-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Raga Tak Bersalah, Perihal Hujan, Engkau Mati demi Aku (Antologi Puisi Rian Tap)

Senin, 06 April 2020 | 16:25 WIB Last Updated 2020-04-06T09:25:35Z
Raga Tak Bersalah, Perihal Hujan, Engkau Mati demi Aku (Antologi Puisi Rian Tap)
Salib Kristus (Ilustrasi: robertjournal)

Oleh: Rian Tap

Raga tak Bersalah

Golgota semarak bersenandung merasuk setiap kalbu.
Di atas sana, Engkau menuai kasih pada palang hina.
Menuai kasih pada raga yang tak bersalah,
Hanya demi  tugas yang diberikan Bapa.
Hosana….hosana…. Sang rajaku.
Kini, hanyalah seruan yang meninahbobokan rupa.
Seruan klasik yang penuh hasrat, gomblan semata  
Gaya-mu melelehkan tiang hina.
Tumpah,
Tumpuk,
Habis,
Mati,
Ahh,,apa Engkau salah?
Senyum sinis serdadu bengis mulai Nampak.
Saat luka-luka goresan dosa mulai menyapa lautan raga.
Lantas di cambuk dosa kancah benua.
Sungguh..
Tersayat perih tak terbatalakan, di saat tombak menyerbu raga pada palang hina yang tak bersalah.
Membunuh lautan nafas yang terkenang dalam lautan raga.
Debu golgota silih berganti.
Datang mencibir-Mu.
Jikalau Engaku Anak Allah, turunlah hai bangsat.
Ya,, mereka..
Mereka merampas lambing hidup-Mu.
Melihat-mu yang membentangkan koper bertuliskan “inilah raja orang Yahudi”.
Perih nestapa raga.
Kasih-Mu yang melemahkan raga-Mu.
Hanya karena cinta untukku, kamu dan mereka.
Waktu senja..
Saat suara-Mu berderu-deru lengking teriak luka hati-Mu yang tersepi.
Mengguyur raga yang bertubuh lapar.
Kemudian Engkau tenggelam dalam lautan puncak.
Ya, Bapa, ampunilah mereka.
Kini raga bisu memunggungi senja,
Sinar tamaran hiasi senja nestapa.
lihatlah aku dengan tatapan sayu-Mu, Tuhan.

Engkau Mati demi Aku

Golgota,,,golgota!
Ya, sungguh itu Golgota.
Terpatri raga tak bersalah,
Tergores mawar merah tua yang merekah.
Euphoria,,”hosanna putra Daud”.
Kini,
Menjadi isyak tangis memecah kesunyian Yerusalem.
Hosanna, kini menyalibkan-Mu dalam kata.
Tombak bengis menyobek raga-Mu
Yang tersiksa pada randjang dunia.
Sebiluh berpeluh,
Terbantah kata pada nada, “Ampunilah mereka, sungguh,, mereka tidak tahu!
Mencongkan diri-Mu sungguh Allahku.
Borok dunia sudah senyap pada palang penghinaan.
Kini Engkau ada di,
Ya,, Engkau sudah berada di,
Diri-mu, Engkau ada,
Ada-mu di,
Untuk ku.

Permisi Aku Pergi

Setelah melintas waktu bersimpah pesonamu yang kian membiusku.
Kini terasa hambar,
terasa tiada makna yang terendap lama dan medekam,
Dalam gugusan matahari, tak lagi bisa ku raba.
Semua kembali kosong.
Harapanku akanmu
Seperti menemui titik penghabisanya.
Apa gerangan yang terjadi?
Tiba-tiba aku enggan mengumbar rinduku.
Tiba-tiba aku ingin berhenti mecintaimu.
Mungkinkankah karena sahajamu yang makin tak membiusku.
Perlahan menghilang di balik tutur kata yang masih serupa warna pelangi.
Auramu makin pudar oleh sikapmu yang tak pasti.
Pongahmu melemahkanku.
Bisumu menyurutkan langkahku.
Permisi…aku pergi.

Perihal Hujan 

1///.  Pada awal bulan.
Hujan enggan reda pun enggan memelangi semseta.
Seakan ia tahu, keringan diri yang melanda nestapa raga.
Sebuah kebimbangan dituntut menjelma suatu kepastian.
Waktuku pasti kau renggas sepatah harapan dengan rindu dendam diri.
Perihal hujan aku tiduri dalam rindu.

2///.  Kepada penyedia hujan yang kini tiada bimbang. 
Kau mulai tahu kebahagiaan yang pernah kupertanyakan.
Perempuan mana yang tak ingin mati dalam sukmamu. 
Bersemayam, menggantungkan sebagian dalam keseluruhan- 
pun dalam hitungan tak terbatas.
Terima kasih atas hujan yang selalu dirindukan.
Tertera pula awal tanpa akhir. Akan tetap seperti itu, seterusnya.

3///. Teruntuk nafas dan nadi yang telah gugur sedaun layu atas keringnya afeksi.
Sesuai embun menggenangi mata hingga dini hari.
Semesta meredam, menghujani jantung berkali-kali.
Tak mengapa, hujan memang tak pernah kunjung reda dan sesak tetap terjejal tanpa ampun.
Sebab, patahan akan terjal.
Namun, sejenaklah memejam. Atas nama waktu yang selalu datang sebagai pecundang.
Tetaplah mewangi.
Akan ada sesal setelah genangan terhenti

Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku init Gabriel. Asal Lembor Maggarai Barat. Tinggal di Ledalero
×
Berita Terbaru Update