-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“TEMBOK PEMBATAS” (CERPEN AFRIANNA)

Kamis, 30 April 2020 | 20:07 WIB Last Updated 2020-04-30T13:07:49Z
“TEMBOK PEMBATAS” (CERPEN AFRIANNA)
Ilustrasi: google)

Oleh: Afrianna

“Jika mencintaimu adalah kesalahan terbesar, Berarti aku telah menyukai kesalahan  terbesar dalam hidupku”

Astaga Na, Kenapa sih harus memikirkan dia? 
 Kamu tidak sadar…………………………? 
 Aku mulai berbicara sendiri, setidaknya dia sudah bahagia dengan panggilan hidupnya, Setidaknya aku juga ikut merasakan bagaimana bahagianya. Lima Tahun itu tidak mudah Man, Lima tahun tanpa ada kabar, dan Lima tahun, rasanya lain tanpa kamu. Tepat pada Pukul 23.45 Ku utarakan kata-kata itu, maklum aku bocah yang masih terikat dengan rasa rindu, perasaan bodoh apa ini? Lanjut ku kemudian. .
“Bodoh-bodoh-bodoh” Gurauku sendirian .
“Sekarang sudah ada tembok pembatas, Ia aku awam dan dia adalah Biarawan, dan ini yang membedakan. Bagaimana mungkin bisa bersatu?” Kembali mulutku bercertu dalam sunyi.
Mataku enggan beranjak dari kelopaknya. Padahal dari tadi siang tidak istirahat, karena tumpukan tugas, yang semakin hari semakin bertambah, dan terpaksa manfaatkan waktu malam ini. Untungnya besok aku masuk kuliah sore, di tambah dengan dosen yang galak nan beringas  yang memberi mata kuliah. lengkaplah derita ku.
Lima belas menit setelah itu tepat pada pukul 00.00 ponselku berdering. perasaan malas mulai timbul saat itu, Segerah aku angkat ponsel, dan menjawab telepon. .
Hallo….Hallo….Siapa ya?? Tak ada suara yang menjawab. Aneh! jangan-jangan ada yang iseng. Bicaraku dengan nada keras, memecah kesunyian malam . Setelah itu ku simpan kembali ponsel di atas meja. .

Tiba-tiba untuk kedua kalinya dia berdering lagi. Manusia Aneh ! Tak ada jam lain apa? kenapa harus larut malam begini? Aku mulai dengan nada keras lagi, sambil mengangkat ponsel dari meja. Tetapi mataku melotot dan aku terkejut setelah ku lihat nomor ponsel itu,  dan membuatku menjadi lemah, bingung, apakah aku harus menjawab, atau ku tolak. Entahlah
Hallo, suaraku penuh gesa-gesa.
Anna. Apa kabarmu?
Seketika itu aku seperti orang bisu, yang tidak bisa mengutarakan kata-kata, dan hanya bisa menjatuhkan linangan air mata. Beberapa saat kemudian keheningan menjadi saapan salam kami, dan yang terdengar hanya isak tangis .
Man, apakah, Ini kamu? Pelan-pelan aku bertanya.
Ia ini aku Anna,,,Herman! kamu masih ingat aku kan?? kamu belum lupa kan? Kamu masih ingat janji kita, bukan??
Setelah itu keheningan kembali terjadi.
Ia…
Aku masih ingat, Tapi maaf sepertinya aku tidak bisa melanjutkan ini Man. Aku minta maaf ya. 
Kenapa Sayang?? Jawab Herman pelan, Atau sudah ada yang lain? Anna jawab aku, Sentak Herman. 
Bukan! Tapi sepertinya tidak bisa lagi, Aku tidak kuat Man, Aku tidak kuat seperti ini, Ia kita udah lama pacaran, tapi aku tidak kuat, Aku lebih ingin kalau kamu lanjutin panggilan kamu. . Jawabku Pelan, Ia aku mencintainya Tapi aku lebih bahagia, Jika dia bahagia. .
Anna…….”Sapanya pelan”….
Ia….
Aku…..Aku…..Aku…. Terimakasih ya Terimakasih kamu bisa mengerti, Terimakasih Kamu lebih memilih jika aku bahagia, Tapi bagaimana dengan perasaan ini Anna?? Apakah kamu tidak berpikir tentang perasaanku? apakah kamu tidak Peduli Anna? Apakah kamu tahu, bagaimana rasanya jauh dari orang yang sangat di cintai Anna? bagaimana??
Man….Kasih aku waktu. . Setelah itu aku langsung mematikan ponselku, Tanpa mengucapkan Selamat malam, yang sering ku ucapkan dulu, Selamat tidur Sayang, Moga mimpi indah, Tapi itu tidak ada lagi. Ia Rasanya lain, tetapi ini jalan yang harus di pikul.
Aku menangis….
Entah apa ini nyata, atau hanya sebatas mimpi?
Aku terlelap pada pukul 02.15 Pagi. Entahlah Tapi rasanya lain juga, Saat Herman kembali hadir dalam hidupku. Lima Tahun tak ada kabar, Saat Dia memutuskan untuk memilih jalan masuk biara di bandingkan memilih untuk melanjutkan pendidikannya, dan artinya dia memilih untuk meninggalkanku, Tapi apa yang terjadi semalam biarlah berlalu, dan aku tak peduli….
“Kak…. Bangun….” Tiba-tiba suara halus itu menyapaku. .
“Selvy, masih ngantuk ini” sapaku pada gadis kecil berusia delapan tahun itu. . “Sayang Kakak masuk sore hari ini, Keluar sana, Kakak mau lanjut tidur”
“Ada Tamu untuk Kakak, Sudah tunggu dari tadi” Gadis kecil itu kembali berbicara. .
Aku sedikit kebingungan, Entah apa, Tapi masa ada tamu untukku, apalagi pagi-pagi begini, Mengagetkan sekali. .
“Iya-iya, Tapi Kakak mandi dulu ya, Sana bilang tunggu”, Tanpa berkata apa-apa Selvy langsung meninggalkan kamarku, dan kembali, dan aku langsung bergegas untuk mandi. .Setelah beberapa saat menyiapkan diri, tiba-tiba ponselku
kembali berdering. .
“Siapa lagi. .”
“Hallo Selamat pagi Sayang”
Herman?? Tidak salah??
Anna…..Kembali suara itu menyapaku
Dengan tergesa-gesa aku menjawab, “Ia Selamat Pagi Kak Man”, Maaf Adik harus ketemu seseorang sekarang, Tiba-tiba setelah mengucapkan kata-kata itu Herman mematikan ponselnya. .
Maaf  Man. . Gerumuku sendirian. .
Setelah beberapa menit kemudian aku berjalan menuju ruang tamu. . Tanpaknya sekali, Kelihatan pasti tamunya orang baik, lihat saja Ayah, Ibu dan Selvy tertawa terbahak-bahak. 
Tetapi beberapa saat kemudian, Aku terkejut, dan hampir seperti orang bisu, kenyataan atau mimpi, tapi memang benar, Apakah mataku yang salah? ataukah aku sedang bermimpi, Setelah beberapa menit kemudian “Selamat Pagi Anna” Ia benar-benar
bukan mimpi, memang kenyataan, Ia Herman? Aku ……bicaraku terbata-bata. Ann, Kamu kenapa?? Hey, sambil mendekatiku, dia mencubit pipiku, “Anna ini aku,”
Tanpa peduli kehadiran Ayah Bunda dan selvy, Herman langsung memelukku, “Aku merindukanmu Anna, Aku tak kuat melanjutkan panggilanku, dan aku sudah mengundurkan diri, sekitar dua Tahun yang lalu” Tanpa peduli apa yang terjadi, aku langsung menangis dengan kuat, tanpa peduli, dan aku ….
Ia memang ikatan cinta itu kuat, dan Saat kami mulai berpacaran orang tua kami memang sudah tahu. . Sehingga tak ada salahnya Ayah dan Ibu mengijinkan kami berdua. Dan sebelum Herman masuk dalam komunitas. Dia sudah meminta izin kepada Orang Tuaku, dan mereka mengijinkannya, karena tidak bisa memaksakan kehendak
Man….Ini bukan mimpikan?
Man…..ini kenyataan bukan?
Man…..

Setelah beberapa saat kemudian, Herman melepaskan pelukannya, dan sesaat dia memintaku untuk mendengarkan penjelasannya mengapa dia keluar dan tidak memberikan kabar saat setelah ia mengundurkan diri, Aku tersenyum mendengar curhatannya, memang baik, tapi aku masih keberatan, karena keputusannya yang rela keluar demi diriku, dan artinya dia harus memulai lagi dari awal, proses perkuliahan, Tuhan bagaimana ini? Apakah ini baik atau tidak? Bicaraku dalam hati.
Tapi apalah, yang penting rasa rindu selama lima tahun bisa terobati.
Aku tak peduli apa yang dikataka orang karena aku yakin ini jalan terbaik dari Tuhan, Dia tak bisa memaksakan kehendak Umat-Nya bukan? Dan Herman tidak ingin memaksakan diri untuk Menjadi apa yang tidak Ia inginkan.

*** Penulis adalah Penyuka Sastra sekaligus Mahasiswi Teologi di UNIKA St. Paulus Ruteng
×
Berita Terbaru Update