-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENGALAMAN SAAT COVID-19 DI PASAR BATU CERMIN, LABUAN BAJO

Rabu, 22 April 2020 | 19:53 WIB Last Updated 2020-04-22T12:53:29Z
PENGALAMAN SAAT COVID-19 DI PASAR BATU CERMIN, LABUAN BAJO
Yuliana Tati Haryatin

Oleh:  Yuliana Tati Haryatin

Suasana kota masih lengang pagi ini. Matahari pagi bersinar dengan cerahnya, menerobos masuk jendela kamarku. Di pagi begini, biasanya aku sudah bersiap-siap ke sekolah. Tetapi tidak hari ini. Yah, bukan hanya hari, ini, tetapi sudah sebulan lebih, rutinitas pagi seperti itu tidak dilakukan. Tentu ini semua karena wabah Covid 19 yang  melanda dunia, dan memaksa semua orang untuk stay at home. Keluar rumah, seperlunya saja. Aku termasuk salah satu orang yang sangat mengikuti himbauan pemerintah. Inilah bentuk tanggung jawab morilku untuk keselamatan banyak orang. 

Kubuka lemari kulkas di pojok kamar makan. Akh.. isinya kosong? Di musim Covid 19 ini,  Pedagang  sayur, tempe tahu  dan buah-buahan biasanya selalu lewat depan rumah.  Sayangnya, mereka hanya  lewat di siang atau sore hari.  Jika kumenunggu, cukup memakan waktu yang lama. Keadaan memaksaku untuk berlari sebentar ke pasar. 

Di kotaku ini, hanya satu pasar yang selalu ramai dikunjungi penduduk kota, namanya pasar Batu Cermin. Letaknya cukup strategis, di pusat kota, jalan menuju gua Batu Cermin, salah satu objek pariwisata andalan di kota ini.  Pasar ini biasanya selalu dibuka setiap hari dan tak pernah sepi dari pagi hingga malam tiba. Deretan kios-kios penjual sembako dan pakaian bekas berjejer rapi di kiri kanan jalan. Para pedagangnya heterogen. Ada yang berasal dari Bima, Sulawesi, Sumbawa, Manggarai, Bejawa, Jawa, dan berbagai daerah lainnya. Dengan senyum keramahan, mereka selalu menyapa setiap pengunjung yang lewat dan dengan penuh harap menawarkan barang dagangannya. 

Sayangnya, penataan pasar ini masih amburadul.  Setiap pagi, para pedagang ikan dan sayur selalu saja berebutan tempat untuk mencari lokasi yang strategis agar barang dagangannya tidak sepi pembeli. Tak peduli aroma sampah yang sangat menyengat, yang terpenting barang dagangannya laku. Para pedagang sayur, penjual ikan, penjual tempe, pedagang buah, dll, berebutan mencari tempat, bahkan sampai berjejeran di sepanjang badan jalan. Pemerintah melalui dinas yang terkait sudah berulang kali patroli dan memberikan teguran keras kepada pedagang yang tidak tertib ini, bahkan beberapa kali beberapa lapak jualan mereka diangkat buang  , tetapi rupanya tidak ada efek jera. Hari-hari pertama, ditaati, tetapi setelah itu kembali lagi seperti semula. Pemandangan seperti ini, sudah berulangkali terjadi. 
Di musim pandemi Covid 19  begini, terbayang olehku,   pasar ini pasti sepi dari pengunjung. Ternyata dugaanku salah. Seperti yang kusaksikan pagi ini. Kubergegas menghentikan sepeda motorku yang usianya lumayan tua. Aku dan motorku ini memang sudah menyatu. Meski usianya tua, benda ini selalu menjadi andalan utama dalam melancarkan segala aktivitasku sebagai wanita yang berperan ganda. Kucari tempat yang aman untuk memarkirnya.

Pasar sudah terlihat ramai sejak pagi.  Yah, hari Rabu dan Sabtu , pengunjung di Pasar ini selalu lebih padat dari hari-hari lain. Tempat pertama yang kukunjungi adalah tempat penjualan ikan. Di pagi hari begini, kulihat para penjual ikan berebutan mencari tempat, bahkan umpatan dari pedagang lain yang berjualan,  kian terdengar di telingaku karena berebutan mencari tempat. Para pembeli bahkan kesulitan untuk berbelanja dengan leluasa karena berdesak-desakan dengan para pedagang yang lain. Hatiku  cemas tetapi juga terharu. Cemas karena di tengah wabah Covid 19 ini, aku membayangkan jika di antara kerumunan orang itu, ada yang positif Covid 19, duh... akan ada tragedi yang mengerikan dan menakutkan seperti di Italia. Di sisi lain, hatiku terharu manakala menyaksikan bagaimana perjuangan para pedagang kecil ini untuk mencari sesuap nasi. Tak peduli maut yang mengancam keselamatannya, mereka terus optimis dan berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi mempertahankan hidup yang kian sulit. Akh...andai aku berada di posisi mereka, mampukah aku berjuang seperti itu? 

"Ayo bu, beli ikan?" Sebuah pertanyaan ramah yang terlontar di sampingku, membuatku terkejut dari lamunanku, seraya menggelengkan kepalaku dengan sedikit terkekeh. Mataku mulai mencari, memilih dan membeli ikan kesukaan suami dan anak-anakku. 

Usai membeli ikan, kulangkahkan kaki ke tempat penjualan sayur, sembari berusaha menjaga jarak dari himpitan orang-orang yang berlalu lalang itu. Sayuran segar hasil jerih payah para pahlawan pangan sudah berjajar rapi. Warnanya sungguh memanjakan mata. Kusaksikan ibu-ibu rumah tangga, dengan lincahnya memilih sayuran terbaik untuk di bawah pulang. Mereka berusaha untuk bernegosiasi agar diberikan penurunan harga atau sekedar meminta sayuran tambahan. Saya terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang bisa dilalui  meski terkadang bertabrakan dengan para pembeli lainnya karena lorong yang sempit.

Tempat utama saya berbelanja sayur dan buah adalah dalam bangunan yang sudah disediakan oleh pemerintah. Entah kenapa, hati saya lebih cenderung untuk memilih berbelanja di dalam gedung ketimbang yang di pinggiran jalan yang penuh dengan aroma sampah yang busuk dan menyengat. Disamping karena pertimbangan hiegenis, alasan lainnya adalah, karena saya tahu, mereka adalah pedagang yang taat pada aturan. Itulah bentuk apresiasi saya terhadap pedagang seperti ini. Saya masuk terus ke dalamnya dan suasana di dalam bangunan sungguh berbanding terbalik dengan yang di luar. Di dalam gedung, terasa sepi, pedagang yang berjualan di tempat iti juga bisa dihitung dengan jari. Bahkan ada begitu banyak tempat-tempat kosong yang sedianya dimanfaatkan oleh pedagang sayur itu untuk berjualan. Rupanya mereka lebih memilih berjualan di pinggiran jalan ketimbang dalam ruangan yang nyaman dan terlindung dari sengatan langsung sinar matahari. Akibatnya, tempat itu menjadi mubazir. "Mengapa tempat di sini banyak yang kosong pak?" Tanyaku kepada seorang pedagang sayur langgananku. "Mereka tidak mau menjual di sini bu, karena takut jika jualannya tidak laku." Jawab si penjual sayur sambil menyodorkan sayur yang kubeli. "Sepi pengunjung", kata si penjual sayur yang lainnya. "Hmmm... Pantas saja." Gumamku dalam hati. 

"Mengapa ibu tidak ikut mereka berjualan di luar? Apakah ibu juga tidak takut jika  jualannya tidak laku?" Lanjutku. Dengan sedikit pasrah,  si ibu (penjual sayur) menjawab dalam bahasa daerah, " Kong ta ibu, daripada mai POLPP conda taung ami eme pika pe'ang lupi salang, com kong aman one mai gedung ho'o. Kamer kole tipa barang so'o eme mai patroli ise. Lebih baik lut tae de pemerintah (Biar saja ibu, daripada POLPP datang usir kami kalau berjualan di luar/ pinggir jalan, lebih baik taat kepada pemerintah). "Apakah ibu tidak mengalami kerugian jika memilih berjualan di tempat sepi pengunjung seperti ini?" Tanyaku kepadanya. " Memang kami serba dilema bu, antara ikut aturan atau lawan aturan. Di satu sisi, kami mau untung banyak tetapi kalau mau seperti itu, kami harus melawan pemerintah dengan tidak berjualan di sini. Tetapi kami takut diusir secara tiba-tiba. Di sisi lain, kami mau tetap ikut aturan untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat berjualan, tetapi konsekuensinya yah, sepi pembeli." Ujarnya lirih. Aku meyakinkannya dengan berkata" Bu, saya yakin, kalau semua pedagang sayur menggunakan tempat ini untuk berjualan dan tidak berjualan di luar maka, dengan sendirinya, para pembeli datang ke sini." Lalu, si pedagang sayur di sebelahnya berkata, " Maunya pemerintah setiap hari datang kontrol, jangan hanya saat tertentu saja, kalau seperti ini terus maka persoalannya tidak akan pernah terselesaikan dengan baik.."  kata si penjual sayur di sebelahnya lagi, " Ae, biar mai neteng leso pemerintah ta, eme toe manga kesadaran ditet ro'eng, toe manga gunan. Tergantung kesadaran dite kole iwo ne." (Ah, biar pemerintah datang kontrol terus setiap hari, kalau tidak ada kesadaran dari kita masyarakat, tidak ada gunanya. Tergantung kesadaran kita juga) . Si ibu penjual sayur tidak mau kalah, dia juga menjawab, "Aeh.. kalau tunggu kesadaran kita, tidak akan   sadar-sadar juga kita ini," .....bla...bla....." Mereka terus berceloteh tentang kondisi yang mereka alami. Saya hanya bergumam dalam hati, "Akh.. kasihan juga mereka ini, pihak yang terkait harus mencari jalan keluarnya, biar tidak ada yang dirugikan. 

Yah, persoalan penataan pasar ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.. Bagaimanapun, pasar adalah  jantung perekonomian kota dan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Di dalamnya tersimpan sejuta kisah tentang untaian alur hidup manusia. Tempat di mana seorang kepala keluarga mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tempat yang menjadi saksi bisu sebuah proses kehidupan yang pelik. Bagi para pedagang, pasar adalah tempat yang mereka tuju untuk memulai hari menghabiskan waktu dan melakukan aktifitas yang melekat dalam dirinya. Karena itu, perlu ada regulasi yang jelas untuk menata pasar itu dengan baik. Perlu ada kerjasama dan saling mendukung antara pemerintah, pengelola pasar, penjual, pembeli, dan semua lapisan masyarakat. Kalau semuanya ditata dengan baik, tidak ada lagi serobot-serobotan di jalan, berdesak-desakan merebut tempat untuk berjualan, aroma  busuk sampah yang sangat menyengat, dan sebagainya. 

Tempat menjual buah-buahan menjadi pelabuhan terakhirku. Aku terpana melihat kuningnya pisang yang berukuran sedang, apel berwarna merah tua yang sungguh menggoda, dan berbagai jenis buah-buahan lainnya. Sebagai pelengkap menu siang ini,  kubeli sekilo apel, dua sisir pisang, dan sekilo buah salak kesukaan putriku yang nomor dua. Yah, tiga jenis buah ini harus selalu kubeli karena selera suami dan keempat buah hatiku bervariasi.

Setelah semuanya selesai,  kubergegas pulang, menghampiri motorku yang parkir di badan jalan. Akh... sepertinya tempat parkir juga harus dipikirkan oleh pemerintah. Jalan sangat sempit sementara kendaraan lalu lalang dan sangat padat. Untung saja ada juru parkir yang selalu siap mengatur  kendaraan-kendaraan ini sehingga tidak menghambat lalu lintas kendaraan dan para pejalan kaki. Kurogoh saku celanaku dan mencari selembar uang seribu, untuk membayar jasa parkir. Kuhidupkan sepeda motorku dan meluncur kembali ke rumah. Seperti biasa, malaikat-malaikatku menyambut kedatanganku dengan girangnya. Kubergegas mencuci tangan dan wajah, dan meletakkan belanjaanku di dapur. Seperti biasa, anak-anakku mengambil buah kesukaan mereka dan mencicipinya dengan nikmat. Sembari meletakkan sayuran,.ikan, dan buah yang kubeli, pikiranku masih tertuju kepada pemandangan pasar yang Kusaksikan pagi ini. Pedagang ikan yang berebutan tempat  berjualan,  pedagang sayur di bawah terik matahari  dengan  aroma busuk sampah yang sangat menyengat,  pedagang sayur dan buah dalam gedung yang sepi pembeli, pedagang kaki lima, di pinggir jalan dengan debu yang berterbangan dan polusi kendaraan yang semakin meningkat, dan pedagang-pedagang kecil  lainnya dengan wajah-wajah penuh harap untuk dikunjungi pembelinya. Akh... mengingat wajah mereka, aku bergumam, seandainya aku berada di posisi mereka, mampukah aku terus berjuang seperti mereka di tengah wabah Covid 19?  Entahlah.... Semoga badai ini cepat berlalu.  

Labuan Bajo, 22 April 2020.

*) Ibu Rumah Tangga dan Guru SMAN 1 Komodo
×
Berita Terbaru Update