-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi-Puisi Terbaik Karya Rommy Sogen

Senin, 20 April 2020 | 17:29 WIB Last Updated 2020-04-20T10:29:30Z
Puisi-Puisi Terbaik Karya Rommy Sogen
Ilustrasi: blog maknafirman

Kenangan

Mengulum kenangan seperti
Seru berpadu rindu
berpaut pada waktu
Lalu jadi mendung pada ingatan

Mengulum kenangan sepertinya
Harus jadi pelita
Agar asa tak mendamba
Lalu jadi rinai di pelupuk mata

Karena untuk mengenang
Dikau mesti jadi yang dulu
Dengan sedia menampi doa
Pada Setiap lirik sajak yang pernah  dikau tenun

Semoga dikau hanya mengenang yang dulu
Seperti dia,  mereka dan kita...
Jangan Tuhan
sebab Tuhan tak pernah jadi kenangan..

Antara kita, Corona dan Tuhan, Siapa Paling Kejam? 

Untuk kau yang kusebut kita, karena kita sama manusia
Berapa kasih yang kau miliki?
Berapa benci yang mengganjal di matamu?
Hingga kau tabur petaka tanpa rasa
Perihal hidup harus mengutuk, kau salah.
Kau bukan Tuhan.

Untuk kau yang tanpa ampun
Hadirmu membawa resah
Duka menjalar, kami terkapar
Risau merasuk, kami kian lapuk
Belum cukupkah?

Untuk kau yang kami sebut Tuhan
Jawaban ini ada pada kami
Tapi pertanyaan ini untuk Mu
Siapa yang paling kejam?
Maaf kalau aku terlampau lancang
Yang ku tahu, egois ada pada kami.
      
Kado Ulang Tahun

Selamat ulang tahun Sobat... 
Barangkali hari ini kita mesti bersua, memilih kembali kepingan kisah yang tercecer di jalanan, saat ragamu dicampakkan di sana, lalu dikau pergi tanpa pamit sembari menahan rasa sakit

Tuhan izinkanlah aku berdoa, tak panjang-panjang juga doaku ini, namun inilah yang mau aku curahkan. 

Tuhan, ada kisah yang paling haru telah terjadi tanpa dia duga, dan tak pernah kami pahami. 
Namun apa boleh buat, ia sudah ada di rumahMu. 
Hari ini kami mengenangnya, hari di mana tangisnya pecah meria menatap terang duniaMu. 
Namun mengapa secepat ini?
Bahkan kasihnya belum sempat ia sematkan pada dada kedua orangtuanya yang kini hanya menatap pusara? 
Ah Tuhan Engkau selalu saja punya rencana. 
Tapi tak apalah itu kuasaMu.
Hanya saja aku terlampau mengenanya.
Jika ku putar kembali kisah itu, hati ini seperti tersayat sembilu, sendu dan jadi air mata. 
Adahkah Dikau memberinya waktu untuk bisa mendengar sendiri doaku ini?  
Tuhan doaku adalah yang paling perih.  
Aku tak tahu apa yang bisa aku harapkan kepadanya. 
Tak mungkin seperti tahun-tahun kemarin ketika aku berceloteh dengan penuh damba, "Selamat ulang tahun sobat, panjang umur, sehat selalu, sukses dalam kuliah" pada dinding facebook atau pada story whatsapp lalu kami membuat kejutan untuk dia. 
Namun kalimat dan kisah seperti ini sudah usang dan usai Tuhan. 
Kali ini aku hanya berharap agar di hari ulang tahunnya ini, Dikau sediakan resepsi sederhana bersamanya, dan kalau bisa sebelum dia meniup lilin katakan kepadanya bahwa ada banyak salam dari kami, dan jangan lupa membakar dupa, serupa ujud-ujud kecil pada lilin itu buat kami semua yang sedang berdiang di pusaranya ini.  
Semoga bahagianya selalu menemani kami yang masih tertatih di dunia ini. 
Selamat ulang tahun di Surga sobat.  
Tuhan memberkati kita.  Amin.

Apalah Daya

Sepertinya kita tidak begitu paham
tentang rasa yang sedikit risau
atau galau yang paling berharga 
lalu hanyut terbawa ingin yang mendamba 

Sepertinya kita hanya begini 
palingan ada harap yang lebih 
walaupun dalam hati meruak
setidaknya rasa kita jangan berseberangan 

Antara rasa dan raga masih bergetar nyeri
Dan itu sangat sulit jika terus menumpuk di dada, lalu sampai kapan?
Jawabannya tak pernah sesuai harapan 

Sepanjang hari, getirnya makin berat
menikam di benak dan jadi luluh di mata
Inginku semakin silau penuh tanya
Adakah sedekah rasa yang sama dari mu? 

Apalah daya, kalau maumu tak sejalan mauku
semua rasa jadi sesak di telingaku
dan ku pikir kita punya pilihan sendiri 
Pilihanku hanya menetap dengan rasa ini

Entah sampai kapan 
biar waktu jadi sahabat kita

Karena waktu paling mahir dalam memahat cerita maka kita harus menunggunya dengan rindu yang paling purba.....semoga rasamu berubah.
Itulah harapan terakhir ku

Ke mana Kita Pergi?

Betapa garangnya orang-orang negeri ini
Sudah diberi hati maunya jantung sekalian darah yang sedang mengalir
Sudah diberi kebebasan maunya sejarah dan pemerintah harus merangkak pada idenya
Lalu?
Pancasila dibilang tak ada
Yang dikritik presiden, iming-iming Jokowi kena imbasnya
Semua orang yang mencoba mencibir bibir dengan sedikit muram di wajah
Dibilang dungu melulu
Hebat?
Bukan hebat namanya, kalau menganggap diri hebat
Bukan hebat namanya, kalau mengorbankan kebenaran
hanya karena ide yang sekarat dengan dalih diksi yang lumayan menantang
Memang tidak hebat karena menerima pemberian orang namun menolak orang yang memberi
ingat!!!
Ke mana kita akan pergi
Kalau sayap burung Garuda semakin lapuk bahkan mulai patah bukan karena usia
Melainkan kehebatanmu yang bebas meniadakannya, dan itu jadi luka, perih dan nyeri
Pada sekujur tubuh INDONESIA  

Rommy Sogen, tinggal di Unit Gabriel Ledalero
Anggota Kelompok Sastra Sampul Buku-Gabriel
×
Berita Terbaru Update