-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Virus Corona dan Hati yang Merindu

Jumat, 17 April 2020 | 20:43 WIB Last Updated 2020-04-17T13:43:07Z
Virus Corona dan Hati yang Merindu
Yuliana Tati Haryatin

Oleh: Yuliana Tati Haryatin *)

Cuaca siang ini kurang bersahabat. Padahal pagi tadi, langit kelihatan cerah dan mentari pagi bersinar dengan terangnya. Tidak dengan saat ini, langit kota diliputi mendung. Sepertinya,  sebentar lagi turun hujan. Untung saja jemuranku  sudah mulai kering. Kuambil waktu jedah sejenak setelah hampir setengah hari ini kuhabiskan waktu untuk menata taman, mencabut rumput, merapikan pot bunga,  membersihkan halaman rumah, memasak, dan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Yah,  aktivitasku selama stay at home memang lebih banyak yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Maklum, wanita berperan ganda, jadi, di saat-saat sibuk, begitu sulit mengatur waktu antara pekerjaan rumah dan tugas profesi. Makanya saat  wabah ini datang, waktuku untuk mengurus rumah semakin banyak. 

Kulihat jam dinding di kamarku.  Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.  Akh... melihat jam dinding itu, aku langsung teringat dengan ladang utamaku, beserta segala hal yang ada di dalamnya. Dijam begini, biasanya aku sedang  ada bersamamu ,  generasi penerus bangsa yang Tuhan titipkan kepadaku di taman pendidikan SMAN I Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Sebulan sudah kita terpisah oleh ruang dan waktu. Yah, sebulan sudah kita tak bertemu di taman pendidikan kita.  Bukan karena tidak ingin bertemu, tetapi semata-mata karena situasi dan kondisilah yang tidak memungkinkan kita untuk bertemu di dunia nyata. 

Aku dan kamu tentu sudah tahu bahwa saat ini bumi kita sedang sakit karena begitu dahsyatnya wabah Covid-19 atau virus Corona yang sedang melanda dunia. Virus yang semula hanya ada di Wuhan, Cina, kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Telah begitu banyak korban berjatuhan. Pahlawan kemanusiaan  terus bekerja keras memerangi virus ganas ini. Tidak sedikit diantara mereka yang telah gugur saat menjalankan tugas panggilannya. Betapa pilunya hati saat membaca kisah perjuangan mereka. 

Social Distancing atau pembatasan sosial diterapkan di berbagai negara.  Bahkan ada beberapa negara yang terpaksa menerapkan lokwdown. Meski demikian, hari demi hari korban terus berjatuhan. Berbagai aktivitas yang menghadirkan banyak orang dihentikan. Roda ekonomi serasa berhenti. Sektor yang lain pun terkena imbasnya, termasuk bidang pendidikan. Rupanya Semesta sedang menegur  penghuni bumi yang berakal budi ini untuk mengambil waktu jeda sejenak  di tengah kerusakan bumi yang semakin parah. Tidak tanggung-tanggung, cara-Nya begitu indah. Melalui virus kecil yang tak terlihat oleh mata itu akhirnya manusia sadar begitu pentingnya merawat bumi dan segala isinya. Jangan rakus dan serakah. Saatnya untuk masuk dalam keheningan, stay at home, sembari berkanjang dalam doa,  berdialog dengan Sang Penguasa Semesta dalam keheningan. Pulihkan bumi yang sudah rusak parah. Doa dan karya harus seiring sejalan. 
  
Sudah hampir sebulan, sekolah diliburkan. Semua siswa dihimbau untuk belajar di rumah saja, tidak terkecuali, sekolah tempatku mengabdi, SMAN I Komodo.

Aku masih di kamarku. Di luar, hujan sudah mulai turun membasahi bumi. Kuamati butiran hujan yang jatuh ke taman dari balik tirai jendela kamarku. Meski mataku tertuju ke taman, tidak demikian dengan hatiku. Setumpuk rindu  memenuhi ruang hati. Satu per satu wajah-wajah polos di ruang kelas itu terlintas di benakku. Rinai hujan turun semakin deras. Rindu ini pun semakin menggunung.  Terbayang jiwa-jiwa muda itu melangkah dengan penuh semangat di pagi hari, merajut mimpi, mencari ilmu di taman pendidikan SMAN I Komodo, tempatku mengabdi. Teringat wajah-wajah ceriamu itu, yang menyapaku dengan senyumanmu yang tulus, saat berpapasan  denganku di pintu gerbang sekolah, di halaman, di lorong-lorong kelas, di sudut-sudut sekolah, di ruangan guru, di kantin sekolah, di kelas, di teras,di perpustakaan, dan di tempat  lainnya. Teringat juga wajah2 lugumu yang cuek, acuh tak acuh dengan aku gurumu, Yah, mungkin di dalam tugasku itu sering kumarah dengan menghamburkan kata-kata tegas, tajam. Aku paham, karena usia beliamu belum paham betul proses pendidikan manusia via ruang sekolah. Tapi dari itu semua, aku rindu. Kenapa ya? mungkin saat stay at home ini saya baru menyadari betul arti "panggilan hidup sebagai guru", infah rasanya, meski disebut pahlawan tanpa tanpa tanda jasa.

Sungguh hati ini merindu. Aku rindu suasana kelas yang menyenangkan, kelas yang penuh riuh dengan diskusi-diskusi yang menarik, diselingi canda tawa penuh sukacita saat Ice breaking tiba. Aku rindu dengan tingkah lucu dan kenakalan-kenakalan kecilmu, yang terkadang membuat dahi ini berkerut.  Aku rindu derap langkah kakimu yang bahkan seringkali lari terbirit-birit  ke kelas saat ditegur guru karena terlambat atau bolos. Aku rindu  gerak lincahmu yg berlari dengan cepatnya saat petugas piket memanggil namamu dari teras sekolah. Aku rindu  coretan-coretan kecilmu di kertas putih dengan beranekaragam huruf dan tata bahasa yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Aku rindu lantunan doa darimu secara bergilir, setiap pagi atau pun saat memulai dan mengakhiri KBM, yang terkadang ada yang tersipu malu dan gugup karena doa spontan yang terputus-putus. Akh... masih terlalu banyak kisah tentangmu. 
Sungguh, di sini hatiku merindu. 

Kulihat kembali jam dinding di kamarku. Waktu menunjukkan pukul 11. 15. Ingatanku beralih ke rekan-rekan guru dan pegawai. Satu per satu, wajah-wajah itu terlintas di benakku, dengan berbagai keunikannya.  Jam-jam begini, biasanya ruangan guru sudah ramai karena para pendidik kembali dari kelas untuk istirahat sejenak melepas lelah. Canda tawa penuh keakraban begitu melekat dalam diri kita setiap kali  berkumpul. Sambil mamiri, ada-ada saja cerita-cerita unik, lucu, dan guyonan yang membuat hari-hariku selalu ceria dan penuh sukacita. Akh...rindu ini kembali memenuhi ruang hatiku. Aku sadar dari lamunanku. 

Perlahan kumenghampiri meja kerjaku yang ada di pojok kamar,  menghidupkan layar monitor  laptopku yang ada di atasnya. Untuk mengobati kerinduanku,   Kubuka kembali galeriku. Di sana,  kutemukan  wajah-wajah yang kurindukan itu. Untuk sesaat, hatiku terhibur.  Ingatanku kembali ke saat-saat dimana potret-potret dan video ini diambil. Di antara wajah-wajah itu, kutemukan mereka yang telah mengakhiri ziarahnya di bumi ini. Semesta telah memanggil mereka pulang ke pangkuan-Nya. Lama kupandang potret mereka yang telah berpulang. Mengingat kenangan bersama mereka, tak terasa kedua butiran bening, mengalir deras membasahi kedua pipiku. Aku tersentak kaget, saat si si buah hati yang bungsu langsung menerobos masuk kamarku, dan memelukku dari belakang, seakan-akan dia tahu kalau hatiku merindu. Si bungsu memang selalu punya cara untuk membuat hatiku kembali tersenyum. Senyuman ini mungkin akan semakin sempurna saat wabah virus Corona ini musnah dari muka bumi ini. Cepatlah sembuh bumiku, karena di sini hatiku merindu. 

Goresan siang, Labuan Bajo, 16 April 2020.
*) Guru SMN 1 Labuan Bajo, alumnus PT. St.Paulus Ruteng.
×
Berita Terbaru Update