-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi "The Passion of Christ": Merenungkan Derita Kristus Bersama Bunda Maria

Jumat, 10 April 2020 | 15:49 WIB Last Updated 2020-04-10T08:53:41Z
Refleksi "The Passion of Christ": Merenungkan Derita Kristus Bersama Bunda Maria
Ketika Yesus berada dipangkuan Sang Ibu-Nya

Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

Yes 52:13-53:12
Ibr 4:14-16
Yoh 18:1-19:42

Penderitaan, sengsara, dukacita adalah realitas hidup dunia. Setiap orang pasti pernah merasakan apa artinya menderita. Di hadapan sebuah situasi yang sulit, katakanlah penderitaan atau dalam bahasa Spiritualitas Kristiani, ‘Salib’, terdapat seribu satu macam pertanyaan. Mengapa ada penderitaan, mengapa manusia atau dunia menderita? Tidak hanya itu, pertanyaan yang paling penting lainnya ialah pertanyaan tentang kebaikan dan keadilan dari Allah. Inilah pertanyaan klasik teodicae sebagaimana yang pernah terngiang dalam ruang-ruang filsafat dan teologi. Dari situasi tersebut, terkadang muncul pertanyaan klasik a la filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) mengenai letak cinta dan kebaikan atau bahkan keadilan Allah bagi manusia (teodicea/teodisea: “theos”, Allah dan “dike”, keadilan) dan seluruh ciptaan- Nya. Pertanyaan teodicea itu mungkin bisa dirumuskan demikian: “kalau Allah ada, mengapa ada penderitaan atau kejahatan di muka bumi”. Sebagai orang beriman, mempertanyakan relasi dengan Tuhan merupakan hal yang lumrah, sebab orang beriman memiliki konsep tentang Allah yang Mahabaik, Mahamurah, Mahaadil, dsb. Kini, konsep tentang kemahabaikan Allah itu dihadapkan secara paradoks dengan realitas lain di luar diri- Nya. Adanya bencana alam atau pun seperti wabah virus Covid-19 saat ini adalah suatu kondisi yang bertentangan dengan kebaikan yang ada di dalam diri Allah. Jadi, bisa saja orang bertanya apakah Allah yang Mahabaik, Mahakasih itu mengendaki bencana seperti yang tengah terjadi saat ini? Lalu apa sebabnya Dia yang Mahabaik itu mengizinkan terjadi suatu bencana dalam hidup manusia. Pandangan atau pun persepsi seperti inilah yang seakan-akan “menuduh” Allah sebagai sumber malapetaka dan kejahatan. Padahal tidaklah demikian dan justru sebaliknya Dialah yang menjadi sumber segala kebaikan, cinta dan kemurahan (bdk. Mzm 108:8-14; Rm 8:28; Luk 6:36).

Berhadapan dengan situasi penderitaan apapun tampilannya, biasanya dari dalam diri manusia timbul aneka macam perasaan. Ada rasa takut, gelisah, kecewa, sedih, dll. Apapun bentuk atau model penderitaan, entah mungkin itu karena difitnah orang, diperlakukan secara tidak adil, di PHK-kan, dimusuhi orang lain, atau barangkali menderita karena bencana alam, juga mungkin karena terserang wabah seperti yang tengah dialami dunia saat ini akibat adanya virus Covid-19, manusia tidak hanya mengalami rasa takut, tetapi juga kehilangan harapan untuk hidup lebih baik lagi, dsb. Semua penderitaan itu memang terasa berat, namun rasa - rasanya itu belum seberapa beratnya jikalau dibandingkan dengan penderitaan Kristus yang secara khusus diperingati pada hari ini. Pada hari ini (Jumat Agug), seluruh umat Kristiani memeringati wafat dan kematian Kristus. Dialah manusia yang menderita (Hamba Yahwe) yang telah mengorbankan diri-Nya dan rela menanggung kejahatan dan dosa manusia demi keselamatan banyak orang. Dialah Yesus Kristus, Putra Allah yang telah merendahkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib (bdk. Flp 2:5-11). Mungkin kita masih bertanya, mengapa Yesus harus menderita? Kalau Dia Allah, mengapa Dia mesti menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan? Berhadapan dengan pertanyaan ini, soal di manakah letak kebaikan dan keadilan Allah, mungkin bisa juga diterapkan pada seorang Yesus Kristus. Jikalau, Allah Bapa itu Mahakasih, mengapa Ia tega membiarkan Putra-Nya tergantung di palang penghinaan? Sulit memang bagi orang yang tidak mengimani-Nya untuk mengerti pertanyaan-pertanyaan ini. Mungkin bisa kita katakan sebaliknya, bukan hanya di mana letak cinta dan kebaikan Allah atas misteri penderitaan Putra-Nya, tetapi justru harus dikatakan bahwa di situlah letak cinta dan kebaikan serta belaskasih Allah bagi dunia dan manusia. Sebab melalui jalan salib dan penderitaan Kristus, dunia diselamatkan. Maka, kematian Yesus itu bukan sesuatu yang sia-sia belaka. Justru karena Kasih Allah-lah, Yesus diutus oleh Bapa-Nya bagi dunia; “Karena begitu besar kasih Allah, maka Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16).

Dalam hal tertentu, Yesus itu sama seperti kita sebagai manusia Dia juga mengalami sisi kemanusiawiaan. Sebagai manusia Ia juga mengalami rasa sakit karena siksaan, didera, dihina. Namun yang membedakan Dia dengan kita sebagai manusia biasa ialah bahwa Yesus mau menderita, Ia mau menanggung secara sukarela segala penghinaan, penganiayaan, celaan, dan hujatan manusia yang membenci-Nya. Lukisan penderitaan seperti ini sudah sangat jelas dikatakan Nabi Yesaya bahwa Yesus, Hamba Yahwe menderita, justru tidak membalas perbuatan keji manusia atas diri-Nya. Yesaya melukiskan penderitaan Yesus bagaikan domba yang diam, la dicukur, seperti anak domba yang diantar ke tempat pembantaian, dan walaupun kematiaan sudah di depan mata-Nya, Yesus sama sekali tidak memberontak. dlsb (bdk. Yes 52;13- 53:12). Pertanyaannya, mengapa Yesus mau menanggung segala kedurhakaan manusia? Mengapa Ia mau mati dengan cara begitu mengerikan? Lihatlah luka-luka penderaan atas diri-Nya, berapa kali Anak Manusia ini harus menahan cambukan? Berapa kali Ia harus dicemooh, dicibir, dan dipukuli orang? Rasa-rasanya jumlah penderaan atas diri-Nya tak terhitung banyaknya. Oleh karena begitu banyaknya penderaan yang mesti Ia terima, lantas rupa-Nya pun nyaris tak dikenali lagi; “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yes 52:14).

Setiap tahun seluruh umat Kristiani memeringati Sengsara, Wafat dan KematianYesus. Hal ini sudah menjadi devosi orang Kristen, yakni devosi jalan salib, yang menjadi bagian integral dari hidup orang Kristen. Seringkali kita kurang memperhatikan tatkala memeringati sengsara dan kematian-Nya, yakni Yesus dicobai dan diuji kesetiaan-Nya sama seperti kita, hanya saja Dia tidak pernah berdosa. Mungkin saja kita tidak bisa menangkap sepenuhnya bagaimana Dia, sebagai Allah dapat dicobai serta mau menangis dan mengeluh bahkan takut menghadapi maut. Dalam Matius 26: 38 Yesus berkata: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasnya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (bdk. Mrk 14:34; Luk 24:41). Rasa takut itu tentu merupakan bagian dari sisi kemanusiaan Yesus dan bukan sisi ke-Allahan-Nya. Sekalipun demikian, Yesus tetap Allah dan sekaligus juga manusia yang menderita, sebab Dia adalah Allah yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba (bdk. Flp 2:7).

Sebagai manusia, pada saat ini, Yesus benar-benar menderita. “Ecce homo!”. Lihatlah manusia itu!”, demikianlah Pilatus memperkenalkan Yesus kepada khalayak yang berseru-seru menuntut agar Ia harus dihukum mati. Kita sekalian bisa membayangkan bahwa kala itu darah-Nya membasahi seluruh tubuh-Nya akibat penderaan. Di kepala-Nya ada mahkota duri dan Ia mengenakan jubah ungu tanda penghinaan. Di hadapan-Nya para musuh secara mengejikan melancarkan tuntutan agar ia disalibkan. Pilatus, sang penguasa dunia saat itu seakan tak berdaya dipermainkan oleh para pemimpin Agama Yahudi. Harapannya untuk membebaskan Yesus ditepis sebab “ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: ‘salibkan Dia!, salibkan Dia!’ (Yoh 19:5-6).
“Ecce homo!”. Kata-kata Pilatus ini sebetulnya jauh melampaui apa yang sedang ia pikirkan saat itu, “lihatlah manusia itu!”. Dialah manusia yang harus menanggung semuanya. Dia harus mati dan Dialah Adam baru yang datang untuk memulihkan manusia pertama, Adam lama. Dialah yang menanggung segala kesalahan dan dosa kita. Nabi Yesaya berkata: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kenatulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurya kita menjadi sembuh” (Yes 53:4-5).

Pada saat ini, sejatinya Yesus sedang menangis. Dia menderita dan menangis bukan karena beratnya salib yang Ia pikul, juga bukan karena banyaknya pukulan yang menghantam tubuhnya. Demikian juga, Ia menangis bukan karena hujatan, ejekan, cemoohan dari para lawannya. Dia menderita dan menangis saat ini justru karena dunia kehilangan cinta, kehilangan kasih untuk memaafkan dan mengampuni yang lain. Ia menangis karena dunia tidak lagi mencintai-Nya dan enggan mencari serta menemukan-Nya. Ia menangis karena di mana-mana masih terdapat begitu banyak kejahatan dan kekejian dalam hidup manusia. Dia menangis karena hanya segelintir orang yang mau menderita dan berkorban untuk orang lain. Dia juga menangis karena kerakusan dan keangkuhan serta keserakahan manusia. Bersama dengan ribuan orang yang tengah menderita saat ini, secara khusus semua korban akibat wabah virus Covid-19, Yesus yang lemah lembut dan rendah hati itu mau menderita pula untuk mereka. Ia pun ingin sekali lagi datang mengibur dan meneguhkan mereka. Penderitaan mereka memang tak sebanding dengan penderitaan-Nya. Namun Cinta-Nya untuk mereka jauh lebih besar dan jauh lebih dalam dari cinta yang pernah mereka berikan kepada-Nya.

Saat ini Yesus menangis minta untuk didengarkan, namun apa yang terjadi, apakah manusia sering mau mendengarkan tangisan-Nya? Dia mengeluh rasa sakit karena hujatan, ejekan, olok-olokan manusia, akan tetapi apakah setiap orang mau turut menderita bersama-Nya. Mungkin ada di antara kita akan merasa begitu dekat dengan-Nya sampai juga bisa merasakan penderitaan Yesus dalam hidupnya. Yesus yang dicobai, Dia yang menangis, mengeluh dan bahkan juga takut terhadap maut itu, sekarang menjadi Pengantara kita, Dialah yang menghubungkan kita dengan Bapa-Nya. Dia benar-benar mengenal kita satu persatu karena Dia betul- betul sudah diuji iman dan kesetiaan serta ketaatan-Nya pada Allah dan bahkan menderita lebih banyak dari orang lain. Dia mengenal dengan sangat baik Allah Bapa, karena Dia adalah Anak-Nya. Itu sudah cukup untuk membahagiakan kita di hari peringatan ini, karena Yesus yang menderita itu, kini menjadi Perantara pada Bapa-Nya bagi kita, Dialah jaminan hidup dan keselamatan kita (bdk. Ibr 4:14-16).

Dengan sengsara dan kematian Kristus yang kita peringati, sebetulnya, Yesus ingin mengajak kita para murid-Nya agar bersama Ibu-nya yang tercinta, Maria terus belajar tegar dan kuat di dalam memikul salib kita dan menderita bersama-Nya (bdk. Yoh 19:25-27). Sebab ramalan Simeon pada Maria tentang sebilah pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35), kini benar-benar terjadi. Sebagai seorang Ibu, Maria harus menyaksikan dan mengalami sendiri dari dekat jalan salib Putranya yang terkasih. Saat ini, Maria tidak lagi melihat Putranya yang gagah perkasa nan elok parasnya. Kini, ia pun tidak lagi memandang Putranya yang dengan kecerdasannya mengajarkan cinta dan kebaikan Allah bagi manusia. Kini, Maria pun tidak lagi menyaksikan dari dekat mukjizat demi mukjizat hebat yang pernah diperlihatkan oleh si buah hatinya itu (bdk. Yoh 2:1-11). Dan kini, Maria tak lagi memandang Putranya tampil bak “Pangeran Cinta” yang dipuji dan disanjung-sanjung para pengikut-Nya. Semuanya berubah total menjadi hening, sepi. Semuanya larut dalam lautan duka yang mendalam. Hatinya bak disayat pisau yang tajam. Sang Bunda seakan tak sanggup lagi menatap wajah buah tubuhnya itu dari dekat. Kini, ia hanya melihat Putra-Nya berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan-jalan penuh penderitaan menuju Kalvari. Dalam diamnya, ternyata ia menyimpan semuanya dan merenungkannya.

Kabar sukacita yang diterimanya dari Malaikat Gabriel (bdk. Luk 1:26-38), kini berubah menjadi kabar dukacita. Lalu apakah yang masih tersisa? Yang tersisa hanyalah iman dan pengharapan serta kasih seorang ibu pada Putranya sampai di bawah kaki salib-Nya. Penginjil Yohanes mengatakan: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai”. Lalu ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19:30). Dengan ini, maka selesailah jalan-jalan penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus dan Ibu-Nya memandang semuanya itu dengan hati keibuannya dan merenungkannya.

Semoga dengan merenungkan Misteri Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus, kita sekalian umat beriman Kristiani boleh ikut ambil bagian dalam seluruh penderitaan Kristus sehingga pada akhirnya menikmati Paskah Kebangkitan-Nya yang mulia dan menyelamatkan kita. Tuhan memberkati. Salve, Ave Maria - Pater Fidelis Wotan SMM (Seminari Montfort “Pondok Kebijaksanaan”, Malang).
×
Berita Terbaru Update