-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Saat Covid-19: Lonceng Gereja Ikut Mati?

Selasa, 28 April 2020 | 10:31 WIB Last Updated 2020-04-28T03:31:47Z
Saat Covid-19: Lonceng Gereja Ikut Mati?
Jon Kadis

Oleh: Jon Kadis

Tulisan ini muncul pada saat social distancing karena covid-19 yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Hampir semua negara di dunia menyerukan untuk tidak berkumpul, sebagai salah satu cara menghindari penyebaran virus itu, termasuk untuk tidak berkumpul bersama di gedung ibadat, gereja, mesjid, dsbnya. Di Gereja, dalam perayaan Paskah bulan ini, tidak ada umat berkumpul. Pastor dan beberapa petugas intern gereja saja yang melakukan upacara, jumlahnya mungkin tidak lebih dari 8 (delapan) orang. Umat yang mengikuti perayaan itu hanya bisa ikut sendiri-sendiri dari rumah masing-masing, nonton di TV live streaming. Suasana hikmat khusus dalam kebersamaan saat perayaan hari besar dan misa pada hari minggu biasa sudah tidak dialami lagi. Pelaksanaan larangan berkumpul itu, selain keharusan oleh Pemerintah, tapi terlebih juga oleh kesadaran masyarakat sendiri untuk tidak "mati konyol". Berikut ini saya mencatat apa yang dialami pada masa "kesepian perayaan ibadat bersama" itu, sebagai berikut:

1. Lonceng Gereja Ikut "Mati"?

Di sini saya tidak menyebut lebih jauh tentang larangan berkumpul itu, tapi menurut saya, ada sesuatu yang "ikut mati" dalam kesepian perayaan ibadat gereja itu. Mungkin bagi anda biasa saja, tapi bagi saya terdapat satu yang hilang, yaitu bunyi Lonceng Besar Gereja. Lonceng Gereja yang biasanya digantung di menara gereja itu biasanya sebagai tanda pemberitahuan kepada umat wilayah gereja bahwa "perayaan ibadat akan dimulai". Ia dibunyikan tiga kali: 30 menit, 15 menit sebelum upacara dimulai dan pada jam upacara mulai. Setelah saya menelusuri arti bunyi lonceng Gereja itu, ternyata tidak hanya berfungsi sebagai pemberitahuan untuk mulainya ibadat bersama, tetapi lebih daripada itu. 

2. Arti Bunyi Lonceng Gereja

Lonceng gereja dalam tradisi Kristen adalah lonceng yang dibunyikan di dalam gereja untuk berbagai tujuan seremonial dan dapat didengar di luar bangunan. Secara tradisional, lonceng gereja digunakan untuk memanggil umat ke gereja untuk pelayanan gereja dan untuk mengumumkan waktu ibadat harian yang disebut jam kanonis. Lonceng gereja juga dibunyikan pada peristiwa khusus seperti pernikahan atau pemakaman. Pada beberapa ritual, lonceng gereja juga digunakan di dalam liturgi pelayanan gereja untuk memberi sinyal tercapainya suatu bagian tertentu dari upacara. Dalam tradisi Kristen, bunyi lonceng gereja juga dipercaya dapat mengusir setan (Copas dari : ensiklopedia Wikipedia). Selain lonceng besar, juga ada lonceng kecil yang dibunyikan saat suatu tahapan tertentu pada saat upacara sedang berlangsung.

3. Apakah Covid-19 juga Bisa Mematikan Bunyi Lonceng?

Pertanyan ini mungkin aneh, tapi faktanya ia tidak terdengar bunyinya pada masa pencegahan ini. Jawaban saya, dan saya kira anda juga, bahwa virus apapun tidak bisa mematikan "bunyi", kecuali bila orang yang membuat ia berbunyi sudah mati. Atau apakah pada besi lonceng tersebut dan tali ayunannya sudah dihinggapi lengket oleh covid-19 itu? Kalau ada, maka mungkin ini penyebabnya ia ikut diam dan ikut social distancing. Tapi sejauh ini belum ada kabar berita tentang itu. 

Seperti kita ketahui bahwa covid-19 ini adalah satu dari tujuh jenis virus corona yang amat berbahaya, mematikan manusia. Cnbcindonesia.com 17 Maret 2020, memberitakan bahwa : "Menurut World Health Organization (WHO), COVID-19 menular melalui orang yang telah terinfeksi virus corona. Penyakit dapat menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di sebuah benda atau permukaan yang lalu disentuh dan orang sehat tersebut menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Virus corona juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh seseorang ketika berdekatan dengan yang terinfeksi corona. "Itu sebabnya penting untuk menjaga jarak 1 meter lebih dari orang yang sakit. Hingga kini belum ada penelitian yang menyatakan virus corona COVID-19 bisa menular melalui udara," jelas WHO seperti dikutip dari situsnya, Selasa (17/3/2020). WHO menambahkan gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala ini bersifat ringan dan terjadi secara bertahap".

4. Berbunyilah Kau Lonceng Gereja!

Memang umat sudah diberitahukan jadwal perayaan ibadat Gereja melalui sarana medsos. Tapi apakah kepada umat di satu gereja itu tidak diberitahu setengah jam sebelumnya dengan mendengar bunyi lonceng dari gedung gereja? Pada saat berada di rumah sendiri ini saya merindukan bunyi Lonceng Besar dari menara gereja itu. Ya sudahlah untuk tidak berada bersama dalam ruang gereja, kawatir diserang monster pembunuh yang tidak kelihatan itu, tapi bunyi Lonceng itu no problem. Jika dalam kaitan supranatural, saya sebut covid-19 itu misalnya sebagai salah satu wujud dari setan, maka bunyi Lonceng gereja itu bisa juga untuk mengusir setan covid-19. Oleh karena itu, untuk mengisi sedikit obat kerinduan 'ibadat bersama' yang hilang sementara, dan untuk mengingatkan umat di rumah bahwa beberapa menit lagi akan ada ibadat via live streaming, adalah lebih baik Lonceng Gereja itu dibunyikan to? Semoga mulai esok pagi dan seterusnya pada hari minggu, lonceng Gereja itu "hidup" dan terdengar bunyinya hingga jauh ke rumah-umat umat.

*** Catatan selagi sepi ibadat bersama selama masa social distancing karena covid-19 di Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update