-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“Berdamai” Dengan Corona: Masalahnya Di Mana?

Jumat, 29 Mei 2020 | 00:42 WIB Last Updated 2020-05-30T03:39:53Z
“Berdamai” Dengan Corona: Masalahnya Di Mana?
Pater Tuan Kopong, MSF

“Mereka yang berperang dengan orang lain (suka nyinyir) adalah yang tidak berdamai dengan diri mereka sendiri”. (William Hazlitt, penulis dari Inggris, 1778-1830).
Hanya di jaman pak Jokowi, setiap pernyataan Beliau selalu dianggap salah dan menjadi “bully” oleh oknum kelompok dan orang yang memang selama ini tidak suka dengan pak Jokowi.

Kita contohkan saja ungkapan mudik dan pulang kampung. Tidak ada masalah tapi menjadi masalah bagi mereka yang sakit hati karena pak Jokowi menjadi presiden RI  dua periode mengalahkan pujaan mereka (2-0). Dan sekarang dengan pernyataan Beliau soal berdamai dengan covid. Bahkan mantan Wakil Presiden pada periode pertama pak Jokowi, juga ikut mempersalahkan ungkapan “berdamai” dengan corona tersebut.

“Kurang pas sebenarnya. Karena damai itu harus kedua belah pihak. Tidak ada perdamaian bagi mereka. Bahwa you bisa kena, bisa mati," ungkap JK (https://www.merdeka.com/trending/jokowi-ajak-berdamai-dengan-corona-jk-beri-komentar-you-bisa-kena-bisa-mati.html).

Saya heran; sebagai mantan wakil presiden, kok sedemikian sempit pemikiran hingga ungkapan yang sebenarnya tidak ada masalah dijadikan sebagai masalah. Yah saya bisa memahami bahwa kesempitan berpikir ini tidak serta merta sebagai hasil dari kecerdasan kritis tetapi adalah buah psikologis dari kekecewaan atau sakit hati apapun alasannya.

Ungkapan “Berdamai” tidak bisa dilihat dari satu aspek saja yaitu dari sisi manusia semata yang memiliki konflik di mana ada pengakuan kesalahan dan kesediaan untuk berdamai. Dalam proses pembinaan kepribadian; ungkan “berdamai” ini juga sering digunakan misalnya “memaafkan (berdamai)” dengan masa lalu yang kelam untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun masa depan yang lebih baik dan ada pertobatan atau perubahan sikap serta mentalitas dari yang buruk menjadi lebih baik. Artinya menerima kenyataan kondisi di masa lalu agar tidak dihantui ketakutaan, perasaan bersalah, minder dan trauma tetapi menemukan cara atau jalan keluar untuk memperbaiki dan menyembuhkan pengalaman masa lalu atau yang biasa disebut pengalaman luka bathin.

Dalai Lama XVI (pemimpin spiritual Tibet) mengatakan;  “Kita tidak akan bisa memperoleh kedamaian di dunia luar hingga kita berdamai dengan diri kita sendiri”. 

Ungkapan “berdamai” adalah bahasa peneguhan, bahasa harapan seperti ketika kita meneguhkan mereka yang sedang sakit; “sabar ya, yang tabah dan kuat ya”. “Terimalah dan jangan menolak sakitmu”, tetapi “terima, pasrahkan pada kuasa Tuan dan berjuang bersama untuk kesembuhanmu”.
Artinya ungkapan “berdamai” adalah ungkapan untuk “menerima” kenyataan sakit yang dihadapi seperti situasi covid hari ini. Menerima namun tetap memiliki harapan dan iman untuk sembuh, bersama berusaha untuk kesembuhan dan keselamatan bersama.

Di sisi lain ungkapan “berdamai” dengan covid adalah pernyataan untuk menciptakan situasi damai bagi sesama, menerima dan menguatkan mereka yang terpapar (bukannya menolak dan mengucilkan) termasuk memberikan kedamaian bagi para dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya agar tetap semangat berjuang menyelamatkan jiwa-jiwa. Maka meskipun ada dendam dan sakit hati pada pak Jokowi, pikiran dan kecerdasan jangan sampai dibodohi oleh dendam dan sakit hati sendiri. Karena ketika itu terjadi maka setiap niat baik dan pernyataan yang tidak masalah selalu menjadi masalah.

Kiranya ungkapan bijak William Hazlitt (penulis dari Inggris, 1778-1830) bisa sedikit mencerahkan mereka yang selalu nyinyir atas apapun yang baik yang dikatakan dan dilakukan pak Jokowi;
“Mereka yang berperang dengan orang lain adalah yang tidak berdamai dengan diri mereka sendiri”.

Manila:27-Mei-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update