-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Surat Seorang Anak Untuk Ibunya Yang Adalah Seorang Dokter

Kamis, 30 April 2020 | 19:12 WIB Last Updated 2020-04-30T12:12:26Z
Surat Seorang Anak Untuk Ibunya Yang Adalah Seorang Dokter
Ilustrasi: FB pribadi Pater Tuan Kopong

Mama terkasih...
Saya senang karena keluarga kita utuh dan selalu bersama. Hampir sempurna, utuh keluarga kita. Saya merasa puas dengan perhatian dan pemenuhan kebutuhan saya sehari-hari. Namun semuanya itu tiba-tiba berubah, pada saat kemunculan satu penyakit yang tiba-tiba mengguncang seluruh dunia. Dan itu adalah awal perubahan perjalanan hidup kita sebagai satu keluarga.

Waktu pertama kali, kebanyakan mengabaikan bahaya dari covid 2019. Sampai akhirnya masuk ke bangsa kita. Banyak yang takut, banyak yang panik. Sebagai seorang dokter, engkau memenuhi dan menanggapi persoalan covid 2019 sebagai panggilan pada tugas dan pelayananmu melayani serta mengabdi kepada negara.

Saya mengakui bahwa saya bersama papa juga menderita. Setelah tiba di rumah, saya tidak bisa memeluk dan menciumimu. Engkau memilih untuk menjauh dari kami karena engkau takut kami juga akan tertular.

Saya merasakan dan melihat lelahmu. Saya tahu, engkau membutuhkan dan mengharapkan pelukanku namun itu tidak bisa kulakukan. Hari-hari berlalu dan semakin banyak yang tertular virus ini. Sudah korban jiwa terutama teman sejawat mama yang juga adalah dokter dan petugas kesehatan lainnya.

Saya tidak mau memikirkan itu. Namun saya tidak mampu mengendalikan rasa kuatir saya pada keselamatan dan kesehatanmu.

Mama terkasih...
Saya bisa saja memiliki alasan untuk menjadi egois dan tidak mengijinkan mama untuk keluar rumah dan pergi ke rumah sakit. Namun itu tidak mudah seperti yang saya pikirkan dan inginkan. Karena itu sudah menjadi pilihan mama, pilihan untuk melayani dan mengabdi kepada bangsa. Engkau mencintai pekerjaanmu dan saya tahu mama juga sangat mencintai kami.

Hingga pada suatu hari, papa memberikan telphon kepada saya. Dan ternyata mama yang menelphon. Suara mama sangat lemah. Saya merasakan ada beban berat yang mama bawa atau alami.

Hingga akhirnya saya mendengarkan kata-kata mama demikian;
“Anak, mama positif covid 2019. Kalian jangan takut dan kuatir. Kita akan melewati ini. Saya mampu menghadapinya. Saya sangat mencintai engkau dan papamu”.

Saat mendengar kata-kata mama itu, saya ingin menghilang, saya ingin marah. Namun saya hanya bisa merintih sebagai jawaban atas peristiwa yang menimpah mama. Papa memeluk erat saya. Papa tegar untuk tidak mau menangis dan berusaha menguatkan saya dan kami semua.

Sebelumnya, apapun alasannya walau lelah, kami masih bisa melihat dan berceritera dengan mama. Namun sekarang, hanya mama sendiri yang tinggal menyendiri di ruang isolasi rumah sakit dan kamipun tidak dapat mengunjungi mama.

Menakutkan bagi seorang anak yang mengetahui orang tuanya berjuang sendirian melawan penyakit yang telah merenggut nyawa banyak orang. Engkau berjuang melawan sakitmu untuk untuk orang lain.

Tetapi,
“Apakah banyak orang yang mampu memahami itu”?
“Apakah semua taat mengikuti anjuran pemerintah dan para dokter, perawat serta petugas medis lainnya untuk tetap tinggal di rumah”?

Di rumah mereka, mereka berkumpul bersama. Tetapi;
“Apakah mereka juga memikirkan kami anak-anak yang penuh dengan kecemasan dan ketakutan pada mereka yang kami cintai yang terus berada di garis terdepan berjuang melawan sesuatu yang tidak kelihatan”?
“Apakah mereka memikirkan juga kemungkinan kami tidak akan pernah melihat dan bertemu lagi dengan orang yang kami cintai dalam hidup kami, atau tidak lagi kembali ke rumah dan keluarga kami”?

Saya takut. Saya tidak mau tidur karena takut dengan apa yang akan terjadi padaku keesokan harinya. Saya merindukanmu, saya merindukanmu mama. Saya tahu mama kuat. Mama masih terus berjuang melawan. Engkau adalah pahlawan sesungguhnya kami dan papa.

Saya tahu Allah mengasihimu. Aku bangga padamu dan aku selalu membanggakanmu.

Yang mencintai: Anakmu.

Manila: 29-April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update