-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Aroma Di Bawah Bantal, Di Tungku Api, Pada Nurani, Kertas Kabar

Jumat, 01 Mei 2020 | 19:57 WIB Last Updated 2020-05-01T12:57:13Z
Aroma Di Bawah Bantal, Di Tungku Api, Pada Nurani, Kertas Kabar
Farijihan Putri

Aroma Di Bawah Bantal

Sisa-sisa hujan sore ini
Tetesannya membangunkan
aroma parfum yang sempat
kutidurkan di bawah bantal

Waktu memangkas jalinan benang
yang kau lilitkan pada urat nadi
Aku menganga, tak wibawa
Kau lena, tak mengaitkannya

Kau pergi meninggalkan selimut yang 
sudah kau cabik-cabik setiap
sudutnya

Hari saling bergantian jaga
Waktu berbeda tetapi sama
Aku tuna entah bagian mana

Lagi pula, setiap aliran darahku
Telah tercemar parfummu yang
menyengat
dan menyumbat panah amor

Di Tungku Api

Lalu lalang tapak kaki petani,
menyapu embun yang berjejer
Sayup suara samaran madah,
menemaniku di perapian rendah

Panas yang menyembul
hangatkan tubuh gigil,
Bertukar diri dengan
tetes hujan yang masuk
melewati celah bajuku

Asap mendulang dari perapian
Ia tanpa intensi atau pamrih
Bertandang ke haribaanmu
Membawa pesan tersirat:
“Bung, kekasihmu benar papa!”

Pada Nurani

Telah berlangsung kegetiran 
Buah kersen yang tak pernah merah
Kini kedapatan merah semerah-merahnya

Asap menabun memicu batuk lelah
Plastik cemar membuahkan jalan buntu
Granat beringas menjerat satwaku
Hari ini 
: mereka merebahkan diri secara sukarela
dan aku beroleh rehat

Dalam teduh sinar damar
Sepanjang jalan tengara kelompang
Layuh menyaksikan roman pilu
Dan aku menemui Sang Maha Kuasa
meminta iba
merapal doa
untuk manusia 

Kulayangkan surat  pada-Nya agar sampai padamu
“Manusia, aku sangat prihatin tentang bala yang menimpa.
Tapi, ketahuilah segala doaku untuk sembuhmu.
Dengan penuh harap, terimalah ketulusanku.
dan mari bersahabat teguh.
Tertanda,
Sahabatmu, Bumi”

Cov, Suatu Penyesalan

Dalam ranum bumi yang bersolek
Aku gelap mata:
menyembah sampah plastik
mendewakan limbah pabrik
memenggal pangkal hutan
termengah-mengah berburu
korup dan keji: serupa itu tabiatku

Di hari gerun penuh resah dan rusuh
Jutaan manusia di bumi luruh
Berpulang tanah serentak-seiring
lalu ketua mendikte: Di Rumah Aja!

Tapi aku tak hirau, Cov!
Aku semakin khitmad berburu
Bertandang ke pasar gelap menemui orang asing
untuk meruap rupiah hingga tumpah ruah

Di hari gerun penuh resah dan rusuh
Jutaan manusia di bumi luruh
Tubuhku berangsur-angsur lintuh
Sekejap saja, Cov!
Badan menggelugut dan kupaksakan memanggil taksi
dengan gontai tanpa kesadaran genap
dapatlah terasa ketenangan jalan yang kulewati
lain, tidak dengan hati kemelut terbayang
kerusakan bumi oleh tangan yang terkutuk

Pagi penuh remang jalanan tenang
Melebur dalam ragaku, kau datang
mencabik-cabik darah busuk
napasku usai dan hidupku langsai ,Cov!

Kusaksikan tubuh beku dibalut kain kafan
Diantar dengan sangat hati-hati ke pemakaman
Sontak aku meradang-berang
Iring-iringan itu dihadang:
koloni Covid adalah petaka!

Melihat tontonan mengerikan itu
Bumiku yang ramah beringsut marah
Ia tak pernah dendam meski aku kejam
Kediriannya rendah hati:
Memberikan apa saja
Menerima siapa saja

Seumpama berlaku yang kedua
Bumiku yang malang akan kutimang
Tapi sekarang ,Cov
Cukuplah kau menjadi saksi mata
Sebuah penyesalan yang paripurna

Kertas Kabar

Apollo…
Sesungguhnya, sejak hari nahas
Aku ingin jujur tentang segala yang tidak pas
Baiklah, Apollo. Aku mulai saja:
“Sejak Lelo, adikku yang malang datang ke dunia,
Bapakku tidak pernah kembali, alias minggat.
Sungguh, menurut cerita, emak hampir sekarat.
Wah, ya jelas. Seisi rumah kocar-kacir.
Demikianlah, semenjak itu emak suka naik darah.
Setiap pagi, emak mengayuh sepeda ke mbok Warmi,
Emak melakukan apa saja; nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika.
Sampai di rumah sendiri, emak mengulang semuanya.
Ya, semua yang ia lakukan di rumah mbok Warmi.

Kau tau, Apollo…
Aku dan Lelo ora kopen
Maka aku mengambil inisiatif
Aku membuat Lelo menangis,
berebut barang apa saja,
saling menjambak rambut dan berbuat onar.
Ternyata manjur, aku dapat perhatian emak.
Aku disiram dengan air, dan
tidak jarang kepalaku njebur kolam
Ah, yang lebih menakutkan?
Ada Apollo, tengah malam!
Aku diseret keluar dan pintu dikunci dari dalam
Tetapi, itu semua tidak membuatku jera,
aku mengulanginya.
Ternyata emak jemu dan menitipkanku pada embah.
Ia bilang mau menyusul bapak.
Tetapi ini sudah 10 tahun sejak emak pamit.
Sepertinya, emak mengikuti jejak bapak, minggat.”
Cukuplah Apollo kau mendengar kisahku
Baiknya, sekarang aku menemui Hermes
Hermes, aku titip pesan untuk emak:
“Mak, aku tidak nakal lagi.
Aku mencintai Lelo juga Embah.
Lelo si anak malang.
Panas badannya suka mengigau:
Mak, cepat pulang.”

Biodata

Farijihan Putri, biasa dipanggil Jihan. Lahir di Pemalang, 18 Mei 1999. Penggiat Komunitas Sastra Pemalang “Kidung Pena” ini adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Selain menulis, organisasi adalah kesibukannya yang lain. 

Surel : farijihan.putri@gmail.com
Instagram : @farijihanputri
Twitter : @garamdapurrr
No.Hp/WA : 0895377080441
×
Berita Terbaru Update