-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

VIRUS CORONA DAN 'VIRUS LITERASI' YANG MERONA

Jumat, 03 April 2020 | 19:16 WIB Last Updated 2020-04-03T12:18:32Z
VIRUS CORONA DAN 'VIRUS LITERASI' YANG MERONA
Silvester Joni

Covid-19 ini seolah hadir dalam wajah yang paradoks. Ia bisa 'menghancurkan' tubuh manusia di satu sisi, dan menghadirkan keuntungan positif pada sisi yang lain.

Sudah ada banyak uraian, ulasan, dan tulisan yang terpublikasi di media arus utama dan media sosial maupun yang dikupas dalam pelbagai kanal diskusi publik di layar kaca (Tv) yang coba melihat 'sisi positif' di balik bencana non-alam itu.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin 'mengulang lagi' hal-hal positif yang sudah diekspos tersebut. Saya hanya ingin menuangkan semacam hubungan kausal antara wabah corona dan merekahnya actus literasi kita. Tentu, literasi yang ditekankan dalam tulisan ini, masih debateable. Soalnya, rujukan yang saya gunakan adalah 'aktivitas baca-tulis' di media sosial khususnya dalam platform facebook, di mana isu covid-19 menjadi "tema pokok".

Jika kegiatan baca-tulis di media sosial bisa dilihat sebagai manifestasi dari 'kultur literasi dasar', maka kita menyaksikan perkembangan yang signifikan dari aktivitas semacam itu di tengah bergulirnya pandemi covid-19. Nyaris tiap menit aula kognisi kita 'dibombardir' oleh rupa-rupa informasi yang berkaitan dengan problem corona baik yang ditulis oleh jurnalis profesional maupun tulisan dari para warga net (jurnalisme warga). Ruang kognisi dan volume otak, rasanya terlampau kecil untuk mencerna dan menampung pelbagai tulisan tersebut. Kita pasti 'kelabakan' mengonsumsi berita dan informasi yang hilir mudik di ruang maya tersebut.

Fakta 'menjamurnya' produk kerja otak terkait dengan covid-19, boleh dilihat sebagai semacam 'berkat terselubung' yang kita tuai di musim corona ini. Pasalnya, naluri kuriositas dan eksplorasi terhadap isu itu begitu tinggi. Kita terstimulasi untuk sekadar menganalisis, memberitakan, dan menyebarkan aneka fakta dan gejala seputar pandemi covid-19. Energi berliterasi kita seolah bekerja secara optimal. Corona membuat aktivitas berliterasi di media sosial kian merona.

Rupanya, bersamaan dengan menjalarnya virus corona, kita menyaksikan fakta yang menggembirakan yaitu 'menyebarnya' virus literasi. Siapa yang 'tidak tertulari' oleh virus literasi di media sosial saat ini? Rasanya, hampir semua netizen sudah terjangkit dengan 'virus literasi'. Berharap kuntum literasi corona ini, tidak hanya merekah sesaat. Spirit literasi yang sama sudah seharusnya bersemi dan bertumbuh sepanjang musim.

Oleh: Silvester Joni
Penulis adalah alumnus STFK Ledalero
×
Berita Terbaru Update