVD di Ruteng. 

Tetapi saya sungguh-sungguh berharap bahwa manuskrip itu ada di Ruteng dan disimpan dengan baik dan tidak jatuh ke tangan para predator. Kalau tidak ada di Ruteng semoga ada sebuah lembaga internasional lain (semoga ada juga lembaga nasional, seperti yang menerbitkan jurnal NUSA di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, yang beberapa edisinya pernah menerbitkan beberapa catatan dari Pater Verheijen sendiri) yang menyelamatkan dan menyimpan semua dokumen itu. 

Saat melakukan sandwich program di Georgetown University di Washington DC, saya menemukan sebuah buku dari pater Verheijen tentang kamus nama tetumbuhan di Manggarai. Kamus itu diterbitkan di Australian National University (sebagai bagian utuh dari proyek studi Pasifik Selatan, Melanesia dan Polinesia). Pada saat itu saya diam-diam berharap semoga dokumen pater Erwin itu sudah selamat tiba di sana juga. Oh iya saya juga sudah pernah mendengar bahwa pater Erwin melewatkan masa tuanya di rumah SVD di salah satu kota di benua Kanguru tersebut, hanya saya lupa nama kotanya yang persis, mungkin di Sdyney. Syukur juga jika sudah ada juga yang membuat semacam studi dan kajian kritis atasnya. Tetapi hingga saat ini, sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian kritis tentang hal itu. Setidaknya, hingga sekarang saya belum berhasil mendapatkannya. (selesai)

Catatan dari Jon Kadis: 

Bagian ini penulis Prof Frans Borgias prihatin dengan karya bermutu dari pater Erwin, kawatir akan ada predator manuskrip yang bernilai itu. Disebutkannya pula bahwa manuskrip tentang kebudayaan Manggarai dari Uskup Wilhelmus van Bekkum svd hilang di tangan predator manuskrip. Sebagai ilmuwan, Frans Borgias 'marah'. Dia akan akan marah juga jika manuskrip dari Pater Erwin mengalami hal yang sama, selain karena sebagai ilmuwan, mungkin karena waktu kelas 1 esde dia kenal betul pater Erwin di Rangga/Dempol, karena pater Erwin biasa kasi dia "bombon". Di bagian ini juga disebut nama Tarsis Hurmali dan Ari Samsung, sebagai narasumber penelitian Frans Borgias untuk disertasi doktoralnya. Selamat membaca.
×
Berita Terbaru Update