-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tiga Ciri Anugerah Relasi Yesus dengan Banyak Orang

Jumat, 03 April 2020 | 17:20 WIB Last Updated 2020-04-03T10:24:52Z
Tiga Ciri Anugerah Relasi Yesus dengan Banyak Orang
Pater Dody sasi, CMF bersama para suster dan awam

Isi Ringkas Kotbah Paus Fransiskus, Misa Krisma, 18 April 2019.
Tiga (3) Ciri Anugerah Relasi Yesus dengan Banyak Orang

Pesan Paus pada kesempatan ini masih berkaitan dengan pesan tahun sebelumnya tentang kedekatan Tuhan dengan orang banyak yang mengikuti Dia. Kedekatan Yesus dengan orang banyak terutama melalui kontak langsung dengan mereka menimbulkan dalam diri orang-orang itu kerinduan untuk mengikuti Dia, kekaguman akan Dia dan penegasan terus-menerus. Renungan Paus dipusatkan pada ketiga anugerah yang mencirikan relasi Yesus dengan orang banyak.

Pertama, anugerah mengikuti: mereka mencari Yesus, berjalan bersama Dia, bersatu dengan Dia, mengelilingi Dia - suatu kepengikutan yang di luar dugaan, tidak bersyarat, penuh kasih sayang. Terhadap para murid yang berpikiran sempit (menurut Paus awal dari klerikaslisme) yang meminta Yesus menyuruh mereka pergi karena tidak ada makanan, Yesus justru meminta mereka “memberi makan” dan “memperhatikan-menjaga-merawat” orang-orang yang mengikuti Dia.

Kedua, anugerah kekaguman: mereka semua kagum-penuh sukacita karena kepribadian-Nya, kata-kata dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.

Ketiga, anugerah discernment: mereka mencari Yesus, menemukan Dia, terheran-heran oleh kata-kata-Nya, mengikuti Dia dan percaya kepada-Nya. Suatu siklus penegasan atau penajaman dalam Roh.

Paus berbicara tentang empat kelompok orang yang menjadi sasaran pelaksanaan misi Tuhan Yesus. Mereka adalah, orang-orang miskin, orang-orang buta, orang-orang tertindas dan para tawanan. Semuanya itu adalah gambaran jiwa kita, gambaran Gereja. Oleh karena itu Paus menegaskan kepada para imam:

"Kita para imam adalah kaum miskin dan kita ingin memiliki hati janda miskin setiap kali kita memberi sedekah, menjamah tangan pengemis dan menatap matanya. Kita para imam adalah Bartimeus, dan setiap pagi kita bangun dan berdoa : "Tuhan, supaya aku dapat melihat". Kita para imam, dalam beberapa hal keberdosaan kita adalah orang yang dipukul oleh para penyamun. Dan pertama-tama kita ingin berada di tangan belas kasih orang Samaria yang baik hati, agar kemudian dapat menunjukkan belas kasih kepada orang lain dengan tangan kita sendiri".

NB: diterjemahkan dan diringkas dari isi Kotbah Paus Fransiskus
pada Misa Krisma, 18 April 2019.
Penerjemah: Pater Dody Sasi, CMF
Foto: Kaul Kekal, WTC, Jogja, 2013.
×
Berita Terbaru Update