-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Engkaulah Segalanya (Pater Oceph, MSF)

Minggu, 31 Mei 2020 | 12:32 WIB Last Updated 2020-05-31T05:32:03Z
Engkaulah Segalanya (Pater Oceph, MSF)
Engkaulah Segalanya (Pater Oceph, MSF)-Ilustrasi: google

Bisa jadi, ketika seorang asing yang menabrak kita dan menyodorkan tangan untuk minta maaf, kita spontan mengulurkan tangan untuk memaafkan dia, sambil membelai tangannya. Ketika orang yang tak dikenal tanpa sengaja menginjak kaki kita lalu berkata, 'Saya tidak sengaja,’ kita langsung menjawab, ‘Tidak apa-apa,' sambil memberi senyum terindah.

Ketika orang lain memperbaiki kesalahan yang kita buat atau mengingatkan kita, dengan sabar kita menerima perbaikan dan mengucapkan berlimpah syukur, sambil memeluknya. Ketika orang yang tidak dikenal membayar sepiring nasi yang kita makan di warung, tak henti-hentinya kita mengucapkan ribuan terima kasih, sambil berfoto ria.

Tapi bagaimana dengan orang dekat; anggota keluarga, dia yang memasak setiap hari, yang selalu memberi senyum, yang makan semeja dan tidur seranjang, yang mencari uang, yang melahirkan anak-anak, yang membela saat orang lain menghina, yang menyediakan bahunya untuk bersandar,  yang air matanya menetes karena kita, yang rela mati demi kita?

Adakah maaf, senyum, belaian, pelukan, syukur dan terima kasih kita katakan secara spontan ketika mereka menyodorkan, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, mengingatkan kita atau memasakkan makanan kesukaan? 

Kadang terjadi! Ketika orang yang kita kasihi berbuat keliru, kita mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati, bahkan mungkin diam-diam kita mengusirnya dari hidup kita. 

Ketika orang dekat mengingatkan kesalahan, kita tidak sabar dan mengumpat kasar. Tak mau dengar. Tak ada lagi senyum. Yang ada adalah dendam dan tidak bertegur sapa. Ketika anggota keluarga meminta waktu atau sekadar dipahami, segera kita marah, bersumpah serapah, berkelahi atau lari dari kenyataan. Tak ada lagi pelukan.

Mengapa kita mudah memaafkan orang ‘asing’ tapi sukar memaafkan orang ‘dekat’? Mengapa kita bisa memberi senyum pada orang lain tapi cemberut dengan orang yang mengasihi kita?

Ingatlah, orang yang kita cintai, anggota keluarga atau orang dekat adalah ‘segalanya’ buat kita. 'Segalanya' yang membuat kita ada dan bernilai. ‘Segalanya’ yang membuat kita merasa berharga. 'Segalanya' yang membuat kita merasakan cinta. 'Segalanya' yang membuat kita ada. ‘Segalanya’ itu adalah cinta.

Karena cinta, mereka ada ketika ada yang menyakiti atau tidak menghargai kita. Karena cinta, mereka ada ketika ada orang menginjak harga diri kita. Karena cinta, mereka ada ketika orang lain menyalahkan kita. Karena cinta, mereka ada ketika orang lain melupakan kita.

Kalau dengan orang asing saja, kita langsung menyodorkan tangan untuk memaafkan atau minta maaf. Kalau dengan orang baru saja, kita spontan mengucap syukur dan terima kasih. Lalu, bagaimana dengan orang-orang dekat?

Kadang kita lupa bahwa mereka juga manusia. Mereka punya salah. Mereka bisa berkata kasar. Mereka bisa khilaf. Mereka juga tidak sempurna. Tapi cinta mereka selalu ada.
Lalu satu kesalahan saja membuat kita mudah lupa dengan banyak kebaikan dari orang-orang dekat. Kita sering tidak sadar berterima kasih atas kebaikan mereka. Kita sering lupa memberi senyum atau pelukan. Kita gampang mempermasalahkan hal-hal kecil dan tidak penting, sehingga melupakan hal-hal besar dan bernilai, karena kita merasa benar dan mereka salah.

Orang lain mungkin ada bersama kita sekarang, tapi kita tidak pernah tahu besok apakah mereka masih ada. Hari ini mereka tersenyum, tapi bisa jadi mereka menunggu saat untuk menikam dari belakang. Satu yang pasti; kemarin, hari ini dan besok, orang-orang dekat akan selalu ada, memegang pundak kita dan berkata, ‘Engkaulah segalanya'.

Pater Oceph, MSF
×
Berita Terbaru Update