-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Kristus, Hamba Yahwe Yang Menderita

Minggu, 05 April 2020 | 09:59 WIB Last Updated 2020-04-05T03:52:03Z
Refleksi Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Kristus, Hamba Yahwe Yang Menderita
Refleksi Minggu Palma Tahun A 2020 (Pater Fidelis Wotan, SMM)


Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

Yes 50:4-7
Flp 2:6-11
Mat 26:14-27:66

Pada hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Minggu Palma atau Minggu Daun-daun. Dengan memasuki Minggu Palma ini, sebetulnya kita memasuki episode terakhir perjalanan rohani selama 40 hari. Dalam liturgi Minggu Palma berkumandang nada-nada kemenangan, tetapi sekaligus bertentangan dengan itu, yaitu nada kesengsaraan yang nantinya akan mewarnai seluruh Pekan Suci. 

Sesungguhnya kalau diperhatikan dengan saksama, kebiasaan yang digunakan selama Pekan Suci ternyata sangat kaya dengan simbol-simbol. Simbol-simbol tersebut, yaitu penggunaan daun palma dan perarakan palma. Selain itu, simbol-simbol lain yang dipakai misalnya pembasuhan kaki pada hari Kamis Putih pada malam Perjamuan Tuhan serta penghormatan salib secara istimewa pada hari Jumat Agung. Kemudian pada Malam Paskah, “cahaya” menjadi simbol yang sangat kuat ketika api baru serta lilin Paskah bernyala dan diarak menuju panti imam sementara semua lampu di gereja atau kapel dipadamkan. Air juga kita pakai sebagai pembaruan janji baptis. Namun semuanya itu mungkin tidak dilaksanakan secara langsung bersama umat karena ketiadaan ibadat atau Misa bersama umat secara publik. Semua ini harus terjadi karena situasi khusus (darurat) yang tengah melanda hidup kita di dunia saat ini (wabah virus Corona). Ada banyak umat terpaksa harus menahan kerinduan besarnya untuk merayakan langsung secara bersama semua simbol-simbol perayaan itu dalam liturgi suci yang agung nan meriah dengan duduk tenang, dan dalam keheningan besar mengikutinya dari rumah- rumah (via online atau livestreamingnya atau bahkan mengikuti lewat pakai pengeras suara).

Liturgi hari ini diawali dengan peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem yang disambut dengan pekik kegembiraan yang kemudian berubah secara total sebagai renungan khidmat mengenai Kisah Sengsara Tuhan Yesus. Sebagai bentuk penyambutan meriah atas masuknya

Yesus pergi ke Yerusalem, kita dapat mengadakan permenungan yang terkait dengan perjuangan kita selama hampir 40 hari dalam laku tobat dan transformasi (pembaharuan) diri. Apakah sudah ada tindakan tobat dan pembaruan diri yang nyata entah secara pribadi atau bersama? Sebetulnya Pekan suci ini masih menyisakan kesempatan yang baik bagi kita untuk berbuat amal kasih dan bertobat.

Di tengah merebaknya virus corona (Covid-19), rasa-rasanya perayaan Pekan Suci kita mulai hari ini sungguh-sungguh membawa kita sekalian masuk ke dalam sebuah permenungan yang mendalam tentang makna panggilan kemuridan kita masing-masing. Pertanyaannya, yakni “sejauh mana masing- masing murid Kristus ikut ambil bagian dalam sengsara dan penderitaan-Nya”. Sengsara dan penderitaan Kristus sudah pasti jauh lebih dahysat dan menyengsarakan daripada penderitaan manusia saat ini atau penderitaan dunia saat ini. 

Di tengah-tengah terombang-ambingnya “perahu” perjalanan hidup manusia karena diterpa badai virus corona, mungkin saja ribuan orang berteriak dan berseru memohon bantuan dan pertolongan Tuhan, maka doa dan upaya - upaya manusiawi untuk memerangi wabah yang satu ini terus-menerus diupayakan sampai detik ini. Namun, sebagai orang beriman, tidak ada yang harus ditakuti karena di dalam penderitaan Kristus, di dalam sengsara dan kematian-Nya ada seberkas cahaya harapan baru untuk menikmati fajar baru, keselamatan abadi, yakni kemenangan jaya Kristus yang akan bangkit nanti pada hari Paskah.

Pada hari ini, kita sekalian umat beriman Katolik dipanggil untuk sungguh-sungguh ikut ambil bagian merenungkan bacaan-bacaan Minggu Palma tentang Sengsara dan Kematian Tuhan kita Yesus Kristus. Kalau kita memperhatikan dengan baik, sebetulnya Kisah Sengsara Yesus terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama, berawal dan berakhir dengan episode Yudas, (Mat 26:14-16), yakni Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala  (Mat  27:3-10),  lalu  Yudas mengembalikan 30 keping perak dan menggantungkan diri. Sementara Bagian Kedua, Kisah sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus  dan melepaskan Barabas atas desakan Imam-imam Kepala, Mat 27:11-26) dan berakir dengan tindakan Pilatus juga (mengirim penjaga ke kubur agar jenazah Yesus tidak diambil oleh para murid-Nya pada hari ketiga).

Ketika bisa melihat bersama bahwa ternyata kehidupan Yesus pada hari-hari terakhir memang porakporandakan oleh dua tokoh ini, yakni Yudas dan Pilatus. Namun sebetulnya mereka berdua hanyalah ‘Tangan Kotor’ para Imam Kepala, orang Farisi dan Tetua-tetua Yahudi. Kisah tragis Yudas seringkali kurang didalami maknanya, justru dia menjadi sosok yang paling rentan sasaran cercaan dan caci-makian orang, barangkali kita pun termasuk di dalamnya yang ikut mencerca habis-habisan sikap Yudas. Akan tetapi, mungkin kita bisa lebih memahami misteri tindakan ilahi jikalau kita melihat bagaimana Yesus menanggapinya. 

Hal yang terdengar dalam Injil Matius, Yesus menyampaikan bahwa ada seorang yang akan menyerahkannya, tetapi Ia samasekali tidak menuduh orang itu. Bahkan tatkala Yudas pun ikut bertanya apakah dia itu orangnya, Yesus hanya menjawab “Engkau telah mengatakannya” (Mat 26:25). Sebetulnya, kata-kata Yesus ini bisa diartikan sama dengan berkata begini: “Coba pikirkan apa yang sebenarnya sedang kau lakukan ini!” Kalau kita memperhatikan sikap Yudas, sebetulnya dia samasekali tidak bermaksud untuk “mencelakakan Yesus”, karena ada yang mengatakan bahwa sebetulnya ia hanya ingin memeroleh relasi dengan kaum berkuasa. Dikatakan demikian, sebab bisa jadi dalam hati Yudas muncul pikiran ini: “toh nanti juga Yesus sanggup menghindari situasi ini karena Dia memiliki kuasa untuk melawannya atau menghindarinya”.

Yudas tentu punya anggapan atau pandangan tersendiri tentang Yesus dan inilah yang membuat dirinya mendapat celaka. Kita semua mengetahui bahwa Yudas adalah salah seorang yang punya relasi yang sangat dekat dengan- Nya, akan tetapi ia justru samasekali buta terhadap Yesus, ia tidak bisa melihat dengan lebih jelas dan lebih dalam siapakah Yesus bagi hidupnya. Selain Yudas, para murid Yesus pun tidak memahami dengan baik isi perkataan Yesus yang mengatakan bahwa Ia akan mengalami sengsara, wafat dan bangkit kembali. Yudas memang hanya ingin mencari keuntungan dirinya sendiri dengan menjual Yesus, lantas ia samasekali tidak melihat aspek Kebijaksanaan Ilahi. Tragisnya, Yudas sekali lagi tidak menyadari tindakan atau sikapnya itu. Tatkala ia baru mulai menyadari perbuatannya, rupanya itu sudah terlambat sekalipun ia mengembalikan uang 30 keping perak itu. Yang pasti, ia telah mengkhianati Yesus.

Mungkin saja saat ini terdapat begitu banyak orang yang turut menyangkal Yesus seperti yang pernah terjadi pada Petrus dan para murid-Nya yang lain, termasuk sikap Yudas hari ini. Dan mungkin juga, andaikata seperti Yudas mengurungkan niatnya, bisa jadi malapetaka dan kematian bagi Yesus tidak akan terjadi. Namun, yang pasti bahwa tidak ada seorang pun, termasuk kita tidak akan sanggup menghalangi Kehendak Ilahi, karena inilah Jalan Allah untuk menyelamatkan semua orang (dunia).

Dengan menyerahkan Yesus, sebetulnya Yudas telah turut campur tangan dengan urusan seorang anak Allah, seorang yang benar, yang tidak berdosa, tetapi diperlakukan bak seorang penjahat dan pendosa besar. Pilatus juga ikut campur tangan di dalamnya, namun semua yang terjadi pada Yesus bukan karena Pilatus karena seluruh bagian kedua dalam kisah sengsara tadi (Mat 27: 11-26) lebih merupakan akibat kekonyolan atau ketidakberdayaan Pilatus sebagai penguasa dunia yang dengan begitu gampang dimanipulasi oleh para pemimpin Agama Yahudi.

Yesus tetap setia pada jalan, dan memang inilah jalan yang harus ditempuh-Nya. Ia adalah gambaran yang hidup dari seorang Hamba Yahwe yang tidak menyembunyikan muka-Nya ketika dinodai. Dia malah tampil sebagai seorang yang tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Dia memberi punggung-Nya untuk dipukuli oleh orang lain dan menyerahkan pipiNya kepada orang-orang yang mencabuti janggutnya. Dia malahan tidak menyembunyikan muka-Nya tatkala dinodai dan diludahi. Namun pada akhirnya Dia sendirilah yang akan ditolong dan karenanya Ia tidak akan pernah mendapat malu (bdk. Yes 50:4-7).

Inilah Yesus yang kita Imani, Dia yang kita agung-agungkan, Dia yang kita sembah, kini harus menanggung semua kejahatan dan dosa kita (dunia) dengan membiarkan segala keburukan, kemalangan, derita dan kesengsaraan terjadi pada-Nya. Maka dalam merenungkan semuanya ini, kita sekalian diundang untuk belajar hening, diam dan mendengarkan Kristus, Dia yang telah menderita untuk banyak orang, untuk dunia kita. 

Hari-hari belakangan ini, kita ingat, bahwa selain Yesus yang telah lebih dahulu mengalami penderitaan yang luar biasa, di sekitar kita, di dalam dunia kita saat ini terdapar begitu banyak orang yang menderita, entah disiksa, dihina, dicemooh, dikucilkan, maupun juga orang-orang yang merasa sudah kehilangan harapan karena ditimpa malapetaka yang sangat mengerikan seperti yang tengah kita alami saat ini (kemalangan dunia karena wabah virus Covid-19). Mungkin bersama semua mereka yang tengah menderita, kita sekalian juga diundang untuk memandang Kristus, Hamba Yahwe yang menderita itu dan kepada-Nya kita semua menaruh harapan dan permohonan agar ikut menikmati fajar sukacita baru karena Kebangkitan- Nya. Tuhan memberkati (berkah dalem)!

Penulis adalah Biarwan Montfortan (Serikat Maria Montfortan-SMM), tinggal di rumah formasi/seminari Tinggi SMM (sebagai Formator) di Malang.
×
Berita Terbaru Update