-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Radio Transistor (Tulisan Romo Edigius Menori, Pr)

Senin, 20 April 2020 | 18:11 WIB Last Updated 2020-04-20T11:11:48Z
Radio Transistor (Tulisan Romo Edigius Menori, Pr)
 Romo Edigius Menori, Pr

Pertandingan sudah usai. Penonton sudah pulang. Para pemain sudah bersalam- salaman. Bola tak ada lagi di lapangan. Wasit sudah beristirahat.
Tetapi di radio komentator tetap berapi-api melaporkan jalannya pertandingan. Komentator radio menyemangati para pendengar untuk terus mengikuti keseruan pertandingan.

Para pendengar antusias mengikuti jalannya pertandingan bahkan ada yang tegang dan marah- marah. Komentator sangat lihai membius pendengar dengan kata-kata yang memicu kemarahan baik kepada pemain tertentu maupun wasit. 

Anak-anak yang berisik diusir menjauh. Sang istri yang baik hati menyajikan makan minum ringan di suruh pergi. Bapa-bapa lagi asyik jadi boneka komentator bola di radio. 

Siaran radio berakhir, para pendengar keluar rumah. Mereka berkumpul di halaman dengan wajah marah-marah, entah kepada siapa amarahnya ingin ditumpahkan? Tak lama kemudian mereka turun ke jalan. Sepanjang jalan mereka berteriak dan memaki-maki.

Saat dicegat polisi dengan lantang mereka berteriak, "kami protes pertandingan yang tidak adil, wasit memihak." 

"Pertandingan kapan?" Tanya pak polisi.

"Itu yang kemarin sore." Mereka menjawab.

"Tidak ada pertandingan kemarin sore, itu pertandingan beberapa bulan yang lalu." Tegas pa Polisi.

"Kami dengar siaran di radio". Kata seseorang dari kerumunan masa.

"Boleh tahu radio mana itu?" Sambung pak polisi.

Mereka pun bingung. Tapi dari tengah masa ada suara teriakan dan protes atas pertandingan yang tidak fair. 

Pa polisi naik ke mobil terbuka, lalu berbicara dihadapan masa. "Bisa lihat saya?" 

"Bisa" teriak masa.

"Terima kasih. Sekarang kamu tidak lagi dengar siaran radio. Tetapi tayangan langsung. Saya di sini, kamu bisa lihat dan suaraku dapat kalian dengar. Saya akan sampaikan pesan penting untuk kalian semua. Mau mendengarkannya?"

"Siap!!!" jawab mereka.

"Tidak cukup andalkan telinga untuk menyikapi berita. Jaman radio transistor sudah lewat. Juga tidak cukup mengandalkan media sosial untuk beraksi. Mungkin medianya untuk kepentingan sosial tetapi muatan beritanya berisikan kepentingan picik dan egois. Demikian pula tidak cukup mengandalkan keyakinan pribadi untuk menyelesaikan persoalan bersama. Sebab realitas sosial lebih luas dan rumit dari pada urusan keyakinan."

"Bisa dipaham?" Tanya pak polisi.

"Bisa!" Teriak masa.

"Benar, kemajuam tekonologi tak terbendung, terus melaju secara mengagumkan." Lanjut pak polisi.

"Kita boleh berpacu ikut melaju di belakang gerbong kemajuan jaman, sehingga tidak ketinggalan jaman. Tetapi satu hal yang harus tetap dipelihara, dijaga dan itu sangatlah penting untuk menjamin kedamaian hidup di era gelombang kemajuan tahap 4 dan 5 saat ini. Apakah itu?"

"Saya mau katakan, jangan lupa bawa radio transistor yang ada di hatimu. Siarannya setia memperdengarkan suara Tuhan di hatimu. Jagalah hatimu agar nuranimu tetap suci dan setia menyuarakan kebenaran."

"Itu saja pesan saya." Begitu pa polisi mengakhiri pesannya.

Oleh: Romo Edigius Menori, Pr
Penulis adalah seorang imam diosesan keuskupan Ruteng, Flores, NTT. Beliau adalah Alumnus STFK Ledalero, lalu melanjutkan Studi di Universitas St. Thomas Aquino Manila.
×
Berita Terbaru Update