-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUISI-PUISI PETRUS NANDI

Kamis, 09 April 2020 | 12:01 WIB Last Updated 2020-04-09T05:01:57Z
PUISI-PUISI PETRUS NANDI
Ilustrasi: puisi

1. Sajak untuk Imong
: Almarhum Fr. Simon Petrus

Imong,
ijinkan aku mengabadikan sebuah riwayat
pada serpihan lembar yang disayat lara
pada sebidang ingatan yang berlumur derita
tentang aku yang menangisi sebuah kehilangan
dan bibirmu yang membeku
tanpa sepenggal kata

Imong,
nafasmu yang purna bertanya padaku arti kehilangan
maka kukisahkan padamu seribu bola mata
yang memandangmu duka
di atas tenda ini telah kau sematkan luka
kau pergi tanpa sebisik berita
pada kami tertinggal ingatan buta

Imong, 
saat bola matamu takluk pada kelopaknya
aku kenang saja 
nasib kita bagai dua mata pisau
yang pernah kau raih memotong bawang
merah, putih dan bombai
di dapur biara
disekat oleh tajamnya duka yang membuat 
kita tak lagi saling menghayati:
engkau merangkai jejak menuju surga
dan aku sibuk nyanyikan lagu perpisahan
yang kuberi judul “Sayonara”

Imong, 
kita pernah bersama sebagai sesama, 
di sudut bisu 
pada warna malam yang hitam
dan swara alam yang nyaris hilang
pada bilik tubuh Lusiana
kau melukis mimpi 
pada langit yang malu-malu
dan aku lantunkan nyanyian angan berujung amin
tanpa tahu batang-batang remeh temeh itu
telah kehabisan asapnya

Imong,
di tangan ini kugenggam deretan 
pahit dan manisnya hidup yang pernah sekali
menyatukan kita di gedung tua itu
kutumpahkan padamu jua 
bawalah pergi menuju langit yang kaudaki
jadi bekal yang kutitip bagi sang khalik
pemilik segala yang abadi

Imong, 
kutulis riwayat ini dengan tinta air mata bening 
sebening kumencintaimu dalam hening
sehening ragamu yang kini kaku terbaring 
lagi bergeming

Tiada lagi kata yang dapat kurengkuh
kenangan kita telah luluh
engkau terlalu dini untuk sebuah kematian
aku rindukan seribu tahun yang lain bersamamu
pergilah dalam damai, 
nantikan masa yang lain
saat kau lukis mimpi pada langit yang entah
dan aku tiada lekang merapal amin.

Puncak Scalabrini, Februari 2020.

2. Ayat-ayat Titipan Sapardi

Telah kau abadikan sabda pada mulut puisi
termeterai di atas tubuh kertas-kertas lugu
terucap pada bibir peraya panggung mantra
menari di atas lautan musik yang manja

Sapardi,
pada puisi yang telah membuat kita saling kenal ini
kusemat satu dua ayat yang kau titip senja kemarin
dari sejuknya kolam hingga hujan bulan Juni 

Yang mengukir kisah persaudaraan-kasih bersama di sepucuk daun hijau
sampai aku lupa kaunamakan apa deretan ayat yang lain itu
kulebur dirimu bersama kata-kata yang tak kenal mati
pada jantung puisi ini.

Puncak Scalabrini, Februari 2020. 

3. Siluet 1

Di hadapan pandanganku
engkau berdiri di antara tumpukan barang
yang entah, aku tak begitu teguh mengenalnya.

Remang cahaya tak cukup perkasa
ruangan kecil ini melahap segala berkas dan biasnya
yang kian tampak tak jelas. Redup.

Tak ada suara pun gerak yang sempat terjalin
di antara kita berdua semua menjelma hitam
ada hamparan gelap yang tegas memangkas ruang

Diam-mu membangkitkan resah dan risau
kata hatiku pun basah dalam lautan tanya
menghayatimu, aku tenggelam

Di tempatku aku begitu sibuk menerka rupamu
adakah engkau sibuk memikirkan diriku juga?

Puncak Scalabrini, September 2019.

4. Siluet 2

Sebenarnya ada yang tak sempat
diucap bibir mungil ini
tentang aku yang memangkas jarak pandangmu
yang entah sampai di mana
lalu menyiratkan tanda tanya 
pada guratan jidatmu.

Seperti berlayar ke laut dalam
menanggalkan kenangan yang bercucuran air mata
kita gelisah
kata menjadi letih bersuara
“Maaf, aku tak mengerti bahasamu!”

Baiklah,
kita nantikan saja cahaya menenangkan 
gelap yang perkasa ini
kita nantikan siapa akan menyapa siapa
kita nantikan hari tanpa lelah menghayati
tanda-tanda tanya yang menjejali ruang ini

Kita akan tiba
kita pasti sampai
pada waktu tanpa celoteh
“Kau ini bicara apa?”

Puncak Scalabrini, Januari 2020.

5. Monolog Diam

Sudah hampir setengah jam. 
Seribu pasang mata terpana pada panggung
Seorang wanita berdiri di sana
Tanpa suara pun gestikulasi. Segala hening.
Perlahan deretan kursi mulai kosong
Barisan penonton beranjak pergi
Meninggalkan kesia-siaan
Bersama untaian tanya yang panjang.

Pantar, Juli 2019.

BIODATA PENULIS

Petrus Nandi, lahir di Pantar-Manggarai Timur-Flores pada 30 Juli 1997. Puisi-puisinya pernah dimuat pada media-media seperti Pos Kupang, Flores Pos, Flores Sastra, Lontar Pos, Nalar Politik.com, dan beberapa buku antologi Puisi. Saat ini ia menetap di Biara Scalabrinian dan menjadi mahasiswa aktif di STFK Ledalero. Petrus dapat dihubungi lewat surel: petrusnandi18@gmail.com; WhatsApp: 081237080773; alamat Facebook: @Petrus Nandi.
×
Berita Terbaru Update