-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AS DILANDA KERUSUHAN

Minggu, 31 Mei 2020 | 21:03 WIB Last Updated 2020-05-31T14:07:55Z
AS DILANDA KERUSUHAN
Ilustrasi: google

Melengkapi penderitaan yang sedang mereka hadapi. Seperti diketahui korban meninggal COVID 19 di AS sudah melampau dua perang dunia & perang Vietnam. Lebih dari 100.000 jiwa. Kemudian jutaan orang kehilangan pekerjaan. Mereka harus menghidupi keluarganya. Membayar tagihan-tagihan. Orang kulit hitam, juga etnis-etnis lainya terwakili di antara para korban krisis, baik secara epidemiologis maupun ekonomi. Kerusuhan rasial hari-hari ini mengkonfirmasi hal itu.

Dengan tatanan yang dibangun di atas, individualisme, saya menduga AS akan kesulitan menemukan recoverynya. Pertama, pandemi yang mensyaratkan social distancing akan menghadapi ide kebebasan. Kedua, ekonomi, menunjukan krisis kapitalisme sudah pada tahapan akhir dan membutuhkan solusi yang lebih baru dan fresh.  

Terkait ekonomi, sejak Bush & memasuki Clinton, penjelasan lain untuk apa yang sedang terjadi telah diajukan. Teori Kenneth Rogoff tentang overhang hutang, Robert Gordon tentang headwinds sisi penawaran, Ben Bernanke tentang glut of savings, & Paul Krugman tentang perangkap likuiditas. Lantas stagnasi sekuler Larry Summer yang menawarkan laporan tentang situasi dan dasar untuk resep kebijakan. Macam-macam dan banyak lainnya. Tentu anda dapat melengkapinya. Semua memiliki validitas.

Bagi kita terpenting dapat menyimpulkan dan mengambil pelajaran. Pertama, bel perubahan telah berdering. Bukan dari oposisi, tapi dari sistem yang mulai bangkrut. Saya kira perlu dipercepat program yang berkaitan langsung dengan penguatan kapasitas produksi. Pembaharuan agraria, proposal pada koperasi serikat pekerja terkait organisasi produksi diluar pabrik. 

Kedua, waktunya memelihara semua skenario. Dalam situasi ekonomi yang dualistik, pertanian-industri, desa-kota, segera dicari alternatif perlindungan sosial disatu sisi, menggerakkan ekonomi produksi sisi lainnya. Salah satunya dengan menambah aktor ekonomi diluar negara & pasar. Masyarakat sipil yang mengorganisir diri secara sosial-ekonomi mesti diajak duduk kembali. Jelas kita lebih butuh kelompok ini dibanding ADARO atau KPC.

Ketiga, dalam konteks politik, perlunya berpaling dari pusat ke daerah. Kepemimpinan daerah menjadi prioritas terutama guna mendekatkan pada platform regulasi dan intervensi. Realistis pada jangkauan tangan pemimpin yang dapat merangkul kita. Mungkin, kalau beruntung, pasca ini kita punya tipologi baru.Federalisme ekonomi.

Oleh: Wisnu Agung Prasetya
×
Berita Terbaru Update