-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sense of Urgency (Polemik Soal 'Masker atau Sembako')

Senin, 27 April 2020 | 18:45 WIB Last Updated 2020-04-27T11:45:28Z
Sense of Urgency  (Polemik Soal 'Masker atau Sembako')
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Kendati NTT kembali dinyatakan sebagai 'zona hijau' dalam hal penyebaran covid-19, pelbagai langkah antisipatif dan preventif terus digalakkan oleh pemerintah dan para relawan. Bahkan, aksi solidaritas kemanusiaan dalam bentuk pemberian sumbangan baik  berupa masker dan alat pelindung diri (APD) maupun dalam wujud sembilan bahan pokok (sembako) kepada warga terus mengalir hari-hari ini. Donasi peduli wabah Corona itu, umumnya bersumber dari dana pribadi, tetapi ada juga yang berasal dari  lembaga tertentu. Partai politik, setidaknya dari pemberitaan media, menjadi lembaga politik terdepan dalam menyalurkan sumbangan kepada warga Mabar.

Tentu saja, terhadap pelbagai 'ekspresi kepedulian' itu, baik yang bersifat personal, maupun secara institusional, mesti diapresiasi dan disupport. Setidaknya, mereka telah memperlihatkan sebuah 'solidaritas kemanusian yang bersifat universal', di tengah isu pandemi covid-19, meski secara faktual belum 'mengguncang bumi Mabar' saat ini. Namun, pribadi atau kelompok 'yang berbaik hati' itu, telah mengambil prakarsa untuk memberi apa yang mereka punyai dalam rangka mempercepat upaya 'menangkal penyebarluasan virus itu di sini dan meringankan beban dari kelompok yang terdampak virus maut itu'.

Hanya saja 'respons manusia' terhadap setiap 'tindakan mulia semacam' itu, selalu variatif. Pluralitas tanggapan itu, dalam level tertentu, saya kira sangat lumrah dan sah-sah saja. Masing-masing kepala, pasti memakai lensa yang berbeda dan melihat dari titik yang berlainan terhadap sosok sebuah obyek yang diperbincangkan dalam ruang publik.

Ketika Dewan Pimpinan Daerah (DPD) sebuah partai politik dan seorang tokoh muda hendak menyumbang 2500 unit Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker misalnya, sebagian publik berusaha menanggapinya secara kritis. Logika disjungsi (atau.., atau) dipakai untuk menilai sisi efektifitas (tepat sasar) dari sumbangan tersebut.

Debat publik berlangsung cukup alot dalam sebuah grup Whatapps (WAG), "Forum Pilkada Mabar" terkait dengan jenis bantuan yang tepat untuk konteks Mabar saat ini. Ada kelompok yang menilai bahwa 'masker', memang penting dan dibutuhkan oleh warga saat ini, tetapi tidak urgen (mendesak). Bagi mereka, bantuan berupa sembako jauh lebih mendesak ketimbang masker. Semestinya, demikian dalih dari kelompok ini, para donatur itu membuat semacam 'peta persoalan' sebelum memberikan bantuan. Dengan itu, sumbangan yang dikucurkan itu tidak salah sasaran alias mubazir.

Argumen ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh Stephen R. Covey tahun 1999 tentang 7 kebiasaan dalam urusan manajemen waktu. Salah satu poin yang disinggung dalam buku itu adalah pentingnya mengetahui perbedaan antara apa 'yang penting' dan apa 'yang mendesak' serta antara apa 'yang penting dan apa yang tidak mendesak'. Istilah teknis yang dipakai adalah 'kepekaan akan yang urgen (sense of urgency). Bahwasannya, sebelum mengambil keputusan untuk menangani sebuah persoalan, kita perlu membuat semacam pemilahan kira-kira mana yang masuk dalam kategori mendesak (urgen).

Tetapi, masalahnya adalah standar apa yang kita pakai untuk menentukan 'hal yang mendesak itu. Dalam praksis, umumnya barometer tersebut bersifat relatif dan subyektif. Penilaian tentang 'yang urgen' itu lebih dideterminasi oleh pertimbangan subyektif.

Subyektifisme deliberasi semacam itulah yang terjadi ketika seseorang atau instansi tertentu memutuskan jenis bantuan apa yang mesti diberikan ke publik di tengah pandemi corona ini. Boleh jadi, menurut para penderma itu, masker dan APD yang lainnya merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi oleh warga Mabar saat ini. Sementara kubu yang kontra menilai bahwa bukan masker, tetapi sembako-lah yang menjadi prioritas. Harus diakui bahwa kita tidak mempunyai alat ukur yang obyektif untuk menarik kesimpulan yang kesal terkait 'yang mendesak' itu.

Atas dasar itu, saya berpikir, suara kritis yang menyeruak ke ruang publik pasca beredarnya bantuan itu, tidak mesti ditanggapi secara emosional. Soalnya adalah para pengeritik itu pun tetap memakai standar yang subyektif juga. Menurut kubu kontra, sembako adalah hal yang mendesak untuk dibantu. Tetapi, apakah mereka tahu persis kondisi dari warga yang terkena dampak virus itu' yang membutuhkan bantuan? Data acuannya apa? Bukankah aturan 'karantina, isolasi, dan pembatasan sosial berskala besar masih relatif longgar diterapkan di sini? Apakah sudah ada sekelompok orang yang sudah sangat menderita ketiadaan sembako akibat pandemi covid-19 ini?

Namun, suara kritis itu juga, menjadi semacam peringatan bahwa 'derita ekonomi' mulai mengancam warga. Karena itu, para donatur, partai politik dan pemerintah mesti lebih serius lagi memperhatikan kebutuhan ekonomi warga di musim corona ini. Selain berupa donasi material, warga perlu diedukasi untuk bisa berkreasi dan berinovasi dalam mengatasi dampak negatif dari wabah ini.

Kembali ke perdebatan di atas. Saya kira kita tidak bisa menggunakan logika disjungsi (atau.., atau) yang terkesan lebih mengutamakan hal tertentu ketimbang elemen lainnya, dalam menganalisis bentuk pemberian secara sukarela di tengah bencana non-alam ini. Bagaimanapun juga, baik masker, APD, dan sembako, semuanya masuk dalam skala kemendesakan untuk disediakan atau dibantu. Poinnya adalah para donatur entah pribadi maupun lembaga, bisa dengan cermat menentukan salah satu dari jenis kebutuhan yang diperlukan oleh warga tersebut. Jika kemarin, fokus kita masih seputar APD dan masker, maka mungkin individu atau lembaga lain bisa memperhatikan soal sembako. Semuanya, demi dan atas nama kebaikan warga Mabar juga.

Oleh sebab itu, mungkin logika konjungsi yang berorientasi pada pola penggabungan semua elemen kebutuhan itu, bisa menjadi perspektif alternatif dalam bertindak dan berpikir tentang tindakan orang lain perihal upaya pencegahan dan pengurangan beban tersebab oleh pandemi yang tak kunjung usai ini.

Masker, APD, Penyemprotan disinfektan dan sembako adalah kebutuhan yang penting sekaligus mendesak untuk ditanggapi saat ini. Bukan sebuah kekeliruan jika ada pihak yang bermurah hati untuk menyumbang salah satu dari barang-barang itu kepada warga. Kita mesti salut dan apresiasi serta merasa tergerak untuk melakukan hal yang sama sesuai dengan kemampuan masing-masing.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update