-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rista Sang Perawat Penuh Kasih (Cerpen karya Rian Tap)

Minggu, 05 April 2020 | 20:07 WIB Last Updated 2020-04-05T13:07:47Z
Rista Sang Perawat Penuh Kasih (Cerpen karya  Rian Tap)
Ilustrasi: ninaindana

Oleh: Rian Tap

Jarum jam penuh menunjuksn pukul 06:00 pagi hari. Rista merasa ada sesuatu yang harus ia kerjakan pagi itu. Ia berjalan menyusuri lorong sepi dengan  sebuah mikrofon di bahunya. Rista berjalan sambil meneriaki luka yang sedang menyakiti dunia. Ya, tentang virus corona meraum merajalela. Mari kita mengatasi virus corona secara bersama, itulah inti dari suaranya pagi itu. 

Ia seorang perawat muda yang baru menyelesaikan pedidikan di sebuah univerisitas ternama  di sebuah kota.  meskipun ia tahu bahwa teriakannya hanya mengganggu mereka yang sedang terlelap pada tidur. Dia berjalan terbirit-birit sebab mikropon dan kotak P3k cukup berat menyadrakan bahunya.  Lima puluh meter kemudian, ia terdiam pada sebuah pojok ruangan tua. Ia melihat begitu banyak orang sedang  duduk termenung berpangku pada harapan yang belum pasti. Mereka memakai masker lusuh hasil pembagian dari dinas kesehatan setempat.

Hari berikutnya Rista kembali meneriaki di gang yang sama. Lalu sosok laki-laki tua keluar dari balik pintu rumahnya: “He..kenapa sih, setiap pagi engkau berteriak? mengganggu orang tidur saja!”. Ujar laki-laki itu marah kepadanya.  Rista tak merespon laki-laki itu, dengan wajah yang berseri, hati berseri-seri Rista belari. Menembus rinai hujan yang datang penuh gesa-gesa, menyusuri lorong-lorong kota. Sesampai di sudut kota, Rista menyusuri semak-semak belukar, dengan membawa segepok cinta dalam dada, entah untuk siapa. Ya..untuk mereka yang mendengarkan suaranya.

Menyelinap di balik semak, di bawah lindungan daun-daun pisang, Rista terjongkok menggumamkan kata-kata. Rista mengelurkan sepotong roti, masker dan obat-obat dari saku dan kotak P3knya. Roti jatah sarapan paginya yang sengaja ia simpan untuk sahabatnya itu. Sebab mereka  telah diasingkan dari dunia. Mereka tak beruang untuk merawat diri sebab Corona telah mengabsurd diri mereka. Meskipun aku tahu apa yang sedang saya lakukan ini merupakan pembunuhan terhadap diriku sendiri. Namun kalau bukan aku yang membantu. Siapa lagi?, ujar Rista. Apalah gunanya aku sekolah tinggi dengan menyabet gelar sebagai perawat.

Rista memotong kecil-kecil, lalu menyuapkan satu persatu potongan roti ke padanya. Butiran air bening satu persatu jatuh tak tertahankan dari kedua bola matanya yang jernih tanpa dosa. Rista menangis terisak-isak sambil bergumam seperti mendaraskan doa. Apakah ini peta-MU, Tuhan? Mangapa dia yang menanggung akibat dari kelakuan mereka yang rasa diri lihai dalam berilmu?. 
Di tepi jalan setapak yang basah, di antara semak-semak rerumputan liar, Rista berbagi cinta. Cinta untuk sahabat yang sedang terluka. Luka datang dari tuan corona yang datang tak mengetuk.

“Kenapa dia kau bawa pulang Ris..?”teriak ayahnya yang sedang memergoki Rista membawa sahabatnya kerumah. Rista berlinang air mata, terus berjalan sambil mendekap penuh kasih sahabatnya memasuki rumahnya. 

“Rista…, rista….kau tidak punya telinga kah?” teriak ayahnya. Rista berhenti sejenak, tanpa menengok  ke arah ayahnya, kecuali terus menatapi wajah sahabatnya dengan penuh belas kasihan.
Dalam hatinya terus bergumam, biarkan aku mati bersamanya. Aku tahu ini jalan dan pilihanku.

“Ayo bawa dia keluar. Cepat bawa keluarrrrr…kata ayahnya! Atau kau yang ku usir dari rumah ini..? Kau mau membawa petaka besar untuk keluarga ini!”

Rista ketakutan tanpa karuan. Dia tak mengira ayahnya yang begitu mencintainya bisa marah sekeras dan sesadis itu. Dia urung membawa sahabatnya ke dalam rumah, Rista keluar…!.  Di emperan belakang rumahlah, satu-satunya tempat yang memungkinkan Rista  untuk menempatkan sahabatnya. Pagi, siang, petang Rista selalu menyempatkan  menengoknya, memberinya makan, memberi perhatian dan terutama memberinya cinta.

Di suatu siang panas yang menyengat, ketika Rista bercanda dengan sahabatnya….,”Hah…, rupanya kau masih menyimpan di budak penyakitan itu di sini, ya..? Dasar kau anak bodoh..! Ayo.. suruh dia pergi. Atau aku sendiri yang mengusirnya..! teriak ayahnya marah besar. 

Dalam suasana yang mencekam dirinya, ia teringat kisah Si kaya dan Lazarus, yang dengan keji Si kaya mengusir Lazarus lantas keborokan rupa pada meja hidangan. Dalam hati kecilnya dia berdoa, Tuhan jangan kau timpa nekara pada ayahku sebab akulah yang salah.

Kali ini Rista tak berkutik, kecuali harus membiarkan sahabatnya untuk pergi. Sambil meneteskan air mata, Rista membiarkan sahabatnya pergi. Seorang sahabat yang ia temukan dalam semak-semak di pinggir jalan setapak. Berkat kasih dan cintanya, Ia telah menyembuhkan sahabatnya.  Luka-luka ayatan dunia sudah memulih, corona ganas telah pergi, tak mampu melawan kasih dan cinta yang rista berikan.

Sahabatnya berjalan gontai, sesekali-sesekali menegokkan wajahnya, seakan ingin mengucapkan terimakasih kepada Rista yang tak sempat mengucapkan kata perpisahan.

Cinta adalah daya paling ampuh. Siapa pun, apa pun yang mendapatkan cinta, akan tersembuhkan dari luka. Termasuk luka corona yang mengganaskan. Kekuatan cinta tak terbatas, mampu membebaskan mereka  yang tertindas. Rista sang perawat sekaligus penenun kasih memberikan cinta tak terbatas.

Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku unit Gabriel. Asal Lembor Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere.
×
Berita Terbaru Update