-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Thomas: Pemberani atau Peragu? (Yoh. 20:19-29)

Minggu, 19 April 2020 | 20:15 WIB Last Updated 2020-04-19T13:23:33Z
Thomas: Pemberani atau Peragu?  (Yoh. 20:19-29)
Pater Dody Sasi, CMF

1. Siapakah Thomas Itu?

Memang agak aneh membuat paralelisme antara 2 Injil yang berbeda (bukan sinoptik), tapi dari paralelisme ini dapat dilihat dan ingin dikatakan bahwa Thomas yang sering juga disebut Didimus adalah seorang dari 12 Rasul Yesus. Oleh karena itu, tanpa diragukan lagi bahwa Thomas adalah orang yang dipilih dan dekat dengan Yesus.

2. Karakteristik Thomas:

Berdasarkan teks Yoh 11:16, pribadi atau karakter diri Thomas ditampilkan sebagai seorang pemberani. Dengan gagah berani Thomas mengatakan:"Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” Sedangkan dalam teks Yoh 20:25, sering orang menginterpretasi karakter diri Thomas sebagai seorang yang meragukan penampakkan Tuhan. Thomas mengatakan bahwa: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Oleh karena itu, ada 2 karakter khas Thomas di sini yakni sebagai seorang pemberani dan peragu.

3. Mengapa Thomas tidak ada bersama-sama dengan murid-murid lainnya dalam ruang terkunci?

Dalam teks Yoh 11:16 dikatakan: Lalu Thomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia”. Teks ini dengan jelas menampilkan diri dan pribadi Thomas sebagai seorang pemberani, komit dan berbelarasa. Kemauan keras Thomas untuk ikut ke Betania merupakan sebuah pilihan yang berani dan wujud dari komitmen keterpilihannya. Ia tidak peduli dengan resiko besar dihadapannya. Namun dalam teks Yoh 20:19-25, kisah tentang penampakkan pertama Yesus kepada murid-murid-Nya, Thomas tidak ada disitu (ruang terkunci itu). Pertanyaannya Thomas saat itu berada dimana? Ada 2 kemungkinan jawaban disini: pertama, Thomas bisa saja lari dan menyembunyikan diri karena takut pada ancaman dan pengejaran orang-orang Yahudi. Dan kedua, ketidakhadiran Thomas bisa menjadi isyarat bahwa ia tidak gentar dengan ancaman orang-orang Yahudi. Ia tidak takut keluar rumah. Ia berani untuk berada di luar rumah.

4. Mengapa Yesus dalam penampakkan-Nya yang kedua kepada murid-murid mengatakan “damai sejahtera bagi kamu”?

Nampaknya Yesus mencium angin pertentangan di ruang terkunci itu. Yesus kembali mendatangi para murid untuk kedua kalinya dan berkata “damai sejahtera bagi kamu” (ayat 26). Kita tentu bertanya mengapa Yesus tiba-tiba mengatakan damai kalau tidak ada sesuatu dalam ruang bersegel tersebut. Mungkin saja kita bisa memelintir sekaligus mempertegas ucapan Yesus ini dengan mengatakan “berdamailah kalian”. Setelah itulah, Yesus berkata kepada Thomas,” Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.". Dengan ini Yesus membuat suatu kritikan yang cukup seimbang.

5. Apa Makna Kalimat “Ya Tuhanku dan Allahku”?

Thomas yang kini melihat Yesus dan mendengar perkataan Yesus tidak mencucukkan tangan ke tangan dan lambung Yesus. Ia justru mengungkapkan rumusan iman yang menutup Injil Yohanes: “Tuhanku dan Allahku”. Sebiasanya gelar “Tuhan” dalam Injil Yohanes dipakai untuk menyebutkan Yesus yang masuk dalam kemuliaan. Kata-kata ini juga tidak dimaksudkan untuk menyebutkan kebangkitan Yesus secara eksklusif. Thomas juga mengakui Yesus sebagai Allah. Ungkapan iman di atas ini juga menggenakan kembali apa yang sudah dinyatakan dalam prolog Injil Yohanes (Yoh 1:1,18)

6. Apa makna dari perikop ini?

Untuk mengambil makna dari perikop ini saya mengutip bagian akhir dari teks ini: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Kata-kata ini merupakan komentar Yesus atas sikap Thomas sekaligus ingin menyatakan berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Tema ini diolah dalam keseluruhan Injil Yohanes. Banyak orang menjadi percaya kepada Yesus karena melihat tanda-tanda yang dibuat Yesus. Kepercayaan semacam ini tentu saja tidaklah cukup. Orang tidak boleh berhenti pada kepercayaan karena melihat tanda dari Yesus. Orang harus maju lebih jauh menjadi percaya kepada firman dan pribadi Yesus. Ayat ini juga sekaligus menjadi jembatan untuk masuk dalam bagian penutup Injil Yohanes (Yoh 20:30-31).

Oleh: Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update