-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rasa yang Duduk di Samping Jendela

Sabtu, 04 April 2020 | 10:47 WIB Last Updated 2020-04-04T03:47:11Z
Rasa yang Duduk di Samping Jendela
Ilustrasi: duniagemes

(Apakah kamu pernah mendengarkan kisah tentang rasa yang duduk di samping jendela yang tiba-tiba tersesat dari jalan pulang sebuah kepergiaan?)

Setiap cerita yang pernah kutulis, aku selalu berpegang teguh dengan cara yang sama, mencintai tanpa pernah berhenti berharap. Bahwa mencintaimu bukanlah sebuah ilusi belaka yang tiba-tiba saja menjadi nyata di balik titik-titik kenangan tertentu. Atau secarik kertas pada rima-rima waktu, yang menjadikanmu puisi yang paling puitis dari musim-musim mencintai. 

Aku pernah digerogoti rasa cemburu, hampir lupa berulang kali bertanya pada waktu, apa mungkin setiap hari engkau selalu bertanya perihal’ apa kabar hari ini,’ seperti hari-hari kemarin? Masih dengan perasaan yang sama, aku harap semuanya baik-baik saja. 

Aku ingat untuk pertama kalinya kita bertemu. Dan aku tidak tahu secara pasti alasan dari perjumpaan kita kala itu.  Tapi yang pasti, aku tersesat dari jalan pulang sebuah kepergiaan. Tak ada petunjuk yang mampu memberiku tanda. Hingga aku benar-benar mengerti, mengapa aku selalu memilih dipengujung waktu dari cara mencintai.

(Dari semua janji yang sempat pernah terucap, aku suka dengan secarik kertas yang menceritakan aku, kamu, maret dan rahasia. Yang tiba-tiba menghilang tanpa pernah berpikir mengkhianati rasa dari keinginan memiliki.)

Adalah jatuh cinta bahasa terindah ketika detak jantung tiba-tiba berdenyut kencang ketika duduk bersamamu. Adalah jatuh cinta imajinasi rindu ketika jarak  menambat raga untuk selalu bersama. Adalah jatuh cinta nyanyian suci ketika puisi melagukan dengan setia satu demi satu alasan untuk bertahan.  Adalah jatuh cinta rasa yang paling terluka ketika keiklasan menjadi pilihan pertama dari sebuah keinginan untuk selalu memiliki. Adalah jatuh cinta doa tanpa amin ketika aku, kamu, maret menjadi rahasia dari sebuah kepergian tanpa pernah berpikir kembali mewarna-warnai pelangi dari setiap ujud cara mencintai. 

Aku tertidur pada rasa yang terluka, pada waktu yang tertimbun debu, pada bibir yang kelu, pada langit yang gelap, pada dirimu yang telah memutuskan pergi. Sedangkan engkau berdiri tegak dan tergesa-gesa bergegas melangkah keluar  pada kaki langit, pada cakrawala yang syhadu, pada ayat-ayat suci, pada masa depan dari keinginan untuk terus memiliki. Sungguh, cinta memang takkan pernah habis meskipun pada akhirnya saling melukai. 

(Segalanya begitu sederhana, pergi dan berbahagialah. Aku mengutus atas nama keiklasan. Semoga ada yang lebih baik dari sebuah keiklasan dan berharap engkau baik-baik saja. Aku dan segala kesedihanku adalah  dimensi lain dari kebahagiaanmu.)

Setelah kepergianmu malam itu, kotaku selalu dilandai gerimis. Wajahmu tak pernah hilang dari segala perhatianku. Jantungku berdetak atas namamu. Kemungkinan terbesar kamu adalah  pemilik dari segala pikiranku. Sementara rindu dan rasamu bersembunyi di balik topeng, seakan-akan semuanya baik-baik saja. Hingga tanpa permisi, pada segala yang merangkak maju, kamu memilih pergi. 

Oleh: Fergi Darut
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Sekarang beliau tinggal di unit Mikhael-Ledalero.

×
Berita Terbaru Update