-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

WajahMu Kucari Ya Tuhan, Yesus Wafat di Salib

Rabu, 08 April 2020 | 16:10 WIB Last Updated 2020-04-08T09:10:52Z
WajahMu Kucari Ya Tuhan, Yesus Wafat di Salib
Salib Kristus (Ilustrasi: youtube)

Oleh: Edy Soge Ef Er*

WajahMu Kucari Ya Tuhan

“Wajah-Mu kucari ya Tuhan,” debur rindu jiwa Veronika
Perempuan pemberani. Mengepak segala hasrat kasih
Menghempas lengan-lengan congkak serdadu. 
Selenan putih mendekap mesra
Wajah Sang Guru..... 
Diusapnya penuh rindu dan gemuruh duka.... 
Air Matanya
Mengurai bagai gerimis hari itu. 
Yesus berserah sambil melukis wajah-Nya sendiri
Pada kain Veronika..... 
Keduanya membagi cintakasih
Keutamaan hidup

Saudara… Saudari…
Sudahkah kita membagi cinta, memberi waktu, mengobati luka sesama kita yang menderita?
Kadang kita menoreh luka pada yang terluka, 
mencemooh yang tercemooh, menghina yang terhina, bahkan 
kita meletakkan salib lebih berat di atas pundak mereka
Di jalan ini Tuhan menanti kita datang memberi-Nya senyum dan 
jika mampu mengusap wajah-Nya rupa derita luka berdarah.....(hening)

“Barangsiapa melakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini
ia melakukan untuk Aku.”

“Wajah-Mu kucinta ya Tuhan,”  suka cita hati Veronika
perempuan pengasih. 
Didekapnya kain wajah Yesus dengan dingin jemari
dan dikenang secara manis pada dadanya yang embun. 
Ia bawa pulang kado Tuhan itu dan ia bagikan kepada sesamanya yang 
rindu memandang wajah Allah.......

Saudara… Saudari…
Apakah kita sudah memandang wajah Allah dalam wajah-wajah mereka yang terluka?
Ataukah kita lebih mencintai wajah kita sendiri?
Tuhan rindu kehadiran kita.....
Ia sekarang ada di dekat kita....
Ia memanggil nama kita...
Ia membutuhkan kita, 
“Sebab serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang tetapi 
Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”

“Wajah-Mu kucari ya Tuhan,” debur rindu jiwa Veronika.
“Wajah-Mu kucinta ya Tuhan,” suka cita hati Veronika.
Semoga kita rindu memandang wajah Yesus,

(Perhentian VI: Veronica Mengusap Wajah Yesus)

Yesus Wafat di Salib

“Benih itu jatuh dan mati.                    
Lalu berkecambah – tumbuh – menghijau dan berbuah.”
Saudara-saudari... Golgota sudah sampai!              
Salib telah berdiri rupa tiang awan kemenangan mega kemuliaan.                                     
Yesus tergantung agung. Pandanglah!                
“itu tubuh / itu tubuh / mengucur darah /                    
mengucur darah / rubuh/ patah / mendampar tanya, aku salah?”

Tuhan..... Oh Tuhanku.....
Getsemani telah lalu zaitun pun layu                              
sekian jumpa, tegur sapa, dan tiga kali jatuh                 
selesai sudah, tinggallah golgota, di sini                         
adalah perhentian tapal batas tanpa batas                                      
jedah dari jalan panjang via dolor

Tubuh Sang Sabda tersalib
darah mengucur memancar kasih                        
salib jadi kuyub darah penghabisan
garis-garis luka menjelma pelangi, janji keselamatan
Tangan terentang tak mampu
merangkul lalu ikhlas di sini?

***

Angin berembus  menambah nyeri di dada. Waktu bagai lebur bercampur debur, berlalu lalu tiada. Sang Sabda pun sepi, sesepi mercusuar  segala menyingkir. Di kaki salib Bunda merangkul, sepi sendiri, sendiri sepi. Air mata menetes bening Yordan membasahi bukit batu. Lalu di mana Bapa? Sang Sabda kuat dicambuki sepi ditinggal Bapa, rindu dikumandangkan: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46)

Inikah kebisuan Allah? Entah, sebab duka-Nya segala amarah. 
Semesta raya temaram,  awan gelap menerawang. Tabir bait suci terbelah dua, kubur-kubur menganga, bukit-bukit terbuka orang-orang pun takut, lalu bergegas berpaling sambil  memukul-mukul dada: mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa!

Seorang tak menoleh, setia memandang salib yang menguning sambil titipkan semburat jingga iman manusia  “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!” (Mat. 27:54)

Sudahkah kita memukul-mukul dada? Ataukah kita busungkan dada sebukit congkak? Coba tanya pada hati yang sedang puasa.

***

Luka menambah nyeri derita mengering
Air kehidupan menggantung dahaga:
“Aku haus!” (Yoh.19:28)

***

Saudara-saudari.... 
Yesus haus agar kita menemukan kesengsaraan dalam air hidup, Yesus disiksa oleh kehausan agar dari hati di sisi lampung mengalir air kehidupan. Yesus haus mendambakan cinta kita dan keselamatan kita.
“Hidup ini harus saling berbagi sebagaimana air yang mengalir. Bukannya beku kaku membisu bagai laut mati.”

***

Pada akhirnya segalanya tiada
Yesus menerima kematiaannya:
“Sudah selesai.” (Yoh 19:30)
Yesus sudah menyelesaikan tugasnya
Segala sesuatu telah dikosongkan
Akhir ini adalah pemenuhannya.
Apakah puasa ini benar-benar selesai?

***

Sebelum segalanya terkatup lalu lelap baka
Sang Sabda bersabda:
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!” (Luk 23:46)

***

Saudara-saudari... 
Yesus menaruh segalanya dan dirinya di tangan Bapa.
Tangan itu sedemikian lembut dan sedemikian pasti.
Tangan itu bagaikan tangan seorang ibu
Tangan itu memeluk jiwa-NYA.
Yesus  pun menyerahkan diri secara total ke dalam kuasa bapa-Nya.

(Jalan Salib Tuhan Perhentian XII)

*Edy Soge Ef Er, lahir di Hewa (Larantuka), 27 Oktober 1996. Menamatkan sekolah menengah atas di SMA Seminari San Dominggo Hokeng dan sekarang belajar filsafat di STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
×
Berita Terbaru Update