-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rasa yang Terluka tak Pantas Untuk Dikenang

Minggu, 05 April 2020 | 14:18 WIB Last Updated 2020-04-05T07:18:42Z
Rasa yang Terluka tak Pantas Untuk Dikenang
Ilustrasi: wishbonix

(Teruntuk kebahagiaan yang tak tersampaikan-Setiap cinta pada akhirnya  tak ada alasan untuk menderita.)

Pada akhirnya rasa yang terluka tak pantas untuk dikenang. Sebab setiap pegangan pada akhirnya hilang. Dan semoga kerinduan terbesarku untuk mencintai dengan sederhana terjawab dalam doa-doamu. Seberapa pun besar cinta mempertemukan rinai hujan dan musim kemarau-Kamu tetap menjadi rumah dari setiap mimpi. Kamu adalah jawaban dari masa lalu. Masa yang tak pantas tuk dikenang. Bagaimana mungkin seseorang yang aku cinta diam-diam pergi tanpa meninggalkan pesan. Aku hendak kamu mampu memformat ingataku dari masa lalu-Sepucuk surat  masa lalumu mewarnai awal perjumpaan kita kala itu.  

Aku ingat di bagian akhir suratmu-Kamu adalah alasan mengapa aku percaya dan kembali menaruh harap pada jatuh cinta. Terima kasih banyak dan semoga sejauh batas sejarah mencatat kisah kita, kamu mampu menjadi yang terindah dalam hidupku. Salam sayang dari rindu yang menjadi pusat semestamu. Demikian catatan terakhir suratmu yang menceritakan keinginan terbesar hari esokmu.

Tanpa sengaja mataku menatap selembar senyuman yang paling tulus dari sebidang cermin yang paling puitis-Tepat setelah membaca suratmu yang tersusun rapi satu demi satu harapan hari esok. Aku rasa ada kehidupan dari selembar suratmu. Ada kebahagiaan-Kebahagiaan yang selalu kutunggu dengan setia, tanpa kenal musim demi musim dari kejujuran untuk terus mencari dan mencari yang terbaik. Ada keindahan. Akhirnya yang terasa susah, tak berguna dan kalah dari keinginan untuk terus tidak berdoa, lebih indah dari serangkaian kata-kata belaka.

Rasa-rasanya seperti aku hendak berjalan di padang gurun yang panjang dan kehausan, tiba-tiba di depan mata telaga kecil terlihat pasti. Tanpa berpikir panjang, baik atau buruk air dalam telaga itu cepat-cepat meminumnya dan sesekali mericik di atas kepala. Dan berpikir, kini aku menjadi seseorang yang paling beruntung dari semua pengembara yang pernah melintasi padang gurun. Sebab aku mampu menemukan mata air kehidupan yang mampu memberi tenaga baru untuk tetap berjuang melintasi padang gurun. Namun tidak lama setelah itu, aku jatuh sakit. Perut dan seluruh badan terasa sakit dan pegal hingga aku jatuh, beberapa meter dari telaga yang telah menghapus segala dahaga dari perjalanan panjang dan kehausan yang tak tertahan.

Begitulah mencintaimu. Datang dengan harapan yang begitu besar. Menghidupkan segala duka yang tak tertahan dari setiap pemaknaan air mata. Memberi janji-janji suci untuk terus menetap di hati. Memungkinkan rasa bertumbuh dan terus berjuang sejauh mana pun jarak dan waktu terbentang di atas rindu. Bagaikan seorang pengembara yang menemukan telaga di tengah pengembaraan yang panjang dan rasa haus yang tak tertahan. Tanpa rasa peduli baik atau buruknya air itu bagi kesehatannya. Dan beberapa menit setelah itu, ia jatuh telungkup dan menghembuskan napas terakhir tepat tiga meter dari jarak telaga itu. Bagaimana mungkin, air yang menghidupkan pada akhirnya menghancurkan. Tapi begitulah jatuh cinta.

Datang bersama harapan yang tak tertahan. Menjadi pusat seluruh alam semesta. Berpeluk-pelukan di bawa catatan waktu. Memalsukan perasaan duka, seakan baik-baik saja. Berjuang tanpa batas. Berkelana tanpa arah. Menaruh harap pada segala yang terkatakan. Menikmati kebahagiaan. Berjalan penuh semangat. Meraih penuh pasti. Tanpa pernah berpikir, sesungguh cinta sedang menggiringku ke arah mana. Cinta yang baik, cinta yang mampu membawa kita terlepas dari pojokan air mata. Sementara cinta yang buruk, cinta yang pelan-pelan datang dengan sejuta alasan untuk bertahan, namun pada akhirnya diam-diam pulang dan meracuni segala rindu yang pernah terkatakan.

Sungguh. Sekuat apa pun keinginan saling mencintai, jika terlahir dari sebuah perasaan luka dan pelarian semata, cepat atau lambat ia akan diam-diam membunuh seluruh semestamu-Meracuni segala yang pernah diperjuangkan-Bahkan mampu menjadi musuh terbesar dalam hidup.

Namun, sebagaimana engkau menitip selembar surat masa lalumu di awal perjumpaan kita, aku mau di pengujung perjumpaan ini pun, menitipkan selembar surat kepadamu. Anggap saja sebagai surat balasan. Bahwa yang terindah dalam hidupku mungkin bukan terlahir dari sepasang pelangi di matamu. Jika engkau mampu memberiku satu kesempatan terakhir, aku hanya meminta waktu, mengiklaskan kepergiaanmu. Tanpa air mata. Tanpa perasaan duka. Tanpa berjuang mempertahankanmu. Tanpa basa-basi-Pergi dan jangan kembali. Sebab rasa yang terluka tak pantas untuk dikenang. Bahwa setiap cinta pada akhirnya tak ada alasan untuk terus menderita.

Oleh: Fergianus Darut. 
Penikmat sastra, sekarang tinggal di Maumere.
×
Berita Terbaru Update