-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ranjang Khayalan, Senar Gitar Ayah Terkulai, Malaikat Yang Tak Terlupakan

Minggu, 26 April 2020 | 17:01 WIB Last Updated 2020-04-26T10:01:09Z
Ranjang Khayalan, Senar Gitar Ayah Terkulai, Malaikat Yang Tak Terlupakan
Ilustrasi: eksepsionline

PANGGUNG LAWAK
:(agroikos jelata)


Sepertinya negeri ini menjadi panggung lawak,

segalanya didesain dan diakhir cerita tertawaan menghempas sepi.

Adakah luka dan kejatuhan pun perlu di tertawakan?


Ada yang terkapar, terkulai lemah nan ringkih,

tapi mereka selebihnya sebagai bahan tertawaan.

Harusnya kita merangkul pada luka-luka itu.


Bahkan Tuhan pun jadi bulan-bulanan.

Tertawaan dilanturkan pada doa-doa yang kusut,

Atau mereka bertanya dalam sinis, siapa dan dimana Tuhan.

Mungkin kita yang tidak waras lagi.

Bahkan kita tertawa akan diri kita.


Negeri kita, panggung kita saling menepis.

Bukan lagi darah mengairi daging,

atau daging merangkul darah.

Darah membunuh daging, di manakah merah putih?


RANJANG KHAYALAN


Pak tua itu kian kemarin terpuruk pada khayalan

padahal ladang belum berisi dengan keringat.

Semenjak sesaat yang lalu istrinya terisak,

bagaimana tidak anak-anak menjerit kesakitan

dan dapur pun belum berasap dan membara.

Pak tua sadarlah pada mata yang bermata air

pada lorong-lorong kelukaan yang disergap orang berdasi.

Lihatlah pada tangan yang meminta-minta,

atau mereka yang terhimpit.

Ladang mereka belum berkeringat, dapur belum berasap!

Jangan kau berlama-lama di ranjang khayalanmu.


PECATUR ANGKUH


Di sebelah sana duduk penuh angkuh,

menatap ingin memangsa.

Ia yang segalanya seperti dalam jemarinya.

Sambil di mulutnya sebatang rokok,

membakar tanpa pamrih kebenaran, tinggal janji.

Yang terpenting kenikmatan bermain kegelapan.

Baginya dunia adalah papan catur untuk berkuasa bagi diri.

Dunianya adalah kursi kekuasaan.


Sedangkan di sebelah sini yang duduk berdekatan pada rakyat.

Bajunya sederhana, bahkan kesukaannya adalah baju batik.

Mungkin dia tidak sesombong, tapi ia merangkul,

sering ia tak memberi apa-apa, hanya sebatang senyum yang manis.

Yang terpenting adalah senyum rakyat sedikit berisi,

Paling tidak ada alasan yang tulus senyuman itu merekah.

Baginya dunia adalah papan catur untuk melayani.

Dunianya adalah hati para pemilik kebenaran.


Berilah pujian dan hormat yang selayaknya

pada hati yang mengabdi teruntuk kebenaran.

Dialah yang berdekatan dengan kita.


MALAIKAT YANG TERLUPAKAN


Malaikat berbatik!

Terima kasih telah mematahkan sayapmu,

hingga singgasanamu bukan kemewahan tapi rakyat.

Kini tak lagi kau terbang pada keangkuhan,

tapi menetap pada jiwa yang bertebaran di lorong kusam.

Engkau sering dilupakan.


Malaikat itu sering diburuh dengan cemoohan,

tapi hati yang putih nan lembut menatap memberi senyum.

Luka kau balas dengan senyum, itu sangat sakit bukan?


Malaikat berbatik!

Terima kasih pada darah yang tertumpah dari hatimu,

dan daging yang disayat sedemikian hingga sekurus itu.

Maaf karena kelupaan kami.


SENAR GITAR AYAH TERKULAI
: (Perihal ketiadaan yang melibatkan rindu)


Ayah gitar pusaka milikmu sendiri menatap sendu,

tapi sampai kini merdunya tidak lengkap tanpamu

sehabis ketiadaanmu salah satu senarnya terkulai.

Aku tak sepaham dengan ketiadaanmu,

 habis hidupku tak seharmonis dulu sewaktu bersamamu.

Aku rindu pada lantunan nada yang melelapkanku,

malah kini kuterbiasa tersiksa ketiadaanmu.

Ayah adakah maksud membawa seuntai senar itu?

Lalu aku sendiri meratap rindu menggantikan lantunannnya.

Aku mengerti maksud dari kehilangan seuntai senar gitarmu,

kau sengaja membuatku rindu tak terkira dengan suaramu.

Semoga kau memainkan gitarmu dari Sang nun jauh.

Oleh: Ama Cole
×
Berita Terbaru Update