-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Secarik Surat untuk Para Sahabat

Rabu, 08 April 2020 | 08:07 WIB Last Updated 2020-04-08T11:14:44Z
Secarik Surat untuk Para Sahabat
 Rio Nanto 

Oleh: Rio Nanto

Di tengah pandemi Covid 19 yang tak kunjung usai, tiba-tiba ada surat terbuka di media sosial dari sesama Sahabat Mahasiswa STFK Ledalero yang ditujukan untuk Ketua STFK Ledalero. Ini suatu kedewasaan sebagai individu yang otonom dalam berpikir dan menentukan nasib sendiri sesuai dengan pandangan hidup tanpa panduan pihak lain. Dalam hal ini, mengutip Volker Gerhardt, filsafat membuat seseorang berpikir sendiri (Philosophie ala Selbsdenken) dan pemikir otonom (Selbstdenker). Keempat mahasiswa itu telah menunjukkan keberanian dan kekritisan di depan publik.

Tetapi apakah daya kritis mereka lahir dari kedalaman kontemplasi informasi atau sebuah reaksi kemarahan dari kedangkalan membaca esensi sebuah peraturan?
Saya mencoba memberikan beberapa komentar pribadi atas surat tersebut. Saya berbicara bukan atas nama Institusi STFK Ledalero, sebab pemikiran saya terlalu sederhana untuk mengatasnamakan diri perwakilan kampus besar seperti STFK Ledalero. Saya berbicara sebagai mahasiswa STFK selayaknya keempat penulis surat ini.

Pertama, peraturan tentang pembayaran uang sekolah. Dalam surat keempat mahasiswa tersebut, mereka membabtis STFK Ledalero sebagai institusi yang "mengancam" eksistensi mahasiswa. Hal ini karena STFK Ledalero terkesan memaksa mahasiswa untuk membayar uang kuliah paling lambat 29 Mei 2020. Menurut mereka STFK Ledalero tidak mempertimbangkan wabah pandemi, nasib orang tua mahasiswa/i yang sedang dilanda krisis keuangan dan ada kesan STFK Ledalero tidak peduli dengan situasi pandemi ini.

Usai membaca surat ini, saya melakukan wawancara dengan beberapa teman di Perguruan Tinggi lain di Jawa dan Sumatera untuk membandingkan kebijakan keuangan kampus. Ada beberapa pihak yang saya wawancarai di antaranya, Vianey Jemadu, Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang. Tentang kebijakan keuangan kampus, dia menjelaskan bahwa setiap mahasiswa/i di kampusnya, harus membayar semua keuangan selama satu semester pada satu atau dua minggu pertama kuliah. Jika mahasiswa/i tidak membayar uang tersebut, maka dia tidak berhak untuk mengikuti perkuliahan.

Jubelaris de Murni, Mahasiswi Institute Teknologi Nasional Jogjakarta menjelaskan bahwa setiap mahasiswa/i harus membayar uang SPP Tetap dan SPP Variabel dua Minggu sejak perkuliahan dimulai. SPP Tetap adalah jumlah uang yang dibayar mahasiswa/i setiap semester dan itu dibayar sebelum pengisian KRS, sedangkan SPP Variabel dibayar setelah pengisian KRS karena tergantung dari jumlah SKS setiap semester. Mahasiswa/i yang tidak mengindahkan regulasi itu tidak berhak mengikuti perkuliahan.

Sahabat saya Rotua Batubaru, anggota LPM Suaka Universitas St. Thomas Sumatera Utara. Seperti dua kampus di atas, mengharuskan mahasiswa/i untuk melunasi uang kuliah satu semester di awal perkuliahan.

Bagaimana dengan STFK Ledalero? Di STFK Ledalero, setiap mahasiswa/i tidak harus membayar uang sekolah di awal semester. Mahasiswa/i bisa membayar uang sekolah sebelum UTS, bahkan membayar uang sekolah sebelum ujian akhir sekolah. Ini dibuat oleh sekolah karena mempertimbangkan perekonomian mahasiswa/i yang memiliki daya juang yang tinggi tetapi cukup berkekurangan secara ekonomi. Tetapi sejak semester lalu, pihak sekolah menindak tegas mahasiswa/i yang belum melunasi uang sekolah untuk tidak boleh mengikuti ujian akhir semester.

Di tengah pandemi Covid 19, pihak STFK menunda pembayaran uang sekolah sampai 29 Mei 2020 yang sebenarnya harus dibayar paling lambat 4 April ini 2020 mengingat ujian Mid dijadwalkan pada bulan April. Dosen tetap memberikan tugas Mid semester, tanpa tatap muka melainkan memberikan tugas mid secara online dan mengirimnya melalui email dosen.

Sebenarnya jika kita bandingkan dengan kampus lain seperti yang saya kutip di atas, STFK masih memberikan kelonggaran karena mahasiwa/i bisa membayar di pertengahan dan di penghujung semester sebelum ujian akhir semester.

Lebih dari itu, berdasarkan hasil wawancara melalui WA dengan ketua STFK Ledalero, penundaan pelunasan itu tentu akan berdampak pada penundaan gaji dosen dan tenaga kependidikan. Juga penundaan pembayaran honor lainnya seperti tesis, skripsi dan pemeriksaan ujian. Walaupun mahasiswa/i libur, dosen tetap memeriksa tugas mahasiswa, membimbing penulisan skripsi dan tesis serta tenaga kependidikan di sekretariat dan di perpustakaan STFK Ledalero masih bekerja seperti sedia kala.

Ketika membaca surat ini, saya berpikir mungkin teman-teman saya ini kurang berelasi dengan kampus-kampus lain di Jawa. Artinya, miskinnya fakta pembanding menempatkan keempat sahabat ini dengan mudah membabtis STFK sebagai kampus yang "mengancam" mahasiswa. Generalisasi dalam perdebatan publik yang lahir dari kemiskinan pemahaman adalah sebuah kejahatan akademis.

Kedua, dalam surat ini, mereka menggunakan istilah “mengancam”. Saya mencari kata ini di kamus bahasa Indonesia. Sekurang-sekurangnya ada dua arti yaitu menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan sesuatu yang menyakitkan, mencelakakan pihak lain dan dalam arti kedua memberi pertanda atau peringatan mengenai kemungkinan malapetaka yang akan terjadi.

Jika kita memahami kata "mengancam" sesuai dengan arti menurut kamus dan dihubungkan dengan kebijakan STFK, apakah mengancam cocok disematkan untuk STFK Ledalero yang sudah memberi kelonggaran atau para mahasiswa yang menulis surat yang mengancam pihak STFK?

Kalau ditanya apakah penulis surat sudah membayar uang sekolah semester ini, uang bimbingan skripsi atau menjadi penumpang gelap yang menerima hak-hak memperoleh ilmu tetapi tidak melunaskan kewajiban? Lalu menampilkan diri di depan publik sebagai mahasiswa yang kritis padahal diterpa krisis?

Ketiga, ada tiga tuntutan mereka. Nomor 1) mengurangi uang sekolah. Ini lucu. Dalam kalenderium resmi STFK Ledalero, kuliah semester genap tahun ajaran 2019/2020 dimulai pada tanggal 20 januari 2020 sampai 21 Mei 2020. Itu berarti sekurang-kurangnya 4 bulan kuliah. Berdasarkan aturan Kemenristek Dikti, jumlah tatap muka dosen dengan mahasiwa/i di kelas paling kurang 12 kali pertemuan.

Dalam surat resmi STFK Ledalero, tertanggal 31 Maret, pihak sekolah dalam surat keputusan nomor 2541/A.1/FT/L/2020 Perihal penyampaian tentang perkuliahan, ujian semester dan ujian skripsi/tesis pada poin nomor 1 memutuskan kuliah mimbar di STFK Ledalero tidak dapat dilaksanakan hingga akhir semester genap 2019/2020. Para dosen tetap memberikan kuliah online atau tugas terstruktur kepada mahasiswa untuk melengkapi kekurangan jumlah pertemuan tatap muka (3-4) pertemuan sesuai tuntutan peraturan Kemendikbud.

Untuk mengisi kekurangan itu, pihak STFK memberikan kesempatan untuk kuliah online. Hal ini mengandaikan semua mahasiswa STFK Ledalero menggunakan handphone. Tetapi seperti yang kita ketahui bersama di STFK Ledalero terdapat kurang lebih 1.173 mahasiswa/i yang terdiri dari 981 Mahaiswa/I S1 Ilmu Filsafat, 21 Mahasiwa/I Pendidikan Keagamaan Katolik dan 171 Mahasiswa/I Ilmu Agama/Teologi Katolik. Mahasiswa/I STFK Ledalero berasal dari 12 biara religius dan kelompok awam. Setiap biara memiliki aturan masing-masing untuk menggunakan HP. Ada biara yang memberikan kelonggaran kepada mahasiswa/i untuk menggunakan HP, tetapi ada biara yang melarang keras setiap mahasiwa untuk menggunakan HP. Hal ini tidak bisa dipaksa sebab ini adalah regulasi kongregasi setiap biara. Inilah yang membedakan STFK Ledalero dengan Perguruan Tinggi lain sebab STFK Ledalero mendidik mayoritas mahasiswa/i yang kelak menjadi Imam, Biarawan/Biarawati Gereja Katolik. 

Dalam sidang Dosen tertanggal 31 Maret 2020 yang lalu, para dosen meminta pimpinan biara untuk mengizinkan mahasiwa Frater untuk menggunakan HP agar mereka bisa kuliah online. Tetapi ada beberapa biara yang mengajukan keberatan. Oleh karena itu, kuliah online tidak dilaksanakan dengan baik. Sebenarnya, ini bukan karena STFK Ledalero tidak menjalankan tugasnya untuk memberikan kuliah, tetapi STFK tidak bisa mengintervensi kebijakan setiap biara. Sederhananya begini, pihak sekolah memberikan regulasi, tetapi pimpinan biara sebagai orang tua mahasiswa bertanggung jawab atas formasi di rumah biara masing-masing.

Berkaitan dengan ini, salah satu argumen dari penulis surat bahwa STFK menuntut kewajiban dan tidak melaksanakan hak adalah sebuah kekeliruan. Artinya, mahasiswa sudah mengikuti kuliah hampir 3 bulan dan untuk mengisi waktu yang tersisa, STFK tak bisa berbuat apa-apa karena bertabrakan dengan kebijakan masing-masing biara. Dengan itu, permintaan untuk mengurangi uang kuliah tidak efektif apalagi di masa liburan ini, sebab dosen tetap memeriksa tugas mahasiwa/i, membimbing dan memberikan ujian skripsi dan tesis.

Tuntutan 2) "Apabila pihak sekolah tidak menerima gagasan pertama, akan lebih baik jika pemberlakuan pembatasan penuh biaya perkuliahan dihilangkan dan diganti dengan penundaan pelunasan", demikian bunyi tuntuntan kedua dalam surat keempat mahasiswa tersebut. Sebenarnya tanpa memberikan komentar, sepertinya penulis surat hanya pandai bermain kata dengan esensi yang hampir sama. Mungkin mereka masih belajar menulis. Tetapi poinnya, pembayaran uang sekolah sampai 29 Mei mempertimbangkan ujian akhir semester. Dalam kalenderium resmi STFK Tahun ajaran 2019/2020, ujian semester dimulai pada tanggal 26 Mei - 6 Juni. Pemilihan tanggal 29 Mei 2020 bukan sebuah pemilihan waktu serampangan tetapi berdasarkan pertimbangan matang pihak STFK sebab mahasiswa/i wajib mengikuti ujian sebelum uang sekolah dilunaskan.

Untuk ujian akhir semester, memang tidak ada ujian tatap muka, tetapi setiap mahasiwa diwajibkan membuat paper. Kalau pembuat surat ini menawarkan tanggal di luar tanggal yang ditetapkan STFK, bukanlah mereka mengancam pihak STFK? Artinya mereka menuntut mengikuti kuliah tatap muka, kerja tugas dan untuk penulis surat ini yang lagi kerja skripsi tetap memaksa dosen memberi bimbingan skripsi dan meminta waktu ujian skripi tetapi mereka menolak menjalankan kewajibannya.

Tuntutan 3). Mengancam. Sepertinya penulis surat ini memakai term yang sensitif untuk mendulang simpati publik dan menyembunyikan kemalasan. Kalau kita mau jujur, kita minta semua dosen, apakah mereka yang menulis surat ini rajin ikut kuliah tatap muka tiga bulan ini? 

Keempat, berdasarkan hasil wawancara dengan Pater Maxi Manu, SVD sebagai Wakil Ketua II STFK Ledalero yang membidangi keuangan, selama ini pihak STFK sangat memahami mahasiswa/i yang mengalami kesulitan ekonomi. Pihak STFK memperpanjang waktu pelunasan yang penting mereka datang dan berbicara dengan baik kepada pihak STFK Ledalero. Pengalaman selama ini ada mahasiswa/i yang masih diberi kesempatan untuk mengikuti Ujian Akhir Semester walaupun belum melunasi uang sekolah dengan alasan menuliskan surat pernyataan bahwa dalam rentang waktu tertentu, mahasiswa tersebut akan melunasi kewajibannya.  Apakah keempat mahasiswa yang menulis surat ini sudah bertemu dengan Wakil Ketua II STFK Ledalero?

Kelima, prosedur penyampaian informasi. Idealnya, dalam lingkup Institusi seperti STFK Ledalero, ada media penyalur informasi seperti Senat Mahasiswa, Moderator PMA dan Wakil Ketua III yang membidangi kegiatan kemahasiswaan. Kritikan dari keempat sahabat ini baik tetapi melangkahi prosedur yang ideal sebagai seorang mahasiswa yang sudah dibekali pengetahuan yang cukup memadai. Keempat mahasiswa bisa mengajukan lobi, strategi negosiasi, mediasi dan melakukan kolaborasi. Jika dua langkah di atas tidak mencapai hasil yang memadai untuk mengubah kebijakan publik, mereka bisa menempuh jalur yang ketiga dengan melakukan kampanye, siaran pers unjuk rasa atau menulis di media. Apakah keempat mahasiswa yang menulis surat ini sudah menempuh jalur-jalur tersebut?

Berkaitan dengan hal ini, dalam wawancara terbatas dengan Ketua STFK Ledalero, surat dari keempat mahasiwa ini akan menjadi salah satu agenda pertemuan dosen. Beliau juga akan meminta Moderator PMA (Paguyupan Mahasiswa Awam) STFK Ledalero untuk memanggil mereka secara pribadi untuk menanyakan kesulitan keuangan yang mereka alami. Untuk diketahui, keempat penulis surat ini adalah Mahasiswa Awam (bukan Calon imam) yang studi filsafat di STFK Ledalero.

Demikian tanggapan saya untuk surat dari keempat sahabatku ini. Terima kasih atas kritikan dan masukan dari keempat sahabatku. Kita semua sama-sama pencinta kebijaksanaan, artinya kita bukanlah orang yang sudah bijak. Kita juga bukan pemilik kebijaksanaan. Kita sama-sama figur yang berupaya untuk mencari dan menggapai kebijaksanaan. Sahabatku sudah memberikan keberanian untuk mendeklarasikan kebebasan berpikir (Sapere Aude).

Namun sebagai pemikir, lebih baik kita perlu belajar ucapan bernas pada kuil Apolo di Delhi, Yunani yang bercorak kategoris dan menggarisbawahi kompetensi sentral filsafat: Gnothi seauton" - kenalilah dirimu sendiri. Dalam penjabaran lebih lanjut, kenalilah substansi kritikmu dan masaklah idemu di atas api kontemplasi dan meditasi yang membuat pemikiranmu matang dan layak untuk dikonsumsi publik.

Kembali ke pertanyaan awal dalam suratku ini, apakah daya kritis dalam surat ini lahir dari kedalaman kontemplasi informasi atau sebuah reaksi dari kedangkalan membaca esensi peraturan?

Salam

Rio Nanto

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero
×
Berita Terbaru Update