-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi-Puisi Sonny Kelen

Senin, 06 April 2020 | 16:06 WIB Last Updated 2020-04-06T09:06:51Z
Puisi-Puisi Sonny Kelen
Yesus yang disalib (Ilustrasi: aripoer)

Perjamuan Malam Tuan

Orang yang lanjut usia menatap ke langit
Yang teduh, bumi semakin gelisah 
Dan sebentar lagi penguasa langit akan memerintah bumi ini
Maka seluruhnya hanya tercatat sebagai rahasia
Dalam debu dalam tanah
Sebentar lagi perjamuan Tuan akan disiapkan
Barang siapa yang menjadi bagian darinya
Akan memakan roti tak beragi dan meminum anggur
Namun tak ada yang mengerti, hanya ada bisik tak jadi
Tentang angin juga cahaya yang jatuh di setiap 
Penjuru mata angin
Sudahlah di dalam hati
Kutunggu saja sebuah sajak darimu
Sebelum amanat perjamuan tinggal di kepala
“Lakukanlah ini, sebagai kenangan akan Daku”

Ledalero, 2020

Tiba Waktunya Aku Pergi, Ibu

Pukul dua belas sudah tiba
Sunyi berlabuh pada pucuk tangis paling merah
Lalu memberontak seperti angin menggagap
Pelan-pelan selesai hingga deru pun tak sempat
“Ibu, sebentar lagi Aku akan pergi ke tempat
Yang kita rindukan bersama”
Wanita paruh bayah yang Dia sapa ibu itu tertunduk
“Nak, aku mau di sini, sekalipun engkau menyuruhku pulang.
Aku tak ingin jauh dariMu meskipun matamu mengisyaratkan
Perpisahan yang segera tiba”
Masih saja gelap, adalah sayap-sayap malam
Terdengar suara pecah dalam diam
“Kalau engkau memang dari Sorga, mengapa engkau masih ditinggikan di salib?
Turunlah! Peluklah ibuMu, dan pulanglah ke rumah kalian”
Seseorang penghujat penuh amarah
Rintih sakit meregut jiwa, sedang pelita hampir padam
Rasa sakit semakin menjadi-jadi
“Bapa, kedalam tanganMu, kuserahkan Roh-Ku”
Semua diam
Langit pecah temaram
Tabir bait suci terbelah
Seseorang berbisik
“Sungguh Dia Anak Allah”

Ledalero, 2020

Lenia

Katamu, menanti itu kerugian
Membuang-buang waktu yang tercipta dari rindu dan harap
Kataku, menanti itu kepastian
Seperti percakapan 
Yang akrab di bawah payung
Tentang malam yang tak sebersih matahari
Tetapi menghadirkan mimpi-mimpi tak henti
Atau seperti membiarkan diriku jatuh
Terbenam di renum matamu
Sebelum berdebar dalam dadamu
Sampai kutemui kau nanti
Di esok pagi
Aku ingin mencintaimu seperti api
Membakar jiwaku hangat selamanya
Bahkan pada kehilanganmu pun
Masih kutemukan dirimu

Ledalero, 2020

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero, sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero
×
Berita Terbaru Update