-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tragedi Malam Kenduri Sang Ayah

Minggu, 12 April 2020 | 10:22 WIB Last Updated 2020-04-12T03:22:33Z
Tragedi Malam Kenduri Sang Ayah
Ilustrasi: youtube

Sementara itu gurat-gurat malam semakin membuatku tetap bersikukuh kembali ke makam itu untuk menjaga pusara ayahku demi dendam kesumat yang belum terbalaskan pada si setan yang telah membunuh ayahku.

Senja masih menunggangi puncak-puncak gundukan tanah yang bagi kebanyakan orang disebut bukit itu. Pucuk-pucuk malam mulai membentangkan sayapnya siap merangkul anak-anaknya di bumi yang mungkin kelelahan setelah seharian membanting tulang di kebun. Namun bagiku pucuk-pucuk malam yang mulai membentang ini sebagai pertanda bagiku untuk segera beranjak menuju pekuburan leluhur yang letaknya tak jauh dari lereng bukit di pinggiran kampung kami. Langkahku sempat berhenti di depan sebuah pusara baru dengan guratan-guratan huruf pada nisan yang masih baru pertanda sesosok jenazah baru dimakamkan beberapa hari yang lalu. Guratan pada nisan itu bertulisakan Nain Sukabihun dengan deret-deret angka tanggal lahirnya yang tidak diketahui pasti dan tanggal kematiannya yang baru berlalu beberapa hari yang lalu. Nain Sukabihun adalah sesepuh terpandang di kampungku. Ia terkenal arif dan bijak. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya bagaikan sabda yang enggan tidak ditaati serta dilaksanakan oleh masyarakat kampung. 

Setelah melalui proses yang ruwet dengan mengalahkan beberapa rivalnya, akhirnya Nain Sukabihun dikukuhkan sebagai kepala kampungku. Beberapa jam setelah ritual, secara tiba-tiba Nain Sukabihun menghembuskan nafasnya yang terakhir saat ia masih lengkap berbusana pakaian daerah yakni  pakaian kemenangan kampung kami dan sirih pinang pengukuhannya masih merah merona pada bibirnya. Orang-orang sekampungku meyakini kematian seperti ini merupakan suatu corak kematian yang tidak masuk akal dan penyebabnya tak lain tak bukan adalah guna-guna yang dilayangkan oleh seseorang ataukah sekelompok orang tertentu yang biasa memusuhinya selama hidup. Memang tepat seperti apa kata orang, banyak kepala banyak pikiran, demikianlah semua orang kampungku mulai menerka-nerka dalam gossip-gosip ringan tentang siapa pelaku guna-guna yang amat terkutuk itu. 

Orang-orang kampungku menganggap guna-guna sebagai suatu perbuatan yang terkutuk sebab ia merupakan jalan pintas untuk melampiaskan amarah ataukah iri hati, kebencian, dll. Dan insiden kematian sang sesepuh ini adalah momen yang paling cocok untuk ditunggangi oleh beragam pikiran terkait adanya aktivitas gaib ilmu sihir itu. Setelah Nain Sukabihun dimakamkan, dewan adat kampung bermusyawarah untuk mengungkap pelaku kematian misterius itu yang tentunya oleh para pelaku guna-guna itu namun belum diketahui secara pasti siapa pelaku sesungguhnya. 

Menurut keyakinan orang-orang kampung, si pemilik guna-guna yang telah menyebabkan kematian sesorang itu akan datang kembali ke kubur si korbannya untuk mengambil kembali material guna-guna yang telah digunakan dalam membunuh si korban. Kedatangannya akan diiringi oleh tanda-tanda alamiah seperti angin kencang, suara lolongan anjing malam yang oleh orang kampung hal itu sebagai pertanda kehadiran setan. Aku masih setia dalam lamunanku perihal kampungku yang tak banyak kumengerti sambil membersihkan rerumputan liar yang masih senang bercokol di sekitar pusara ayahku. Ya, Nain Sukabihun adalah ayahku dan kematiannya sungguh membuatku amat terpukul. Alih-alih hatiku meronta dalam duka mendalam namun realitas membahasakan bahasa lain yang tak mampu aku elakkan selain berusaha memahaminya. Ingin sekali aku merobek-robek muka si tukang sihir terkutuk yang menyebabkan ayahku meninggal dunia ketika setiap kali masyarakat sekampungku menggosipkan hal serupa. Apakah ayahku tak cukup kuat menahan segala serangan roh-roh jahat itu? Bukankah ayahku dilindungi oleh arwah-arwah para leluhur di kampung kami? Lantas, apakah kematian ayahku disebabkan oleh para arwah leluhur kami tidak lagi mendukung ayahku dan apakah benar ayahku mati diguna-guna? Aku berusaha lebih cekatan membersihkan dedaunan kering dan memasang janur-janur muda di tepian pusara untuk kepentingan ritual kenduri malam ini. 

Selain persiapan fisik aku juga telah mempersiapkan batinku untuk bertemu dengan setan terkutuk yang telah membunuh ayahku. Aku akan memukulinya habis-habisan dan bila perlu aku akan membunuhnya sekalian. Malam pekat itu pun akhirnya tiba juga. Orang-orang kampung mulai berdatangan menuju pusara ayahku dan kami melantunkan ritual yang paling khidmat untuk memohon keselamatan arwah Nain Sukabihun sang sesepuh yang adalah ayahku. Aku berdiri paling depan tepat disamping ibuku yang selalu terisak ketika beberapa ayat mantra ritual itu dirapalkan. 

Malam ini juga ibuku menasihatiku untuk tidak berjaga di sekitar pusara ayahku demi kesehatanku. Rupanya naluri keibuannya mampu menangkap maksud hati sang buah hatinya. Aku pun mengikuti nasihat ibuku dan kembali ke rumah untuk melancarkan resepsi kenduri malam itu. Pucuk-pucuk malam semakin menua ketika orang-orang kampungku satu persatu berpamitan pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara itu gurat-gurat malam semakin membuatku tetap bersikukuh kembali ke makam itu untuk menjaga pusara ayahku demi dendam kesumat yang belum terbalaskan pada si setan yang telah membunuh ayahku. Aku berjingkrak perlahan-lahan keluar rumah sebab aku menduga bahwa ibuku telah tertidur pulas. Malam ini adalah malam jumat yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Aku mengayun langkah dengan sedikit gontai sambil menahan takut. Pekatnya malam ditambah lagi dengan suara-suara malam yang mengalun sendu namun sungguh menakutkan. Aku berlangkah di tepian pusara-pusara tua nan menyeramkan sambil perlahan merapalkan doa memohon lindungan Tuhan. Tepat Pukul 00.00 kakiku mendarat di tepian pusara ayahku yang masih diliputi cahaya lilin yang hampir padam, bekas upacara ritual tadi. Aku terduduk simpul beberapa meter tak jauh dari pusara itu sambil bersembunyi di berkas-berkas karangan bunga yang diletakkan di sana ketika ayahku dimakamkan. Suasana malam itu sungguh hening, hanya samar-samar aku mendengar suara-suara malam yang tanpa henti melantunkan simfoni malam, barangkali sebagai ungkapan belasungkawa mereka atas kematian ayahku ataukah sedang menertawakan keberanianku ataukah malah mengolokku, entahlah. Pikiranku melantur ke berbagai arah dengan bayangan-bayangan horor menakutkan seperti yang pernah kutonton di televisi. Meski itu tekadku bulat untuk segera menangkap dan membinasakan setan yang telah menggerogoti nyawa ayahku dengan daya guna-gunanya. Tak lama berselang aku mendengar sayup-sayup lolongan anjing hutan diikuti dengan tiupan angin keras disertai titik-titik hujan. Aku mengigil kedinginan dan sekaligus mengigil ketakutan. Berkas-berkas karangan bunga itu beterbagan kian kemari dan aku kini terduduk simpul di tengah pekatnya malam itu. Tiba-tiba aku mendengar kresekan dedaunan kering dan ayunan langkah menuju ke arah pusara ayah. Aku sigap dengan seluruh kekuatanku sebab kuyakin saatnya telah tiba untuk membinasakan setan sialan itu. Meski demikian aku berusaha untuk tetap menahan diri dalam persembuyianku, aku tetap diam seribu bahasa sambil memperhatikan keadaan sekitar. Suara kresekan ayunan langkah tadi semakin jelas dan aku melihat dua orang sedang mengendap-endap menuju pusara itu. Postur tubuh yang satu lebih pendek daripada yang satunya. Mereka mengenakan topeng sarung bermotifkan kain adat kampungku dengan sambil menutupi hampir sebagian tubuh mereka sehingga aku tak cukup jelas mengenali mereka. Aku berusaha menarik katepelku sekuat tenaga dan membidik tepat pada kepala orang yang berpostur tubuh tinggi tersebut. Sambil mengerang kesakitan aku berlari kecang dan menabrak sosok manusia yang bepostur tubuh lebih pendek tersebut. Kuraih sebuah balok besar dan kupukulkan sekuat tenaga ke mata kakinya dan keduanya tersungkur tanpa daya di samping pusara itu. Secepat kilat aku berusaha melepaskan kain penutup kepala mereka dan mengarahkan lampu senter yang memang telah kusimpan sedari tadi menuju ke arah wajah kedua sosok manusia itu yang sedang mengerang kesakitan sambil berpelukan seolah ingin bersama dalam untung ataupun malang. Aku terbelalak kaget ketika cahaya senterku menerpa kedua sosok manusia itu. sosok manusia yang berpostur tubuh tinggi itu ialah Manek Ktolaran yang adalah rival ayahku sedangkan sosok manusia yang berpostur tubuh agak pendek itu ialah ibuku.

“Ibuuuuuuuuuu…..!!!!!!!!!! apa yang sedang ibu lakukan di sini????”

Sendi-sendiku terasa lemas ketika mengetahui orang yang kubenci selama ini ialah ibuku sendiri. Ibuku diam seribu bahasa sambil sesekali terisak. Kami saling menatap dengan beragam perasaan yang tak karuan. Aku kelu mengucapkan sepatah katapun selain air mata yang membanjiri pelupuk mataku.

“Ibu, engkau tega menipuku dan ayah” tukasku sambil menatap dalam-dalam wajah ibuku yang agak keriput dimangsa usia.

“Nai, maafkan semua kesalahan ibu, ibu sangat bersalah terhadapmu dan ayah. Perihal kematian ayah bukan diakibatkan guna-guna melainkan…” tukas ibu dengan suara terbata-bata hingga tak sempat menyelesaikan penjelasannya.

“Melainkan apa bu???” tukasku dengan suara yang cukup keras karena kesal dan kecewa.
“Ibu telah meracuni ayahmu dengan racun mumpuni itu hingga meninggal demi cinta ibu pada Manek Ktolaran, dan maksud kedatangan kami ke pusara ini untuk mengambil sisa harta kita yang telah ibu sembunyikan beberapa waktu lalu di samping pusara ayah, maafkan ibu nak, maafkan ibu” kata ibu sambil menangis tersedu-sedu sambil memegang erat tanganku. Sementara itu Manek Ktolaran terduduk membisu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku baru tahu alasan mengapa ibu tak begitu peduli pada ayah ketika ia masih hidup. Rupanya ibu memiliki pria simpanan di luar sana dan ibu berusaha menipu aku darah dagingmu sendiri dan orang-orang dengan meletakkan harta itu di samping pusara ini” Aku amat kesal dengan ibuku. Aku berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah dan menangisi hidupku yang pekat, sepekat malam. Ibu tak hanya membunuh ayah tetapi juga membunuh hidupku. Berhari-hari aku bertengger dalam derita batin yang belum berujung, sementara itu ibu dan Manek Ktolaran telah menyerahkan diri ke polisi. Aku kini hidup sebatang kara bak orang mati dalam kuburan. Akhirnya aku berusaha memaafkan ibu meski ingatan malam kenduri itu belum mampu aku lupakan, mungkin esok, lusa atau bahkan ketika malam keduriku sendiri….

Oleh: Theos Seran
Penulis menetap di wisma St. Mikhael Ledalero, Maumere. 
×
Berita Terbaru Update