-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Soleram (Cerpen Rikard Diku)

Senin, 06 April 2020 | 21:10 WIB Last Updated 2020-04-06T14:10:16Z
Soleram   (Cerpen Rikard Diku)
Ilustrasi: google

Oleh: Rikard Diku

Soleram oh Soleram
Soleram anak yang manis
anak  manis janganlah dicium, sayang
kalau dicium merahlah pipinya...

Aku yakin-seyakinnya kau pasti masih fasih menyanyikan syair ini dan bila sekarang kau sedang menyanyikannya diam-diam  dalam hati pasti kau tak mampu menyembunyikan senyummu yang aduhai itu. Buktinya dulu aku malu setengah mati usai Ibu mengajariku syair ini dan dengan senyum mengembang  ia berbisik lirih di telingaku “Nak, anak yang manis itu jangan dicium sembarangan kalau dicium merona merah pipimu nanti!”

Masa kecil kita tiba-tiba saja bermain-main dalam kepalaku, begitu gaduh dan aku menjadi seperti orang gila yang sering bernyanyi di bawah hujan dan berkhayal di bawah purnama ketika dengan segera aku menuju ke bilik sunyi dan menulis semua ini tentang masa kecil kita sebagai nostalgia sederhana yang diam-diam kusebut sebagai kenangan.

Begini, aku selalu rindu saat kau mengajariku  bagaimana harus menangis tanpa melahirkan air mata sebelum aku paham apa itu rindu,ngilu, cinta, luka, doa, hujan dan kenangan.

***

Februari masih basah diguyur hujan, seperti biasa dia akan bermalas-malasan di rumah sunyi sebelum disemprot wanita tua dengan kata-kata yang tajam dan dengan langkah gontai ia akan meninggalkan ranjang empuk lalu membersihkan diri seadanya untuk menjemput matahari di bawah langit rumahnya. Di kamar mandi ia merinding mendengar suara anak kecil yang terbata-bata dari balik tembok sambil menyanyikan lagu kesukaanmu. Entahlah ini sudah kali yang keberapa suara itu kembali menghentak jiwanya sesudah malam tadi ia bermimpi bertemu gadis cilik berwajah buram. 

“Ini pasti halusinasiku saja” bisiknya pada diri sebelum ia keluar dari kamar mandi dan mengintai-intai tetapi tetap saja hasilnya nihil, tak ada orang di sana pun anak kecil yang suaranya selalu miring melafalkan syair ‘soleram oh soleram’, lagu kesuakaanmu saat masa kanak-kanak. Ia menjadi panik dengan kejadian yang berulangkali ini dan belum pernah ia menceritakan kepada siapapun termasuk wanita tua yang ia sapa oma suster itu sebab belakangan ini ia dan teman-temannya lebih banyak sibuk dengan diri, semisal berselancar dan berhahahihi di dunia maya dengan meng-upload foto pun narsis di dinding facebook yang membuat mata kita banyak yang keranjingan juga tak ketinggalan sibuk ber-make up ketimbang menghadiri Ekaristi di Gereja. Yah, tak apalah mungkin inilah perkembangan jaman yang semakin menggurita itu. 

Di samping ranjang air matanya tiba-tiba luruh akan peristiwa kelam masa lalu yang masih ia bungkus rapih,  entah sampai kapan ia akan membukanya. Ia kaget ketika HP-nya menjerit dari saku baju dan dengan perasaan was-was ia meraih dan membaca sebuah pesan di layar putih “aku kangen kamu, kapan kita ketemu?” singkat message sudah membikin sekuntum senyum mekar di ujung  bibirnya yang ranum meski sedikit terpaksa. Membaca pesan singkat itu ada semacam rasa sesak yang mencekik di balik dadanya. Diam-diam di antara derai hujan ia mendaraskan doa untukmu dan tak lupa untuk entah yang menjadi alasan ia berada di rumah ini. Doanya sederhana saja yakni semoga dirimu bisa menemukan cinta yang sesungguhnya dan suara gadis kecil itu tidak datang mengusik lagi sebab ia tahu bahwa nyanyian sendunya adalah semacam menagih janji antara kau dan dia yang menjadi penyebab cerita ini ditulis.

***

Namaku Soleram. Kau boleh memanggilku demikian. Itulah sapaan manjaku yang harus kuakui kadang membuat kau tergila-gila. Bukannya berlebihan sih tetapi kau sendiri pernah mengatakan bahwa nama dan senyumkku memang indah seperti bianglala di antara awan kala hujan redah. Entahlah pengakuanmu waktu itu antara jujur atau cuma mau bonus, aku tak tahu. Yang penting aku meyakini bahwa kau menjadikanku mengerti bahwa cinta adalah tentang menjadi apa saja bukan hanya dalam umpama-umpama. Kadang aku bertanya, kamu itu sebenarnya mecintaiku karena benar-benar cinta atau karena sesuatu? Toh, aku telah memberikan segalanya untukmu. Semuanya kuberikan dan lebih parahnya lagi aku sudah terlanjur..oh..oh...tidak..tidakkk!! Lupakan saja!! aku yakin kau masih mengingat semuanya tentang cinta kita yang parah dan berdarah-darah. Kuyakini kamu itu baik dan kata-katamu meluluhkan hatiku seperti yang kuingat saat jumpa pertama kita di taman ketika air mata langit tumpah. 

"kamu sendirian? eh, suka melihat hujan?"
"ia....ia..aku suka melihatnya. Rinai hujan selalu membasuh rinduku yang berkepanjangan"
"puitis sekali, pasti suka bahasa yang sastrawi ya?"
"hahaa...kebetulan saja aku tergila-gila dengan dunia kata"
"kamu pasti dari Timor atau lebih tepatnya dari Malaka 'kan?"
"hmmm..tahu dari mana?"
"dari cara kamu melemparkan senyum. Soalnya orang Malaka itu manis-manis."

Aku tak mampu menahan senyum, wajahku merah, kata-katamu tadi membuat hatiku meleleh dan kau tahu saat itu rasanya ngere emba gitu. Aku sedikit malu setelah kau menyodorkan tangan untuk berkenalan. Akhirnya kutahu juga namamu. Josh, nama yang selalu kudengungkan dalam doa-doa dan kutemui dalam mimpi-mimpi yang kadang mekar di bawah bantal. Dan malam ini untuk kali yang kesekian gadis kecil itu datang, wajahnya buram, matanya merah, ada darah yang terus merembes dari selangkangannya  dan dari tatapan matanya seperti menampung banyak getir dan luka. Hanya saja kali ini nyanyian sendunya serupa elegi yang mengiris tipis-tipis kalbuku dan persis saat itu kau dan aku hanya menatap gadis cilik itu dengan tatapan yang nanar. Kita tak mampu menggapainya sebab ada semacam enggan karena gadis kecil itu terlampau benci dengan kita. Yah, ia benci karena sesaat saja merasakan hangatnya cinta sebab setelah itu menjadi tiada. Aku hendak berlari memeluk gadis kecil itu kuat-kuat dan menghapus air mata yang runtuh dari pelupuknya ketika tiba-tiba aku menjadi kaget oleh teriakkan keras temanku dari samping ranjang.

 “Soleram..Soleram… cepat  bangun!!!! ada tamu di luar!”.
“siapa? siapa? di mana gadis kecil itu..di mana??
“gadis kecil?? tak ada siapa-siapa di sini. Kamu baru bangun dari mimpi, Soleram!”
Ada air mata yang mengalir di pipiku dan aku sadar tadi hanya mimpi. Aku menerawang jauh sebelum temanku kembali mendesakku untuk menjumpai tamu di luar rumahku.
“cepat dong Soleram, tamunya sudah tunggu dari tadi!”
“ia..iaa.. siapa sih yang hujan-hujan begini ingin menemuiku?” sambil berdiri aku melangkah ke ruang tamu dan persis di sana matamu yang lincah itu menangkap ekor mataku. Kita saling beradu pandang dan getar tak terkira itu kembali memukul-mukul hatiku. Aku tak bisa berkata-kata hanya bisa melambaikan tangan dan duduk di sampingmu. Entah kenapa tiba-tiba kau membimbingku ke taman tempat pertama kita berjumpa dan memecahka kebekuan di antara kita.
“kamu baik-baik saja ‘kan?”
“hmm….ia…ia… kenapa datang ke sini?”
“aku rindu kamu dan terlebih akhir-akhir ini aku sangat terganggu dengan suara gadis kecil yang selalu menghantui hari-hariku.”
“suara gadis kecil?? aku juga sering mendengarnya, tadi aku barusan bermimpi bertemu gadis kecil itu.”
“lalu siapa dia? atau jangan-jangan… ohh..ohh..my God.”
kita tak mampu membendung tangis yang pecah. Kau memelukku erat sambil berbisik “Soleram, hari ini adalah hari minggu, genap lima tahun lalu kau dan aku sepakat membunuh buah cinta terlarang kita.”

Lamat-lamat di antara derasnya hujan kita mendengar nyanyian sendu yang kita hafal betul liriknya saat kanak-kanak dulu. Aku takut setengah mati sedang kau hanya diam mendengar nyanyian hujan  dan tangisannya. Dengan segera, aku menuju ke belakang rumah dan diam-daim menabur bunga di atas pusara tak barnama yang kusembunyikan. Masih sempat sebelum pulang kau meneguhkanku “Soleram, tetaplah mantap menatap ke depan dengan matamu yang tabah dan hati yang tak goyah-goyah, aku telah mengajarimu banyak hal termasuk menisipkan ngilu dan luka di hatimu. Aku akan menjaga rahasia kita tentang gadis kecil itu. Kuharap mulai dari sekarang kamu jangan nakal-nakal lagi yah!!”

***

Nyatanya aku masih di rumah sunyi ini meski sering kenangan masa kecil kembali berseliweran dalam kepalaku tentang romansa masa kanak-kanak  yang indah. Aku masih ingat pesan Ibu “Nak, anak yang manis itu jangan dicium sembarangan kalau dicium merona merah pipimu nanti!” 

Aku berusaha mulai dari sekarang untuk tidak membiarkan siapapun menyentuhku dan di sini aku sedang belajar untuk setia mencinta dan ikhlas melepaskan yang dicinta  meski kau tahu cerita kelamku. Kuharap setelah kau membaca cerita ini, jangan coba-coba untuk membongkar rahasiaku atau barangkali mencari tahu di mana letak pusara yang kusembunyikan. Sebab jika kau punya ingin untuk itu, gadis cilik berwajah buram, bermata merah dan berdarah-darah dari selangkangan akan mengunjungimu dan diam-diam ada semacam duri dari alis matanya akan menjahit bibirmu yang kadang cerewet. Oh ia, tentang rindu antara aku dan dia barangkali rindu itu sudah mati sebab kami adalah pembunuhnya. Di luar, hujan turun deras sedang aku masih sibuk merapikan hati yang berantakkan setelah mengingat kembali masa lalu yang kelam itu dan tiba-tiba ada yang menepis ingatanku dengan ketukan keras pada pintu kamarku.

“suster…suster…ada tamu di luar….!!!”
Aku begitu kaget dan lamuanku buyar begitu saja ketika si kecilku Carolina datang membawa secangkir air putih untukku yang sedang sakit di kamar ini. Lamunan panjang selama aku berada di rumah sunyi kembali gugur di kedua bola mata ketika melihat anakku Carolina yang imut mirip ayahnya menghampiriku dengan nada yang polos sekali.
“Mama cepat sembuh yah, aku ingin mama kembali mengajariku lagu Soleram oh Soleram yang lucu itu. Oh iya, Bapak ada keluar sebentar mencari makan buat kita.”
“aduhhhhh…”

Keterangan:
Ngere emba (Ende-Lio): bagaimana.
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero. Pencinta Sastra, Tinggal di unit Gabriel.
×
Berita Terbaru Update