-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Siapa yang Menghamili Rosi?

Selasa, 07 April 2020 | 13:08 WIB Last Updated 2020-04-07T06:08:39Z
Siapa yang Menghamili Rosi?
Waldus Budiman

Oleh: Waldus Budiman

Udara pagi masih hangat seperti kemarin. Mungkin dalam minggu ini akan hujan. Rosi masih berselimut. Ibunya sudah menghilang dari jam lima pagi. Ya hampir setiap hari. Mereka berkumpul di pinggir kampung untuk menimba air. Beberapa kali Rosi membujuk ibunda untuk ikut menimba air, tapi postur badan dan umur Rosi yang masih belia, maka tidak pernah diijinkan. 

Rosi dibesarkan ditengah keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang petani tulen dan ibunya seorang pedagang kaki lima di pasar dekat kampungnya. Rosi anak semata wayang dari pasangan wandro dan Tia. Sejak umur 12 tahun, dia sudah menoreh pelbagai macam prestasi. Selain sikap disiplin dari ayahnya juga ibunya yang peka terhadap pertumbuhan anak satu-satunya itu. Keseharian rosi hanya dengan buku. Setelah pulang sekolah, makan siang dan istirahat siang. Sore harinya belajar dan mandi dan seterusnya. Ibunya selalu mengajarkan cinta kasih. Selain pintar di sekolah, Rosi juga aktif di sekolah minggu dan kegiatan gereja lainnya. 

Sekarang Rosi sudah duduk dikelas tiga SMA dan sebentar lagi mengikuti ujian akhir. Dia diperbolehkan pulang oleh pembina asrama untuk memohon restu dari sang ayah. 

Masih membekas dalam ingatan Rosi, bagaimana ayahnya dibunuh ketika perang suku terjadi dikampungnya. Masih ingat baik, bagaimana histeris ibunya saat mayat sang suami rengkuh dalam pelukkannya. Sebilah parang menggorok leher suaminnya. Rosi jatuh dan tak sadarkan diri.

Kala itu, Rosi berumur 8 tahun. Pikirannya belum dewasa seperti sekarang ini. Saat itu dia menangis karena lihat ibunya menangis. Dia belum tau apa-apa. 

Setelah beranjak dewasa, cerita tentang ayahnya sudah dimengerti baik oleh Rosi. Itulah masa kelan yang sulit dilalui. Air mata memang bukan satu-satunya cara mengungkapkan kesedihan. Namun, bagaimanapun juga, air matalah yang paling dari setiap peristiwa kelam.

Lilin di kubur sang ayah masih menyala. Rosi  belum juga  mengucap sepata katapun. Sedangkan ibunya masih mengusap air matanya. 

"Bu, aku tidak kuat".

Ibunya belum menyahut. Isak tangis sang ibunda memecah keheningan di kuburan. Di sana ada rindu dan sakit hati yang dalam. Di sana ada kasih sayang dan rasa temu yang terus meronta. Perpisahan meninggalkan luka dan kenangan yang terus membekas. Gadis tunggal itu hatinya terus meronta. Mencoba terlihat kuat di depan ibunda. Sebab baginya, air mata sang ibunda adalah luka sulit untuk diobati.

Lilin tinggal sedikit. Rosi belum juga mulai berdoa. Sang ibunda sudah berhenti dari tangis. Angin sore menghempas rambut gadis itu. Cahaya lilin yang remang-remang sedikit memperlihat parasnya. Kemolekannya seakan layu dihadapan sang luka. Kepingan-kepingan luka kepergiaan sang ayah membius semangat gadis itu. 

Di kampungnya belum ada listrik PLN. Satu-satunya yang memiliki generator hanya pa Kades. Dan tidak setiap malam bukanya. Hanya malam minggu. Setiap malam minggu Rosi selalu mendatangi rumah pak Kades untuk mengecas HP. 

Kali ini, Pa kades yang mendatangi rumah Rosi. Dia membawa beras, minyak goreng, daging ayam dan satu papan telor ayam. Sang ibunda sangat kaget atas kedatangan orang nomor satu di desanya. Betapa tidak, selain kerena ganteng, pa Kades juga murah senyum. Banyak perempuan yang ingin dikawini. Saat kedatangan pa Kades, sang ibunda terlihat sibuk, namun tidak dengan Rosi. 

Setelah menyelesaikan SMA, Rosi kembali ke kampung halaman. Selain menemanni sang ibunda juga persoalan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti kebiasaan sebelumnya, setiap malam minggu selalu mendatangi rumah pa Kades. Kadang pulang pagi. Satu bulan kemudian, Rosi hamil. Siapa yang menghamili Rosi?

Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero, Maumere. 
×
Berita Terbaru Update