-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Via Dolorosa Tuhan dan Pandemi Covid-19

Rabu, 08 April 2020 | 15:02 WIB Last Updated 2020-04-08T08:02:33Z
Via Dolorosa Tuhan dan Pandemi Covid-19
 Edy Soge

Oleh: Edy Soge

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga…tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.” (Mat27:45,51)

Saya membayangkan suatu dunia yang sepi dan diliputi ketakutan. Dunia itu ibarat Golgota Tuhan. Banyak orang di sana. Berada dalam ketidaktentuan pilihan dan jawaban. Sebab imaji Golgota adalah ‘tengkorak’ (place of the skull), malam gelap wajah kematian, deru gemuruh malapetaka, segenap jasad berlabuh di sana. Orang-orang menjadi takut dan Tuhan sungguh amat kesepian ditinggal Bapa. Namun iman menjadi terang benderang di hadapan tapal batas kehidupan. Meski ditinggal Bapa Tuhan masih tetap pasrah, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Meski takut kepala pasukan tetap mengakui pribadi Ilahi Yesus, “Sungguh orang ini Anak Allah”. Penyamun tersalib menyadari imannya, “Yesus, ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Iman kita diuji di dalam penderitaan. Sebatang emas murni harus diuji dalam tanur api.

Dunia ‘golgota’ yang saya bayangkan itu sedang kita alami hari-hari ini. Mulai akhir Desember 2019 dan entah sampai kapan peradaban dunia dilanda malapetaka pandemi global Covid-19. Corona virus telah menyerang dunia dan merengkut begitu banyak nyawa manusia. Kehilangan beribu-ribu, kecemasan berlaksa-laksa. Duka ini lebih dalam dari laut, lebih luas dari samudera. Dunia hampir sepi. Italia bagai kota tak bertuan. Seperti tak terdengar lagi bunyi lonceng Vatikan. Cina pun hampir menjadi yatim piatu. Sepi. Banyak orang telah berpulang. Virus ini mematikan. Menghambat begitu banyak akses kehidupan. Relasi politik dan ekonomi terhambat. Interaksi sosial dibatasi dengan suatu jarak sosial yang mengurangi penyebaran. Indonesia berada pada situasi krusial penanganan dan pencegahan Covid-19 dan penyebarannya. Sebagian orang masuk ruang isolasi dan sebagian besar harus tetap di rumah. Bahkan segala macam aktivitas kolegial rohani dan profan diberi batas. Umat beriman tidak lagi bebas beribadah di rumah Tuhan. Pintu gereja ditutup. Hanya tinggal burung-burung gereja hinggap di atapnya. Semoga lampu tabernakel tidak padam.

 Kita telah melewati situasi pantang dan puasa, doa dan amal, tobat dan berserah. Sekarang kita masuk dalam kekhusyukan misteri Paskah. Kita merayakan Paskah Tuhan. Kita kenang dalam hening dan doa narasi derita yang berpuncak pada kebangkitan Tuhan. Kita melewati via dolorosa dan tentunya mencapai ‘tabor’ kehidupan. Lagu-lagu sendu prapaskah dan irama sedih melodi jalan salib telah menyinggung rasa hati kita. Suasana prapaskah terasa seperti panorama senja kala di kuburan tua, dan kita telah lalui dengan segenap rasa kacau, galau dan gelisah. Langit buram, burung kembali ke sarang, angin sepoi menghibas wajah sepi, begitu sunyi dan menggetarkan. Kesepian sungguh dialami. Kita seperti berada dalam waktu berkabung. Seperti berada di tengah ratapan. Kita menyadari diri yang terbatas. Hanya debulah aku di alas kaki-Mu Tuhan. Tak layak aku tengadah. Kita mohon ampun atas salah dan dosa. Kita sadar diri tengah situasi tobat dan paskah. Kita memohon, ampun seribu ampun – hapuskan dosa-dosaku. Prapaskah adalah saat sendu ketika iman dirayakan dalam sesal dan tobat, dan paskah adalah saat sukacita kita merayakan kemenangan iman kita.

Prapaskah kita adalah kabung yang sungguh-sungguh. Namun kita telah memaknainya. Pada situasi global saat ini kita sepertinya merayakan kembali prapaskah, prapskah kemanusian. Kita berkabung lagi. Kita berkabung atas kepergian kekal sama saudara yang meninggal akibat serangan Covid-19. Kita sekarang tidak hanya mengenang dan mengagungkan jalan salib Tuhan, tetapi juga salib kita sendiri dalam menghadapi bahaya virus corona. Golgota sekarang tidak jauh. Bukan lagi di luar tembok kota Yerusalem, melainkan di Cina, Italia, Jepang, Amerika Serikat, di mana-mana, juga di negeri tercinta Indonesia. Dunia kita hari ini jadi sepi dan diliputi ketakutan. Kematian di mana-mana, und niemand Weiss weiter (dan selanjutnya tak seorang pun tahu). Kita hidup dalam Gezeiten des Schweigens (saat-saat bungkam). Dalam situasi ini masih sanggupkah kita banyak bicara ataukah kita memilih diam? Ludwig Wittgenstein menulis, “Woüber man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen” – apa yang tak dapat dibicarakan, tentangnya orang mesti diam. Bahasa manusia terbatas. Sesuatu yang berada di luar kenyataan dunia tidak dapat diungkapkan bahasa. Batas bahasaku adalah batas duniaku. Demikian keyakinan epistemologis filsuf bahasa Ludwig Wittgenstein. Namun seorang filsuf lain berkata,
“Tentang apa yang tak terucapkan
Kita harus mengucapkan jua
Sebab dari situlah kita hidup
Dan dari situ pun kita mati”.

Bahasa adalah dasar eksistensial kehidupan manusia. Manusia hidup dalam dan melalui bahasa. Dengan bahasa manusia merealisasikan jati dirinya. Bahasa adalah kekuatan terberi. Ialah logos yang menjadi dasar kita hidup sebagai manusia dan membantu kita mengerti kematian. Kita hidup dan mati di dalam logos, sabda, firman, bahasa. Dengan ini bukan tidak mungkin jika bahasa manusia sanggup mengucapkan perkara-perkara di luar kesanggupnya sendiri. Kita tak hanya diam, tetapi harus bisa berbicara tentang penderitaan dan tragedi paling keji. Karena dengan itu kita memberi makna kepada sesuatu yang tampak seperti misteri. Kita memaknai penderitaan dan kematian dengan pertama-tama diam, tunduk rendah di hadapan kuasa Tuhan lalu berjuang membahasakannya supaya kita dapat belajar dari pengalaman. Karena itu, dalam situasi penderitaan dan kematian akibat virus corona kita bertanya, mengapa ini terjadi, siapa yang membuat corona virus yang menyebabkan kematian umat manusia, dan di  manakah Tuhan dalam penderitaan dan kematian ini.

Wuhan, salah satu kota tersibuk di Cina dengan kualitas pendidikan dan penelitian laboratorium yang memadai, menjadi tempat pertama berkembangnya virus corona. Di kota ini terdapat pasar seafood yang dikenal dengan Huanan Seafood wholesale Market yang menjual juga hewan-hewan seperti kelalawar, ular, tikus, babi, dan lain sebagainya. Pasar Huanan, Wuhan, kemudian dikenal sebagai tempat pertama menyebarnya virus corona. Dicurigai virus ini berasal dari kelawar sebagai reservoir yang potensial untuk SARS-Cov atau SARSr-Cov (severe acute respiratory syndrome related corona virus). Virus ini mirip dengan virus corona pada kelalawar dan bersifat zoonotik. Awalnya menyerang binatang, tetapi kemudian tranmisinya kepada manusia dengan menyerang sumber pernapasan. Corona virus menyebabkan sindrom penapasan akut berat sehingga jumlah kematian kian meningkat dari waktu ke waktu.

Barangkali ada yang mencurigai bahwa virus ini dibuat oleh manusia demi kepentingan politik ekonomi global. Namun kerja laboratorium membuktikan bahwa corona virus berasal epidemi alami yang kemudian menyerang daya vital manusia, pernapasan. Analisa genetik menunjukkan adanya kedekatan dengan corona virus pada kelalawar. Dari kelalawar ke manusia dan dari manusia ke manusia lain. Berawal dari Wuhan kemudian mengglobal ke berbagai belahan dunia. Manusia adalah makhluk terhubung sehingga virus ini dengan mudah menyebar dari manusia suatu benua tertentu ke manusia berikut di belahan benua lain.

Covid-19 bisa kita sebut sebagai malum (keburukan, penderitaan). Jika ia dibuat manusia, penyakit virus ini bisa kita sebut malum morale. Keburukan moral yang dibuat oleh manusia. jika virus hadir secara alamiah, kita bisa menyebutnya malum physicum. Keburukan alamiah yang ditimpahkan alam kepada manusia. Namun kita pasti terus bertanya mengapa virus ini  ada dan menyebabkan kematian global.

Barangkali saya punya kemungkinan jawaban bahwa pandemi global ini terjadi karena suatu keterbatasan fakta kehidupan alam semesta. Boleh jadi saya sebut malum metaphysicum. Keburukan metafisis, yang melampui pengertian fisis dan moral, keburukan yang ada secara ontologis pada struktur dasar keterbatasan manusia dan dunia. Manusia terbatas, dapat salah, melakukan kejahatan, menderita, dan dapat mati. Alam pun terbatas sehingga selalu mencari keseimbangan kosmis dengan berbagai benturan dan bencana.

Barangkali tragedi virus mengafirmasi suatu pencarian alam semesta akan sebuah harmoni universal. Virus corono telah merusak tatanan dasar hidup manusia dan segala bentuk peradabannya. Dunia yang damai dan harmonis telah digoncang oleh virus ini. Lukisan dunia yang anggun dirusak oleh penyakit global corona virus. Ia seolah menjadi bagian dari suatu keutuhan dan keteraturan yang lebih tinggi. Dengan ini kita belajar untuk melihat secara terbuka gambaran akan keseluruhan yang proposional. Kita sedang berada dalam ziarah menuju harmoni yang lebih tinggi.

Dari sudut pandang filosofis St. Agustinus tragedi kematian akibat Covid-19 bisa kita pahami sebagai privatio boni (kekurangan kebaikan). Pandemi global corona virus terjadi bukan karena ketiadaan kebaikan, melainkan karena kurangnya kebaikan. Segala sesuatu diciptakan baik adanya. Maka sesungguhnya keburukan dan penderitaan tidak ada secara in se, dari dirinya sendiri. Keburukan tidak pernah ada dari dirinya sendiri, tetapi adanya bergantung pada bonum. Ia ada sejauh kebaikan direduksi ke arah yang buruk. Dengan ini kita bisa dihibur bahwa sebetulnya kuasa kebaikan dan rahmat Tuhan lebih besar dari apa pun penderitaan dan keburukan di dunia.

Barangkali covid-19 merupakan keburukan dan penderitaan paling besar abab ini. Ia seperti menghantar kita di ambang kematian. Keberadaanya hendak membenarkan apa yang dikatakan Martin Heidegger, sejak kelahiran setiap orang sudah cukup tua untuk mati. Kematian terasa begitu akrab sekali. Ia datang tanpa diundang dan dengan secepat kilat merengkut pulang nyawa orang hidup. Sungguh dunia hunian hampir sepi, hampir lenyap. Golgota Tuhan membayang di mana-mana. Kita menyusuri jalan salib tragedi pandemi global covid-19. Semoga iman kita tetap hidup sebab ia adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Maka dengan rendah hati bersama pemazmur kita berdoa, “dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu ya Tuhan! Tuhan dengarkanlah suaraku! Biarlah telingamu menaruh perhatian kepada suara permohonanku” (Mzr 130:1-2).

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero, Maumere. 
×
Berita Terbaru Update