-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Sabtu, 30 Mei 2020 | 13:43 WIB Last Updated 2020-05-30T07:09:13Z
Apakah Engkau Mengasihi Aku?
Gambar dari google

SENIMAN (Setetes Embun Iman Harian)
Jumat, 29 Mei 2020

"Say...sayang ndak sih sama aku?", "Hanny, bener ndak sih lho cinta ama aku?", " Cin, sayang ndak sih ama aku?" Itulah ungkapan-ungkapan perasaan yang sering aku dengar dari orang-orang yang sedang menjalin relasi atau hubungan dan kepingin melangkah kejenjang yang lebih serius. Tentu saja, jawaban yang dinanti-nantikan dari setiap pribadi adalah "Ya (say... hanny, cin...) aku sayang (cinta) sama kamu". Meski hanya kata-kata sederhana tapi bagi pribadi lepas pribadi itu sangat berarti dan bermakna bagi perjalanan relasi mereka selanjutnya. Dan biasanya mereka akan mengulangi pertanyaan yang sama pada moment-moment tertentu apalagi disaat-saat relasi atau hubungan mereka sedang renggang, hambar, sedang dihadapkan dengan tantangan maupun kesulitan. Intinya hanya satu KEPASTIAN dan KESERIUSAN DALAM MENJALANI HUBUNGAN. Itulah yang diinginkan dan dirindukan. Cinta atau sayang mereka tidak pernah berubah satu dengan yang lainnya. 

Demikian juga dalam injil hari ini, TUHAN YESUS pun menanyakan hal yang sama kepada  Petrus "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku...?" (Yoh.21:15-19). Yesus menanyakan hal ini sebanyak 3 x kepada Petrus. Demikian Petrus menjawab pertanyaan Yesus sebanyak 3 x pula "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau" Pertanyaan yang diajukan oleh Yesus kepada Petrus ini bukan tanpa maksud. Ada maksud dan tujuan Yesus menanyakan hal itu kepada Petrus karena tanggungjawab yang akan diemban Petrus tidak mudah. Sangat berat dan sulit. Oleh kaena itu dibutuhkan KESIAP SEDIAAN, KESERIUSAN dan TANGGUNG JAWAB. Dan Petrus telah menunjukkan hal itu terlepas dari ia pernah menyangkal Yesus sebanyak 3 x.  

Saya yakin bahwa Anda dan Kita tentunya juga saya pernah mengalami hal ini. Entah apapun bentuk panggilannya. Entah masih dalam taraf mana relasi itu bertumbuh. Entah masih sayang atau tidak. Entah masih bersatu atau ditinggal pergi (mati atau bercerai) dan entah-entah yang lainnya. Dalam permenungan saya, ternyata mencintai itu tidak mudah. Mencintai dengan sepenuh hati. Dengan sepenuh jiwa. Dengan sepenuh akal budi dan dengan sepenuh kekuatan. Dengan kata lain CINTA atau KASIH itu 'menuntut' sesuatu dari kita. Menuntut KERELAAN HATI dan PENGORBANAN YANG TULUS. Memang tidak mudah MENCINTAI-MENGASIHI DENGAN TOTAL dan UTUH pasangan hidup ataupun pilihan (panggilan) kita masing-masing tetapi itulah nilai yang patut  dan harus tetap diperjuangkan. MENANGGALKAN ke-EGO-an DIRI menjadi kunci untuk kembali mencintai-mengasihi. 

Setiap hari TUHAN memanggil kita untuk terus menerus memberi rasa terhadap relasi kita apapun itu. Entah relasi suami dengan istri. Orangtua dengan anak-anak. Entah orangtua dengan menantu. Entah sahabat dengan sahabat. Entah guru dengan murid, atasan dengan karyawan. Entah imam dengan umatnya. Entah imam dengan sesama imamnya, suster dengan sesama suster komunitasnya, frater dengan konfraternya dll. Dan yang pasti hal ini tidak mudah. Sangat-sangat tidak mudah mencintai-mengasihi 'dia' yang kelihatan apalagi mencintai-mengasihi 'DIA' yang tidak kelihatan yaitu TUHAN. 

Saat ini dan kedepannya kita akan dihadapkan dengan berbagai macam hal yang tidak terduga. Dan ketika Anda yang menjalani hidup berkeluarga, pasangan Anda menanyakan seperti yang ditanyakan oleh Yesus kepada Petrus "Apakah kami mengasihi A (a) ku...?" maka jawaban Petrus hendaknya menjadi jawaban Anda "Benar, aku mencintai E (e) ngkau". Demikian juga Anda yang menjalani hidup selibat (imam, biarawan-biarwati). Maupun kita sebagai orang-orang yang mengimani Kristus. Masihkah kita setia pada iman kita dan mengasihi TUHAN ALLAH melampaui tawaran-tawaran dunia? TUHAN menunggu jawaban saya, Anda, dan Kita setiap hari.

JANGAN PERNAH JEMU-JEMU UNTUK MENGATAKAN "AKU MENCINTAIMU-MENGASIHIMU" PADA PASANGAN ANDA DAN KEPADA TUHAN.
LAKUKAN SEGERA DAN RASAKAN RAHMATNYA.

Oleh: Fr. Ignasius Wahyudi Paweling (Calon imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta)
×
Berita Terbaru Update