-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi "Sabbatum Sanctum"; Sabtu Sunyi Menuju Paskah Kristus

Sabtu, 11 April 2020 | 15:23 WIB Last Updated 2020-04-11T08:38:30Z
Refleksi "Sabbatum Sanctum"; Sabtu Sunyi Menuju Paskah Kristus
Sabtu Suci-Yesus terbaring dalam kubur (Ilustrasi:google)

Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

“Sabtu Sunyi” Di antara Kamis Putih dan Jumat Agung

Selama tiga hari terakhir pada Pekan Suci, yakni selama Tri Hari Suci, seluruh umat Kristiani memasuki kurun waktu yang amat suci. Semua umat merenungkan dan merayakan saat-saat akhir hidup (sengsara dan kematian) serta saat kemuliaan Kebangkitan Yesus. Pada Malam Perjamuan Terakhir (the last supper), seluruh mata tertuju pada episode Kasih Kristus bersama para murid-Nya, yakni saat di mana Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama mereka. Malam perjamuan itu bukanlah episode keputusasaan atau saat-saat sedih bersama Kristus, melainkan sebuah kisah cinta persaudaraan yang penuh dengan keakraban. Di situ Yesus sebagai Tuhan dan Guru para murid melakukan suatu perjamuan cinta, saat di mana ia membagi-bagi diri-Nya dengan memecah-mecahkan roti dan memberikan anggur kepada mereka sebagai suatu kenangan akan Dia (Ekaristi). Dari situ, kemudian lahirlah Ekaristi. Tidak hanya itu saja, pada Malam Perjamuan Terakhir itu, Yesus juga menunjukkan suatu sikap kasih yang amat dalam maknanya untuk diteladani, yakni “membasuh kaki Petrus dan para murid-Nya yang lain. Itu adalah simbol perendahan diri-Nya sekaligus ajakan bagi mereka untuk juga melayani orang lain dengan penuh kasih dan kelemahlembutan.

Sehari setelah malam Perjamuan Terakhir itu, Yesus benar-benar harus memasuki situasi yang paling mengerikan dalam hidup-Nya. Ia diadili dan dihukum mati bak seorang penjahat kelas berat. Kala itu, para murid yang sehari-hari berada bersama dengan-Nya pun lari meninggalkan-Nya seorang diri. Ia diadili di hadapan Pilatus dan tak ada seorang pun yang mau menjadi saksi untuk membela-Nya. Yesus betul-betul harus menghadapi sidang pengadilan itu seorang diri dan dalam kesendirian itu Dia menghadapi berbagai macam tuduhan dan tuntutan untuk dihukum mati. Sebagai seorang manusia sekaligus Allah Ia diadili dan dihukum mati. Allah Bapa-Nya pun seakan tak mampu membela Putra-Nya sendiri, Ia ditinggalkan oleh Allah-Nya sendiri. Yesus sendiri bahkan berseru dengan nyaring: “Eli-Eli Lama Sabakhtani”; Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46; Mrk 15:34; bdk. Mzm 22:1-3). Demikian juga Sang Bunda yang mengandung dan membesarkan-Nya pun tak dapat berbuat apa-apa. Dari dekat dia mengikuti jalan-jalan sulit, yakni jalan salib dan penderitaan Putranya sendiri sampai di bawah kaki salib (bdk. Yoh 19:26-27). Dia mati sebagaimana tuntutan dan hukum Yahudi yang harus terjadi pada-Nya, tapi kematian-Nya itu jauh lebih besar dan berharga daripada pikiran dan anggapan orang Yahudi yang melihat salib sebagai suatu batu sandungan dan bagi kaum Yunani salib adalah suatu kebodohan (bdk. 1 Kor 1:23). Kematian-Nya adalah sekaligus kemuliaan-Nya. Kematian-Nya adalah sekaligus kemenangan-Nya atas dosa dan keserakahan manusia dan dunia. Dia mati untuk menyelamatkan banyak orang. Dia adalah Allah yang benar, yang mau menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan semua orang. Inilah cinta yang tiada taranya dari seorang Allah yang menderita “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabat-Nya” (Yoh 15:13).

Setelah Yesus menyelesaikan perjalanan sengsara dan derita-Nya sampai di puncak Golgota (lih. Mat 26:14-27:66; Yoh 18:1-19:42), tubuh-Nya yang sudah lusu dan tak berbentuk itu, kini diturunkan dan dipangku oleh Ibu-Nya yang tercinta dan dimakamkan oleh orang-orang yang sangat mencintai dan mengasihi-Nya. Semuanya sudah berakhir, drama cinta dan penyaliban telah berakhir, Sang Anak Manusia kini dibaringkan di dalam perut bumi, dalam makam yang sepi, sunyi. Semuanya hening total, tak ada dialog, tak ada komunikasi. Dia benar-benar telah berjarak dari yang lain; dengan Ibu-Nya yang tercinta, dengan saudara-saudari dan kaum keluarga-Nya dan juga berjarak dengan para murid yang Ia kasihi. Dia berbaring di sana dalam kesendirian sebagaimana ketika ia digiring ke tempat pembantaian untuk siap dicukur (bdk. Yes 52:13-53:12) dan ditinggikan dari bumi dan digantung di atas palang penghinaan seorang diri (bdk. Yoh 12:32). Semua mata memandang-Nya dengan penuh iba dan ishak tangis yang menderu-deru tiada hentinya. Kini Ia memasuki episode keheningan total, masuk ke dalam sebuah alam yang belum pernah dimasuki-Nya, yakni ke tempat dunia di bawah, ke tempat penantian dari selaksa jiwa yang belum pernah mencicipi keselamatan abadi. Sang Anak Manusia turun ke situ dan menjumpai semua mereka satu per satu.

Inilah “Sabtu Sunyi” atau dikenal “Sabtu Hening” bersama Kristus yang telah masuk ke dalam dunia paling bawah bersama dengan semua orang yang telah meninggal dari abad ke abad. Jikalau pada saat Jumat Agung Kristus digiring ke tempat siksaan dan pembantaian paling keji hingga mati di atas palang penghinaan, hari ini sebelum Paskah, Ia merasakan betapa gelap dan sunyi makam di bawah bumi. Lalu sebetulnya apa yang terjadi pada makam yang sunyi, sepi, hening itu? Dalam Bahasa kita saat ini, mungkin samaseperti nasib dunia belakangan ini, ada begitu banyak orang bahkan kita seakan tidak mampu lagi mengalami keramaian dan kegemerlapan hidup sosial karena dibelenggu oleh wabah virus covid-19. Semua simbol budaya dan agama, segala macam ritus rohani, spiritual dalam ruang publik dan privat seakan tak lagi bermakna. Bersama dengan Kristus yang menderita sengsara dan wafat pada Jumat Agung, semua yang lain pun tampak mati dan tak berdaya. Mungkin bisa direfleksikan bahwa rupanya Kristus pun pada “Sabtu Sunyi” ini juga mengalami “situasi ketiadaan”, Ia berada dalam suatu keheningan, kesendirian-Nya yang total. Jikalau memakai ungkapan dunia saat ini, mungkin bisa dikatakan Ia juga seakan turut merasakan dampak social distance measure bahkan physical distancing. Malahan mungkin lebih heboh lagi seakan Kristus juga terisolasi di dalam perut bumi dan tampak seolah-olah tidak bisa bergerak atau ke luar dari sana. Mungkin ada di antara kita ikut merefleksikan demikian, apakah Kristus juga mau mengalami situasi manusia dewasa ini yang juga tampak kehilangan bentuk tampilan hidupnya yang normal? Barangkali dalam arti tertentu, Kristus yang wafat dan dibaringkan dalam makam-Nya pun tak bisa berbuat apa-apa, Dia pun mau mengalami situasi dunia, situasi kita saat ini. Lalu, apa pesan kuat dari kehampaan dan kesunyian yang dialami dunia saat ini dan keheningan Kristus di dalam perut bumi? Lantas, apa yang dirayakan pada “Sabtu Sunyi”?

Dikatakan bahwa pada Perayaan “Sabtu Sunyi”, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Dalam masa transisi itu terkandung dua aspek yang saling menyatu, yakni “kedukaan dan harapan”. Dunia tengah berduka karena Yesus sudah wafat di kayu Salib sebagaimana yang dirayakan pada Jumat Agung. Inilah dimensi kedukaan itu. Kemudian pada dimensi harapan, yang akan tampak yakni Paskah Kristus, Dia yang kini tengah berbaring di dalam makam sunyi itu akan bangkit jaya pada hari yang ketiga (bdk. Luk 24:6-7; Mat 28:6). Jadi, pada perayaan “Sabtu Sunyi”, kedua dimensi tersebut, yaitu “kedukaan dan harapan” ditautkan dalam sikap iman. Sembari merenungkan makna ketakberdayaan dan kefanaan manusia di depan jenazah Yesus yang berada di dalam perut bumi (baca: makam), umat Kristiani menghayati makna “Sabtu Sunyi” dengan keheningan dan sikap meditatif. Barangkali pada saat ini, ada orang yang ingin menghentikan segala aktivitas normalnya dan hanya mau mengambil waktu dan jarak dari segala sesuatu untuk berdoa dan merenungkan kematian Kristus yang kini berbaring di dalam makam-Nya.

Perayaan “Sabtu Sunyi” sebetulnya dapat dikatakan pula sebagai “Sabat Kedua” yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya selama enam hari lalu pada hari ketujuh Allah berhenti sejenak dan menguduskannya (bdk. Kej 2:3). Begitu pula, pada “Sabtu Sunyi” yang disebut sebagai “Sabat Kedua”, jenazah Kristus dibaringkan dalam kedamaian dan ketenangan di dalam perut bumi. Kemudian ada yang merefleksikan bahwa melalui kematian Kristus, Allah justru keluar dari “ruang isolasi-Nya” sebagai “pemenang” dengan menciptakan kehidupan baru yang dibawa-Nya yang tampak pada hari Paskah. Dia bangkit dengan jaya. Ketika kita mengatakan dan merenungkan kata “Sabtu Sunyi” atau dalam Bahasa Latin Sabbatum sanctum, itu menunjuk pada arti “Sabat yang kudus”. Kita tahu bahwa pada awal kekristenan, umat Kristiani meyakini hal ini dengan merayakannya secara khidmat atau agung apa yang disebut dengan Sabbatum sanctum dan Paskah. Mengapa demikian, karena melalui Sabbatum sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah, yaitu kebangkitan Kristus. Selanjutnya, baru pada abad IV, umat merayakan Triduum, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Paskah. Mungkin ada yang bertanya apa keistimewaan atau kekhususan dari “Sabtu Sunyi” atau Sabbatum sanctum? Jikalau pada Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah Gereja selalu merayakannya dalam suatu upacara liturgis, maka pada “Sabtu Sunyi”, perayaan serupa sama sekali tidak pernah dirayakan atau diadakan. Ringkasnya, pada Sabbatum sanctum tidak ada perayaan khusus atau tidak ada perayaan liturgisnya. Kalau demikian, apa yang dirayakan pada Sabbatum sanctum? Pada Sabtu Sunyi umat hanya merenungkan secara mendalam dan meditatif dalam kesunyian di depan makam Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh Maria, ibu Yesus dan Maria Magdalena (Mat 27:51). Untuk mendukung suasana reflektif dan meditatif tersebut, maka ada beberapa bacaan suci dapat dipakai untuk merenungkannya, misalnya Ayb 14:1-14, Mzm 31:1-4, 15-16; 1 Ptr 4:1-8; Mat 27:57-66.

“Sabtu Sunyi” dan Refleksi Diri

Dikatakan bahwa “Sabtu Sunyi” merupakan satu-satunya perayaan gerejawi tanpa liturgi, sebab dalam perayaan “Sabtu Sunyi” sebagai umat, kita bisa melakukan suatu perenungan yang meditatif sifatnya. Dalam perenungan itu umat berpuasa menantikan kebangkitan Kristus yang akan terjadi pada Paskah subuh (Easter vigili). Dari sebab itu, “puasa” yang dilakukan pada “Sabtu Sunyi” masih bisa disatukan atau berada dalam kaitannya dengan “puasa” yang dijalankan pada Jumat Agung, untuk mengenangkan dan merenungkan sengsara dan kematian Kristus.

Oleh karena “Sabtu Sunyi” sifatnya hening dan kontemplatif serta meditatif, maka setiap orang diharapkan untuk menciptakan keheningan diri, keheningan batin guna membiarkan diri diresapi oleh Roh Tuhan dalam merenungkan karya keselamatan Allah yang sedang terjadi. Ringkasnya, ciri utama selama “Sabtu Sunyi” adalah “keheningan”. Itulah sebabnya, biasanya dalam situasi atau kondisi ini, masing-masing umat boleh belajar menjadi pribadi yang hening dan kontemplatif. Dari sebab itu, kesempatan ini adalah waktu untuk berdoa, membaca Sabda Tuhan dan merenungkannya untuk menghayati makna kematian Kristus seraya dengan penuh harapan menantikan fajar cerah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus pada Paskah nanti.

Maria dan Keheningan Total Sabbatum Sanctum

Maria adalah sosok yang cukup istimewa menjadi model perenungan kita pada “Sabtu Sunyi” ini. Kehadiran dan partisipasinya dalam kehidupan Yesus (Inkarnasi – Salib) benar-benar tak terbantahkan. Meskipun tentangnya tidak banyak dikatakan dalam Kitab Suci (hanya sekitar 133 ayat PL dan PB), namun kehadirannya dalam hidup Yesus, terlebih lagi “keheningan” dan “diamnya” dapat menjadi model dan teladan hidup umat Kristiani. Persis dalam situasi Tri Hari Suci dan terutama pada Sabbatum sanctum ini, siapapun boleh memandang Kristus bersama Maria. Sebagai seorang yang “hening”, “diam”, “lembut” dan “rendah hati”, seorang Kristiani yang sejati atau seorang murid Kristus yang sejati dapat belajar duduk dekat dengannya untuk kemudian bersamanya merenungkan semua yang telah terjadi pada Putranya. Bersamanya dan juga bersama dengan Maria Magdalena, setiap pengikut Kristus diundang untuk duduk bersimpuh di depan makam Yesus. Jikalau demikian, kira- kira apakah yang akan direnungkan bersama Maria, Ibunda Yesus di depan makam Yesus? Mungkin yang bisa direnungkan ialah soal cinta dan kebaikan Allah yang telah merelakan Putra-Nya mengalami situasi hidup manusia melalui Inkarnasi sampai kematian-Nya di kayu salib. Renungan ini boleh jadi menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk melihat dan mengukur sejauh mana atau seberapa dalam kualitas cinta Allah bagi dunia dan manusia, terlebih lagi melihat karya kasih Allah bagi hidup kita masing-masing. Sebagaimana Maria setia mengikuti Yesus Putranya sampai di bawah kaki salib, demikian juga pada momen mengkontemplasikan misteri keheningan makam yang sunyi dari Yesus Putranya, kita sekalian pun diundang untuk merenungkan seberapa besar cinta dan kesetiaan kita mengikuti-Nya. Hanya dengan kontemplasi yang mendalam bersama Bunda-Nya, kita semua juga akan mengerti makna Salib dan Penderitaan Putranya dan bersamanya pula kita merayakan Paska Jaya Kristus Yesus yang bangkit dari kesunyian makam-Nya. 

Selamat Merayakannya, Dia yang berbaring di makam-Nya memberkati kita dengan Cinta-Nya yang menggelora. Syallom, Pater Fidelis Wotan, SMM – Seminari Montfort “Pondok Kebijaksanaan” Malang (Dari berbagai sumber).
×
Berita Terbaru Update