-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tuhan; Salahkah Aku Mencintainya? (Cerpen karya Rian Tap)

Sabtu, 04 April 2020 | 08:32 WIB Last Updated 2020-04-04T01:32:10Z
Tuhan; Salahkah Aku Mencintainya? (Cerpen karya Rian Tap)
Ilustrasi: blog beritagambarfoto

Seperti rona senja merilis sendu, membiarkan bunga bermekaran yang menutup matamu. Tanpa disirami derasnya air hujan mengibas angin di tubuh yang nyeri, saat melengkung hasrat menambat rasaku pada ubun, meski dia berkelana mencari suaka dalam marga. Toh, sang Jua tetap membawanya kembali untuk bersua dengan aku yang setia menantinya pada mimpi. Kini aku telah belajar menguak lekuk di kaku bibirku teruntutnya yang kini kusebuat perempuanku. Meniti kembali hati yang dipenuhi jahitan lara disilam kelam penuh kebekuan, akan setia yang cuilan terakhir masih tersisa tanpa sengaja, kini benihnya kau tanam di ranah jiwa paling  suci. 

Pada kamu teringin menjadi keakuanku, memberi debar nan dulu raib di nalar akan binar yang lama terbening samar, akan jemari yang lama tercari menyendiri. Kini, semua telah berpindah pun menjadi keakuan milikmu. Tolong jaga impian agar tetap di jalur semula, jaga hati biar terkunci setelahku menghuninya. Hingga tiada hak menahannya jika Sang Esa memilih salah satu menuju pada-Nya. 

Perempuanku tertaklukku bukan di paras, bukan di maksiat yang lekat di urat, bukan pula rambut yang berpita mahkota dan bukan juga pada ranum bibirmu. Ditulusmu yang menghunus, disabar yang subur menajar berakar, dikedewasaan yang kian menunaskan kebijaksaan, sebuah pemikiranlah yang berhasil mengoyak dada beku yang sengaja terfosil di kutub pilu. Kini aku datang memuja dan memujimu dalam hening yang bersepikan rindu. Aku datang dengan sejutan tanda tanya akan keyakinan rasaku padamu.

***

 Sore itu, aku berdiam diri bersandar dengan selantuan doa yang  intensinya belum pasti, jika aku mengibaratkan bahwa, berdiam untuk mencintainya adalah doa khusyuk yang harus kutitipkan  kepada semilir angin, agar sampai dipangkuannya, maka aku meyakininya akan membutuhkan kasih yang lebih mendekam kepada kebersamaan hati ini. Aku menganggap waktu itu merupakan tidur pulas yang tak pernah dicari oleh Tuhan. Aku menginginkan sebuah harapan rasa untuk bisa menempati perjuangan melawan segala tekanan rasa yang semakin mencekik raga. Karena rasa rindu adalah bagian dari kegagalan dan kegelisahan yang mendalam. Ini yang seringkali mengancam aku karena jauh dari perempuan yang ada di pangkuan Tuhan. Hal yang membuatku mencari seorang diri, seperti tersiksa ditelanjangi api neraka, menahan rasa sakit yang mendekatkanku pada rasa pasrah. 

Aku ingin  bertanya, apakah dia tahu  tentang cerita senja seperti sajak-sajak d’jalex yang menuliskan sebuah pesan cinta kepada Claudia di bawah gunung Ranaka, bahwa keindahan yang sering tercipta akan tenggelam dengan sendirinya, tidak akan ada keindahan yang lebih indah dari pada jatuh cinta, demikian yang aku tangkap. Aku mengenal dalam perjumpan singkat di sudut kota itu, waktu kami sama-sama bersua sepi pada pojok ruangan tua. Yolanda namanya. Dalam jumpa, kami sempat menukar nomor handphone, sebagai tanda jumpa dan keakraban. Sempat aku merasa senang. Ahhhhhh, mungkin aku yang terlalu menginginkannya. Mungkin saja itu hanya angin yang membiusku kedalam riuh hati untuk sedikit memberikan hiburan dan semangat. Sementara hatiku yang kotor merasakan basuhan dari air yang mengalir disore itu. Maha Kuasa Tuhan yang tak pernah aku rasakan hal berbeda seperti itu. 

Lalu, apa yang membuatku merasa hidup dari jiwa yang mati ini. Sekiranya waktu adalah perumpamaan dalam kisah dahulu, maka aku pikir ini adalah masa yang harus kulewati dengan sikap mencintainya dalam basuhan puing-puing sampah. Semestinya kata-kata adalah bisikkan dari riuh jiwa nurani. karena akal fikiranku sedikit cemas untuk menerima pahitnya sebuah empedu yang kuhisap sendiri. Tuhan akan mengirimkan malaikat yang dihadapkanku. Sembah sujudku yang seringkali hanya menatap mata angin, namun tak mampu kupahami arti dari rasa ini. Itulah pencarian nuraniku saat ini. Karena segala kebekuan hati membuat aku terkapar dalam lanjutan perjalanan hidup. Setelah itu, Yolanda menghilang. 

***

Belasan tahun berlalu, tak banyak yang berubah dari Yolanda. Senyumnya ringan, tatapan mata yang binar mendaya saling pinta, rambut pirang yang bergelombang, langkah kaki ceria, bibir yang begitu oval yang seakan mampu melumat seisi dunia. Satu hal yang membuat aku begitu semangat adalah cara Yolanda menyapa dengan senyuman manisnya. itu merupakan suatu eden surga yang pernah aku lihat. Aku jatuh cinta padanya. Kami berkirim pesan lewat  media sosial. Dia gembira, bisa bertemu dengan teman lama setelah bertahun-tahun terpisah tanpa kabar. 

Kami dulu tidak begitu akrab, sekadar saling mengenal sebagai pemulung. Tapi hari ini, ada semangat  yang mengalir diantara kami. Rasaku semakin mengebu saat paras menawan menatap. Mungkin karena lama tidak memiliki hubungan dengan wanita lain, kehadiran Yolanda membawa perasaan baru yang tercampur aduk; harapan, inspirasi atau mungkin tragedi yang menanti pada waktu. Hingga pertemuan kami kembali, aku tak tahu banyak tentang  Yolanda. Aku  dulu seorang pemulung dan berandal jalanan yang sedikit sekuler. Aku tak pernah mencampur urusan agama dan masalah dunia. Sementara Yolanda seorang Perempuan Kristen yang setia dan taat. Dia senang membaca Alkitab,  juga sering mengutip beberapa ayat dalam Injil. Aku menganggap Tuhan tak begitu penting, tapi bagi Yolanda, Tuhan adalah alasan kenapa dia hidup. 

Yolanda rajin mengunjungi Gereja setiap pekan, dan bahkan mengajariku bahwa doa adalah cara paling bijak mengakui keterbatasan manusia. Aku menganggap doa tak lebih dari sekadar alasan melarikan diri dari kenyataan, atau tak memiliki pilihan. Doa jadi pelarian palin melankonis. 

Beberapa hari kemudian, setelah perjumpaan kedua, aku menuliskan pesan singkat untuk Yolanda sore itu. aku mengajaknya bertemu. Yolanda kaget, menanggapi itu sebagai lelucon. Dia bertanya kembali lewat pesan singkat, kak apakah itu serius. Aku menjawab, ya. Aku menunggu di kedai kopi Engkong (warkop terlaris masa itu), selepas matahari terbenam. Yolanda memberikan persetujuan, dia akan datang. Aku merasakan semangat yang menggebu sore itu. Apakah ini jawaban dari-Nya atas doaku?. Ada semacam perasaan gembira,  rindu yang aneh serta sedikit cemas. Entahlah, Yolanda sudah yang pernah singgah, tiba-tiba menghilang kini kembali. Dan aku, seorang pemuda yang belum pernah menikah. Hari itu kami bertemu dalam nuansa romantik. 

***

Yolanda menikmati kisah-kisahku, yang kututurkan dengan sedikit lelucon. Kami menghabiskan sisa malam dengan berjalan menelusuri jalanan kota dengan berjalan kaki hingga ke tepi pantai. Sepertinya dia cukup nyaman bersamaku malam itu. Belasan tahun, tapi kita seolah tak pernah berpisah seharipun. Aku merasa akrab, dia pun demikian. Tak ada yang keliru malam itu, apalagi yang salah. Hingga kami berpisah jalan malam itu. Kita akan berhubungan lagi, mungkin bertemu lagi. Aku bertanya pada Yolanda, dia mengangguk kecil dengan senyum. Kapan saja, katanya. Aku mengucapkan terima kasih, memegang lembut lengan Yolanda. Kami berpisah malam itu. Aneh, Kami baru berpisah kurang dari satu malam. Bertemu lagi setelah belasan tahun, tanpa kabar, tak bertemu selama itu. tapi tiba-tiba ada yang ganjil dengan hari ini. Aku rindu? Pada siapa? pada gadis yang tak kutemui setelah belasan tahun? Pada perempuan yang berkisah tentang hidupnya yang tak dia syukuri dan menghilang tanpa kabar?? Mungkinkah aku jatuh cinta?  Aku berada pada pilihan yang cukup sulit, antara memilih dia kembali atau pergi menjauh darinya. Pada akhirnya, segala sesuatu harus diselesaikan. Tapi apakah “kita tidak pernah benar-benar memilih”?. Aku memilih; mengatakan cinta kepada Yolanda. Aku mengirimkan pesan singkat; aku ingin bertemu Yolanda malam ini. Aku berharap yang terbaik, Yolanda  mengiyakan. Aku menunggu di taman kota, pukul 21:00 malam. Aku mengambil tempat duduk yang ada di taman, dengan lampu yang bersinar redup. Hampir 40 menit, Yolanda tiba. Seperti biasa, dia selalu sederhana dengan rambut berkepang lurus. Satu-satunya yang membuat Yolanda terlihat jelas dari jarak jauh adalah senyumnya yang tulus. Dia mendekat, berjalan ringan. Aku memberikan tempat duduk tepat disampingku. Doaku terjawab  semesta, aku sudah menyiapkan kata-kata romantis yang aku pinjam dari penyair ulung Goenawan Muhamad. Yolanda duduk, menyandarkan punggungnya, menolehkan sedikit kepalanya padaku, dan tersenyum. Aku berbicara pada Yolanda; Maukah kau ikut denganku? Yolanda terkejut. Ada energi yang sama mengalir dalam tubuhnya. Perasaan bahagia yang tak terjelaskan. Yolanda menggeser duduknya, lebih dekat denganku. Dia mengulurkan tangannya, memegang lenganku dengan lembut. Yolanda menangkap ungkapan itu, memahami maksudnya. Dia mendekatkan kepalanya, dan mulai berbicara dengan suara yang terdengar seperti kidung doa yang terpancar dari dindinng-dinding kuil suci. Aku tak ingin menjadi orang yang kehilangan kekasih, aku tak ingin mati tenggelam dalam rindu dan aku tak ingin kamu bernasib seperti manusia yang membaca surat-surat kekasih yang telah mati. Saya tak ingin kisah kita, terputus tanpa sengaja.

***

 Tuhan; salahkah aku mencintainya?”, namun tak ada alasan yang dapat dikatakan pada mereka yang jatuh cinta”. “Jika kamu bertanya apa yang nyata, maka yang nyata bagiku adalah cinta, tanpa tafsiran. Bukan cinta yang membuat aku terjaga setiap saat, ibarat menjaga terpidana mati dalam penjara”. Yolanda menyelesaikan kalimat terakhirnya. Segalanya jadi jelas. Kita merasakan rindu yang sama, tenggelam dalam perasaan yang sama. Tapi bukankah cinta memang sesuatu yang aneh; kita sering bertemu dengan seseorang di waktu dan tempat yang tidak tepat, tapi dalam waktu singkat, jatuh cinta. Satu-satunya yang membuat kita bertahan hidup adalah impian kita. Terkadang ditengah perjalanan, ada mukjizat dan keajaiban menyertai kita, entah kita mengharapkannya atau tidak, sebagaimana keajaiban yang mengisi sisi-sisi yang “terabaikan” dalam kebersamaan kita. Hari itu, aku merasai diri seperti hujan yang turun ragu, tak deras, bahkan tak bisa membasahi, walau di bantu angin, gumpalan awan itu tak juga terurai jatuh seperti helaian-helaian benang. Pikiran dan hati menjadi hangat. Aku menjadi kekasih yang selalu mesti menerima rindu-rindu tanpa bisa menghindarinya. Tuhan; aku tak salah mencintainya.

Penulis adalah Pegiat Sastra sekaligus anggota Pendiri Sastra Sampul Buku unit Gabriel. Asal Lembor Manggarai Barat. Alumnus SMAK St. Ignatius Loyola-Labuan Bajo. Sekarang tinggal di Ledalero-Maumere. 
×
Berita Terbaru Update