-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wanita Penyeduh, Diary Janda Pemilik Kedai (Antologi Puisi Alex sehatang)

Kamis, 16 April 2020 | 21:41 WIB Last Updated 2020-04-16T14:41:41Z
Wanita Penyeduh, Diary Janda Pemilik Kedai (Antologi Puisi Alex sehatang)
Ilustrasi: gaya.tempo

Wanita Penyeduh

Sampai kapan cara berpikir ini terus menatap, padahal menetap masih lugu untuk saling bertatap.
Adakah kopi untuk diseduh atau setidaknya teh untuk diteguk agar air ini jangan terlalu tawar untuk membaca cerita tentang hening, sunyi, sepi bahkan hampa.
Wanita pelayan kopi yang tidak mencintai teh dan yang membenci air tawar.
Jangan purna  untuk mencintai pelanggan yang menopang dagu menunggu seduh dan teguk.

Cerutu

Mampukah cerutu itu membuatku nyaman bahwa dengannya kamu ada?
Terus kalau sakit.
Haruskah cerutu itu membuatku derita bahwa dengannya kamu pergi?
Terus kalau mati?

Diary I Janda Pemilik Kedai
03.00 Subuh.

Ocehan serak-serak basah 3 pemuda tangkas bengis membangunkanku dari tidur yang teduh.
"Kami ingin mengambil 3 buah paku."
Karena gerutuku mereka mengambil dengan tidak sopan.
Tidak meninggalkan uang atas asaku yang telah bertuan hanya mengemas cemas dengan rapih tepat di ujung buah nafsuku dengan laki-laki bangsat penjaga gerbang utara. 
Mungkin rengekannya ini mewakili sinisku "jangan lagi kalian datang ke kedaiku prajurit sialan." Sebab, hanya di kedaiku saja yang cuma menjual paku.

Toh, sekarang sinisku telah bermuara pada cemas yang mereka tuang saat masa menjelang kurban sembelih.
Mengapa?

Diary II Janda Pemilik Kedai
12.00 terik.

Telingaku dipecahkan oleh tawa yang menyiratkan setumpuk makna yang sangat mistik.
"Kerumunan rakyat bercadar kumal dan berkasut itu meriuh cibir untuk siapa dan mengapa?"
Hal ini bodoh sekali bagiku yang melihatnya atau aku yang bodoh mengambil kesimpulan yang keliru dari makna tersirat tawa mereka.
Adalagi yang membuatku kembali berdilema perihal celoteh tiga lelaki sampah yang mengemis lara meminta 3 paku.
"Itu mereka, kemarin muka sampah, hari ini dikremasi bengis dan benci! Hahaha!"

Toh, sekarang sinisku kembali bermuara pada cemas yang mereka tuang saat masa menjelang kurban sembelih.
Sekali lagi mengapa?


Diary III Janda Pemilik Kedai

Ratapan wanita-wanita dara dan terbuang memecahkan teduh tidur siangku dengan bekas darah milik prajurit biadab yang dititip 3 tahun lalu.
12 siang setelahnya.
Haha...barangkali tangisan dingin mereka karena diperkosa prajurit biadab halnya aky 3 tahun lalu.
Selanjutnya kecemasan yang menganak menyiksa dan memaksa untuk mengambil cadar dan berlalu memenggal heran.
Sebab untuk tangisan ini beda dengan tangisanku 3 tahun lalu.
12 siang setelahnya.
Haha...barangkali tangisan dingin mereka karena dirajam bersundal halnya niat tentangga untukku 3 tahun lalu.
Oo..
Bukan karena diperkosa atau dituduh bersundal!
Mereka mencerukan derai mata pada kasut Tuan pemilik cawan yang tak kukenal.
12 siang setelahnya.
Haha...barangkali pemuda itu anak wanita-wanita yang meratapinya atau seorang nabi atau Anak Allah. Entahlah.
3 jam setelah heranku termanggu menyiangi jawaban, anak sulung saudaraku Veronika datang dan menceritakan begini..
"Ada seonggok daging tercurah pada pukul 03 sore setelahnya di sembilu tombak.
Entah daging itu berasal dari manusia atau bukan, umumnya tetapi itu daging yang mempunyai Tuan, Tuan yang tanpa tanya atau tanpa elak rela tertegun.
Karena daging menjadi jawaban dari tanya mereka soal apakah memang Dia makhluk pengisi syair para nabi.
Kegenapan syair sudah mendaging dan mendarah pada etalase cekung mata dengan derai air yang akhirnya rindu pada tanah.
Masanya untuk mencicipi debu sudah sirnah pada palang milik makhluk berdebu."

Aku jatuh..
Toh, sekarang sinisku kembali bermuara pada cemas yang mereka tuang saat masa menjelang kurban sembelih.
Sekali lagi mengapa?

Oleh: Alex sehatang
Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Beliau juga merupakan Anggota Komunitas Sastra Sampul Buku, Gabriel-Ledalero.
@Kumbang_Desa
×
Berita Terbaru Update