-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sepucuk Surat dan Kotak Kecil dari Mantan Kekasihku

Minggu, 05 April 2020 | 10:37 WIB Last Updated 2020-04-05T03:37:40Z
Sepucuk Surat dan Kotak Kecil dari Mantan Kekasihku
Budi Hartono (Foto istimewah)

Oleh: Budi Hartono

Dua hari lalu kau meneleponku. Kau katakan rindumu memuncak dan ingin menemuiku. Setiap lima menit teleponmu terputus, jaringan di tempatmu kurang bersahabat, itu katamu. Alasanmu selalu berterima olehku. Setiap kita bicara melalui telepon, seringkali kau bersikap manja. Suaramu yang merdu, tertawa khasmu yang selalu buat hatiku meleleh.

Jarak yang memisahkan, rindu yang mendekatkan dan Dia yang menyatukan kita. Itu katamu. Besok tepat lima tahun sejak kau berangkat ke Jakarta. Lusa merupakan hari ulang tahun pernikahan kita. Tak terasa usia pernikahan kita sudah enam tahun berjalan. Banyak lika dan liku kita temui dan lewati. Kepercayaan yang kita bina dari dulu membuat semuanya jadi indah. 

Ita, nama itu selalu ada dalam bayang pikiranku. Ketika kuingat dirinya, hati ini gelisah dan selalu ingin lari dari tempat kerjaku. Tapi ini hanya sementara, pikirku dengan berusaha menenangkan situasi. Kembali kutelepon si Ita, kujelaskan kepadanya bahwa dua bulan ke depan saya diberi cuti oleh bosku, pemimpin perusahaan yang kutempati bekerja. Lalu kuminta dia juga mengajukan cuti supaya kami bisa bertemu.

Setelah mencapai sebuah kesepakatan kapan waktu dan di mana tempat kami bertemu, barulah kami berdua memesan tiket. Lumayan juga harga tiketnya. "Selain rindu yang berat ternyata harga tiket tidak kalah berat," gumamku dalam hati. 

Ita kembali meneleponku, masih topik yang sama "Rindu". Ia memastikan keadaanku setiap kami berbicara. Kukatakan padanya bahwa hari ini saya kurang enak badan. "Badanku terasa lemas, tulangku ngilu, apa mungkin karena faktor umur?" Kataku. Ita tertawa terbahak dan sesaat terdengar menangis, khawatir dengan keadaanku. 

Hari demi hari, bulan berganti bulan hingga saat yang dinantikan telah tiba. "Cuti, asyik," kataku dengan ekspresi yang kegirangan saat itu. Kuambil handphone dari kamarku lalu kucoba menghubungi Ita. "nomor yang anda tuju tidak aktif," hanya itu jawaban yang terdengar. Lalu kucoba berulang-ulang, tapi tetap dengan jawaban yang sama.

Berusaha tenang dan berpikiran positif. Kuambil tas ranselku lalu kumasukkan bajuku, kulipat kecil dan kugulung-gulung agar bisa muat. Dalam perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Juannda, kucoba menghubungi Ita lagi, kali aja bisa tembus teleponku, harapanku tapi masih jawaban yang sama. 

Pukul 08.15 WIB terbang menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. "Alhamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat," ucapku dalam hati. Lalu kupesan taksi dan segera menuju rumahku yang cukup jauh dari bandara. Kusempatkan berkhayal Ita sudah menungguku dari kemarin karena jadwal keberangkatan satu hari lebih cepat dari jadwal keberangkatanku. Kubayangkan Ita sudah di depan pintu siap menjemput, mencium dan memelukku, melepas semua kerinduan selama ini terpendam. Tetapi semua hanya khayalan, tak ada satu orang pun kutemui di rumah. Adanya hanya sepaket kotak kecil dan surat yang sepertinya menggunakan jasa pengiriman. Tak kusentuh paket itu, lalu kubuka suratnya. 

"Sayang, Aku minta maaf. Aku tidak jadi berangkat ke Makassar. Nanti kutelepon lalu kujelaskan apa alasannya. Handphoneku beberapa hari yang lalu dicuri. Sayang, saya minta maaf. Ada kotak, tolong kamu buka dan simpan baik-baik. Luph u. Dari istrimu, Ita Pustika" demikian isi suratnya. Perasaan sedih menguasaiku saat itu, kutarik kotak kecil itu. "Saya tidak akan membuka kotak ini sebelum Ita berada di sampingku, biar kusimpan dan menjadi teka-teki apa isi dari kotak itu", gumamku dalam hati.

Penulis bisa dihubungi melalui email amirbudihartono@gmail.com, FB: Budi Hartono
×
Berita Terbaru Update