-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ASBAK (Cerpen Chan Cetu)

Sabtu, 30 Mei 2020 | 23:49 WIB Last Updated 2020-05-30T16:49:47Z
ASBAK (Cerpen Chan Cetu)
Ilustrasi: google

Selagi pagi belum jatuh dan embun belum pergi. Jangan kau bangunkan aku dengan aroma kopi yang kau rangsangkan pada hidungku. Sudah cukup, tiap pagi gaduh membuat kita jadi ribut dan pecah terpelanting. Jika, kau memiliki kesempatan membawa pergi pagi ke dalam tungku api. Kuberi kebebasan padamu untuk bercermin dan memperias wajahmu secantik mungkin. Biar tak laku ataupun tak ada yang tertarik “kau tetap ingat, aku masih selalu ada meskpin kau tak pernah tahan dengan aroma tubuhku. Bukan saja pada tangan dan baju yang kukenakan tapi seluruh bagian tubuhku. Aroma dupa kematian yang semakin dekat. Aroma khas yang tak bisa pergi dengan wewanggian toko yang saban hari pernah kau belikan. Sudah cukup semuanya. Andai kata kau tak ingin bercinta denganku di atas ranjang pernikahan kita. Katakan saja, nanti dengan senang hati aku meladeni malam dengan bercinta pada ubin-ubin kaki kita yang lupa di sapu selepas pagi pun sepergi senja. 

Debu itu telah jadi keluargaku. Mungkin kelak, anak-anak kita akan menyatuh atau mereka akan mengambil kemojeng dan membiarkan jari-jari mereka memainkan melodi – menghapus jejak debu dari ayah dan ibunya, yang lupa untuk saling merias. Kau tahu itu, semoga kau ingat itu dengan baik-baik. “Ucap, Yanti sehabis wangi sabun Lux bertabrakan dengan aroma abu dan debu malam pada tubuhku.”

Casino, jika begini kelakuanmu tiap harinya, aku bersumpah: “tak ada malam yang panjang untuk dirayakan. Bahkan kau asyiknya menyulut bibirmu membiarkannya berciuman mesra dan membuatku jadi sendiri dan cemburu. Kau tak tahu, telah berkali-kali kau membuatku jatuh cemburu denga lesuh. Muka padam, rambut jadi keruh, bibirku jadi mati rasa, tubuhku tak benar-benar hangat, semuanya karena caramu menciumnya dengan mesra dan mengabaikan kerinduanku yang berulang kali, pecah berserakkan ke seluruh penjuru rumah kita. Casino, aku ingin lari. Lari dari caramu membuatku cemburu. Aku ingin pulang. Pulang ke rumah tanpa membawa sepeser pun rupiah dari dompetmu bahkan aku ingin pergi tanpa busana dan shelai pakaian pun pada tubuhku. Kau tahu kenapa? Karena aku tak kuat melihatmu bercinta dengan debu dan aku, aku jadi pelarianmu, membuang semua keogah-ogahanmu, keangkuhanmu, kelirihanmu, kekesalanmu, dan perkelahianmu. 

Namun, aku di sini. Masih se-rumah denganmu. Bukan karena batinku tahan dengan cemburu yang timbul dari tingkahmu. Bukan pula karena uang yang kau sisipkan kepadaku setiap harinya  bahkan setiap detik, menit dan jam itu. Bukan pula karena rumah yang kau sediakan dengan tangga yang kokoh – mewah ini. Melainkan karena aku tak tahu cara memarahimu dan meladenimu untuk diam biar sehari membiarkan kita saling berbisik dan bercinta dari pada kau membiarkan aku jadi tong-tong sampah dari rasa bahagiamu yang telah luka –bernanah pada diriku. Casino, aku diam karena aku ingin menjadi istrimu yang setia. Biarpun kau membiarkan aku cemburu di bawah matamu sendiri. “tangis Yanti, tetap diam sambil membiarkan Casino, suaminya menjatuhkan curahan hatinya.” 

                                                                               *****
Pagi itu matahari benar-benar jatuh di atas atap rumah mereka. Menyambar silau siluet fajar dari cahaya seng-seng rumah. Di bawahnya embun kesakitan. Pergi dan pulang dengan ujung yang tak tahu berujung. Sedang di dalam rumah petak itu, ada seorang pria yang sedang bermadu kasih. Membiarkan istrinya tidur nyenyak di samping tungku api. 

“Mana kopi pagiku?” Ucap Casino kepada istrinya.
“Yanti, mana kopiku.” “Kau membiarkan pagi pergi begitu saja dan rasaku mulai tawar. Dan aku tak bisa lagi memungut helai-helai kata dari koran pagi yang baru saja dihantar oleh pegawai harian.” Teriak Casino, dari tempat ia bercinta. 

Yanti, istrinya tak menjawab. Membiarkan diam pada tubuhnya untuk menghapus air mata yang harus selalu jatuh tiap harinya. Casino, kau membuatku menjadi mati. Kau bahkan menjadi lupa dengan segaja untuk melupakan atau bahkan kau berpura-pura. Bukankah, kau membuatku pilihan untuk tidak membiarkan aroma kopi merangsang hidungmu setiap pagi? Dan untuk itu, aku memilih membiarkan amarahmu berkelahi di atas percumbuan manjamu. “Batin, Yanti.” 

Sedang Yanti merias dirinya dan mempercantik tubuhnya yang sama sekali tak tersentuh itu. Casino, suaminya memberi jeda pada ciuman manjanya. Menghampiri, tempat rias Yanti sambil sedikit berbicara dengan sungut-sungut “Kau, seperti orang tuli yang kehabisan pendengaran. Pun kau seperti orang bisu yang kehabisan akal untuk berbicara.” Kau membuatku jadi ribut dengan diammu. Jika memang, kau tak ingin membuatkan aku segelas kopi pagi ini, katakana saja. Aku pun mengerti, bibirku juga tahu cara merawat rasa yang penuh kenangan. Aku pun mengerti, bahwa tanganku juga tahu cara terbaik menakar takaran pada setiap pagi. Karena, dia yang kucumbu pun tahu bagaimana caraku menikmati desahan nafasnya dengan aroma kopi ini. Nantinya.” Ucap, Casino dengan nada lebih tenang bahkan tak ada nada amarah sedikit pun dari ucapannya itu.”

                                                                          ******
“Yanti, bolehkan malam ini aku bercinta denganmu?” Tanya Casino, ragu.
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun pernikahan di antara mereka, Yanti mendengarkan ucapan dari Casino, suaminya. Yanti, kebingungan mau menjawab apa. Antara haru, senang dan bahagia bahkan kesal saling nimbrung dalam rasa bingungnya itu. 

“Ya, kalau pun kau tak mau tidak jadi soal bagiku. Mungkin, kau juga butuh waktu untuk mengiyakan pertanyaanku itu. Dan aku pun tahu, kau tak semudah itu untuk mengiyakan permintaanku. Sebab, lukamu masih bernanah dan aku sadar air matamu jatuh setiap harinya akibat rasa cemburu yang kutimbulkan dengan senang hati dan sesuka hatiku. Bahkan di mana dan kapan pun aku mau. Air matamu jatuh, dan kau lupa bahwa cangkir yang selalu kau putarkan kopi untukku itu, selalu asam terasa oleh lidahku. Dan aku jadi resah, mungkinkah aku begitu egois mengabaikanmu?” lanjut, Casino. 

“Ya.” Jawab Yanti, seketika. Saling bersamaan dengan kalimat akhir Casino, suaminya. 
Malam itu, malam minggu. Malam yang panjang dengan lampu taman yang padam. Di atas kepala mereka. Sedang ada cahaya yang begitu setia menerangi jalan dari puluhan, ratusan hingga ribuan manusia yang memiliki hobby keluar malam. 

Yanti, telah mempersiapkan segalanya. Mulai dari kamar tidur yang mula-mula berantakan mulai dirapihkannya. Kasur yang berdebu telah dijemurnya siang tadi. Sprei-sprei yang berdebu dan noda yang menempel telah diantarnya ke laundry. Lantai-lantai ubin yang abu dan berdebu telah dibuangnya pergi dengan alat penghisapnya. Pakaian-pakaian yang berhamburan di atas meja, lemari dan di dalam lemari, di lantai dan di mana saja di dalam kamar itu telah dirapihkan dan dibereskan dengan baik. Yang dipikirkan Yanti, hanyalah bercinta dengan suasana yang baru. Bercinta dengan mimpi akan anak-anak yang saling berkejar-kejaran di depan teras, bercinta dengan aroma baru dari kesegaran yang telah lama dilupakan. Ingat sepuluh tahun itu waktu yang cukup lama. 

Sedang, Yanti telah mempersiapkan semuanya untuk sebuah malam yang panjang. Casino, masih dalam rutinitasnya membuat setiap cumbuan itu mendesah dan bertebaran di sepanjang rumah. Cemburu itu hampir pergi dari hati Yanti, istrinya. Sebab yang Casino pikirkan hanyalah meladeni cinta yang tak ingin diraut selepas keriput memungut malam menjadi kejam. 

Pukul. 21:30 WITA

Yanti, berbaring dengan pasrah di atas ranjang yang telah wangi bermandikan molto. Dengan tubuhnya penuh rindu untuk disentuh pun hasrat yang belum juga pulang bergetaran sejak siang tadi. Casino, suamiku. Marilah, ranjang ini telah siap untuk malam kita yang panjang ini. “Ucap, Yanti di atas ranjang mereka.” 

Tak ada kata pun tak ada rasa. Casino masuk dengan wajahnya yang sedikit datar tanpa memberikan apresiasi atas seluruh kamarnya yang mulai rapih tertatah khususnya atas persiapan Yanti, istrinya itu. Diam yang mula-mula hangat, menyambar mesra kekikukkan di antara mereka. Diam yang mula-mula damai itu tak lama telah pergi bergantian bukan dengan deruh desahan nafas namun dengan desahan kata-kata panjang yang keluar dari Yanti. Kata-kata kesal, kata-kata kecewa, kata-kata makian bahkan kata-kata diam yang sulit dimengerti. Semuanya lebur – bercambur keinginan untuk benar-benar pergi dengan cinta yang mati di atas ranjang itu. Casino meninggalkan dia begitu saja dan pergi membawa selimut malam ke ruangan istrinya dan tak ingin lagi bercinta dengan siapa-siapa selain isterinya, Maria. Itulah sang pujuaan hati yang ia jumpai duapuluh tahun yang lalu saat masa remaja yang begitu romantis menemukan mereka dengan ikatan pernikahan di atas Altar suci. 

Pada pukul 21:30 WITA, akhirnya Casino berkata “Aku tak pernah menyadari, antara aku dan puntung yang kau sisihkan di dalam ini, penuh dengan bekas-bekas bibir yang tak pernah sikat gigi. Sedang kau pun tak pernah membayangkan beberapa kali aku selalu ingin gaduh. Biar ribut meledak di antara ruangan kamarmu. Kau bilang puntung-puntung yang kau cumbui itu nikmat namun aku pernah mengajaknya berkencan tetap saja semuanya gagal. Apa mungkin karena sepuluh tahun itu waktu yang cukup lama bagiku berpisah denganmu?

“Yanti, asbakku yang kusayang maafkan aku. Aku tak kuat lagi mengajakmu bercinta atau sekadar berkencan sehari saja. Maafkan juga untuk rasa cemburumu yang begitu panjang atas percumbuanku dengan Maria. Sebab, aku tak ingin mati muda di hadapan Maria yang begitu suci.” Pesan Casino, malam itu. Dan, maafkan aku atas nama yang kuberikan padamu, Yanti. Bukankah, kau hanya asbak dari kekasihku sepuluh tahun sebelum duapuluh tahun ini aku telah meninggalkanmu? Jika itu benar, saat ini kita telah berpisah di usia waktu tigapuluh tahun. Bukankah itu cukup lama?

Nitapleat, 2020.
Ruang kopi – imajinatif 

Tentang Penulis

Oleh: Chan Setu 
Penulis adalah Mahasiswa Semester III pada STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat – Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Penikmat kopi pahit dan sering membaca usianya sendiri. Penulis dapat dihubungsi melalaui fb Pirres Setu, WA: 082236035772 dan Email: frchan45@gmail.com.
×
Berita Terbaru Update