-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi "The Last Supper" (Malam Perjamuan Tuhan): Kristus, Sang Teladan Kasih

Kamis, 09 April 2020 | 17:00 WIB Last Updated 2020-04-09T10:09:32Z
Refleksi "The Last Supper" (Malam Perjamuan Tuhan): Kristus, Sang Teladan Kasih
"The Last Supper" (Malam Perjamuan Tuhan) - (Ilustrasi: hidupkasih)

Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

Kel 12:1-8.11-14
1 Kor 11:23-26
Yoh 13:1-15

Umat Perjanjian Lama, bangsa Yahudi punya tradisi untuk mengadakan perjamuan bersama, dan ini sering dikenal dengan Pesta Paskah. Pada mulanya, Pesta Paskah merupakan pesta persembahan anak Domba kepada Tuhan sebagai hasil panen perdana. Namun kemudian ini bergeser menjadi peringatan pembebasan dari perbudakan Bangsa Mesir. Setiap tahun, peristiwa pembebasan Bangsa Israel dari pengejaran Raja Firaun, dirayakan sambil makan anak domba, dan pada waktu itu, mereka diajak untuk sungguh-sungguh merenungkan bukti Cinta Allah kepada mereka yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Inilah yang kita dengar dalam Kel 12:1-8.11-14.

Pada malam ini, Tuhan Yesus bersama para murid-Nya mengadakan Perjamuan Malam terakhir bersama para murid-Nya. Perjamuan ini bukanlah perjamuan keputusasaan, kesedihan, melainkan perjamuan penuh keakraban dan penuh persaudaraan antara Yesus dengan murid-Murid-Nya. Ini merupakan sebuah perjamuan cinta penuh dengan makna, di mana para murid diingatkan oleh Tuhan akan cinta Allah yang memberi diri-Nya sehabis-habisnya kepada umat-Nya.

Malam ini adalah malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya, menjadi semacam malam perpisahan dengan mereka. Umumnya, kebiasaan seperti ini selalu dilakukan oleh kepala keluarga Yahudi kepada seluruh anggota keluaraganya. Biasanya pada perjamuan perpisahan itu, sang kepala keluarga memberikan semacam wejangan atau nasihat terakhir kepada anggota keluarga. Ia memberi wejangan kepada anak-anaknya untuk dilaksanakan terus. Persis seperti inilah, Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya diadakan. Sebagai kepala dari para Rasul, Yesus ingin sekali lagi mengadakan malam keakraban penuh persaudaraan dengan para murid-Nya sebelum Ia harus menderita sengsara. Ia ingin sekali menunjukkan sikap yang harus diteladani oleh para murid-Nya. Dengan makan bersama, sebetulnya, Yesus ingin menyerahkan diri-Nya secara total kepada mereka. Perjamuan-Nya bersama mereka dapat dilihat pula sebagai simbol penyerahan hidup seorang Putra Allah, di mana Ia ingin memberikan tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman demi keselamatan para murid-Nya dan dunia.

Peristiwa perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid-Nya dikenangkan selalu oleh Gereja dalam Ekaristi atau Misa kudus. Melalui Ekaristi, seluruh murid-Nya diingatkan kembali akan kurban salib, misteri penderitaan-Nya di kayu salib. Bukti nyata pemberian Diri Yesus sehabis-habisnya ini dilakukannya pada malam perjamuan-Nya yakni, “membasuh kaki para Rasul”.
Melalui tindakan membasuh kaki para murid-Nya, Yesus sungguh - sungguh ingin menunjukkan semangat pelayanan-Nya kepada para murid-Nya, dan menjadi lambang kerendahan hati-Nya yang paling dalam, simbol pengosongan diri yang tak ternilai. Tiada seorang Guru yang pernah berbuat demikian, selain Yesus Kristus Tuhan yang tercinta.

Dengan membasuh kaki para murid-Nya, semua orang Kristen ditantang untuk berani menjadikan Yesus sebagai “teladan kasih” dalam ziarah hidupnya. Yesus telah menunjukkan kasih-Nya kepada murid- murid-Nya lewat pembasuhan kaki dan setiap orang Kristiani diundang untuk meneladani-Nya. Kita pun dapat meneladani-Nya dengan cara memberi perhatian kepada sesama kita yang berkekurangan, yakni mereka yang miskin perhatian, hidup terisolir di tengah masyarakat, mereka yang selalu menjadi korban ketidakadilan, yang dikucilkan dari tengah-tengah pergaulan bersama. Selain itu, cinta Kristus yang sama dapat pula dihayati dengan cara memberi hati dan merangkul orang-orang yang sangat membutuhkan cinta dan perhatian.

Di tengah-tengah pandemic covid-19 yang masih melanda dunia, ternyata masih ada begitu banyak orang yang membutuhkan cinta dan perhatian sesamanya. Kepada mereka tentu bisa diupayakan berbagai macam tindakan kasih dan pelayanan. Di saat-saat ini, mereka memang memerlukan bukti nyata kasih dari sesamanya. Dan satu hal yang pasti yang bisa kita kerjakan ialah ikut mendoakan mereka dan memohon agar Kristus yang membasuh kaki para murid-Nya pun sanggup membersihkan mereka dari segala dosa dan kegelisahan, kekuatiran atau ketakutan dalam hidup dan penderitaan mereka saat ini.

Melalui pembasuhan kaki para murid-Nya, Yesus tidak hanya telah menanggalkan kebesaran dan keagungan diri-Nya sebagai seorang Putra Allah yan disimbolkan dengan cara “menanggalkan jubah-Nya” (bdk. Yoh 13:4), tetapi juga menyatakan dengan penuh kelembutan cinta seorang Allah yang membersihkan dosa dan kejahatan dunia. Dengan membersihkan kaki Petrus dan para murid yang lain, itu sama dengan mengatakan bahwa Kristus ingin membersihkan apa yang paling kotor dari tubuh seseorang. Sejatinya, tindakan itu adalah bentuk sederhana Kasih Allah yang mau membersihkan dosa dan kejahatan manusia. Kita sekalian memang sudah bersih, akan tetapi terkadang tidak semua kita bersih (bdk. Yoh 13:10). Oleh karena itu, semoga dengan Peristiwa Malam Perjamuan ini, Cinta Kristus semakin meraja dan mengakar dalam hati, tepatnya dalam seluruh dinamika dan perjuangan hidup umat Kristiani. Kiranya, tindakan Kristus yang melayani para murid-Nya pada Malam Perjamuan itu sekaligus juga menjadi dorongan bagi semua murid-Nya untuk pergi melayani dan merendahkan diri bagi sesama di sekitarnya tanpa pamrih. Sungguh dunia ini perlu diisi dengan ungkapan kasih antara yang seorang dengan yang lain.

Dunia ini – dalam banyak hal – sejatinya masih kekurangan cinta bahkan kehilangan harapan untuk hidup damai dan harmonis antara satu dengan yang lain. Cinta yang sejati itu tidak ditemukan di dalam kemegahan dan kemewahan hidup. Cinta yang sejati justru harus ditemukan dan dirayakan dalam kesederhanaan dan kelembutan kasih seorang yang melayani sesamanya dengan setia dan rendah hati. Dan Cinta yang sejati itu adalah Kristus itu sendiri. Dialah Sang Teladan Kasih yang unggul dari kasih yang pernah diberikan oleh dunia. Cinta yang sejati itu hanya bisa dirasakan dalam diri-Nya yang rela merendahkan dan mengosongkan diri bagi sahabat-sahabat-Nya (bdk. Yoh 15:13). Cinta yang sejati itu tak bersyarat tanpa menuntut apa-apa, selain kerelaan dan kelembutan hati untuk merangkul dan memaafkan yang lain. Cinta yang sejati itu tak pernah lekang oleh waktu dan selalu menembus batas-batas egoisme dan cinta diri yang palsu. Akhirnya, cinta yang sejati itu hanya ada dalam Dia yang rela membasuh kaki kita sekalian yang kotor dan penuh lumpur dosa. Cinta yang sama mengundang manusia Kristiani untuk pergi menabur kebaikan dan mewartakan bahwa Kristus telah melayani Anda dan saya dengan cara yang unik dan penuh kelembutan.

Selamat Merayakan Perjamuan Tuhan. Tuhan memberkati kita sekalian. Syallom dari Seminari Tinggi Montfort, “Pondok Kebijaksanaan”, Malang. Fidel, smm

×
Berita Terbaru Update